Kiai Chalwani Sampaikan Belajar Agama Harus Jelas Sumbernya

0

BEKASI – Pengasuh Pondok Pesantren an-Nawawi Berjan, Purworejo KH. Achmad Chalwani Ahad malam (13/1) menghadiri Maulidurrasul Muhammad SAW dan Manaqib Syekh Abdul al-Jailani (qs) di Jatibening, Bekasi.

Acara yang digagas Majelis Dzikir an-Nawawi dihadiri bukan hanya masyarakat sekitar namun juga dari berbagai daerah di Jabodetabek. Kiai Achmad Chalwani adalah Mursyid TQN Berjan, murid-muridnya  tersebar di berbagai daerah dan luar negeri.

Sebelumnya Kiai Chalwani memenuhi undanganTemu Himpunan Alumni Nawawi Berjan (Himawan) di Bogor.

“Guru tarekat yang mengembangkan ajaran Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah adalah Syekh Ahmad Khatib Sambas, Kalimantan Barat. Beliau mempunyai empat murid yang menjadi ulama besar,” ujar Mbah Chalwani.

Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah menyebutkan yang pertama Syekh Abdul Karim Banten, makamnya ada di Ma’la Mekah. Selanjutnya adalah Syaikh Nawawi Banten, yang merupakan keponakan dari Syaikh Abdul Karim. Keduanya masih keturunan Sultan Ageng Tirtayasa.

“Yang ketiga adalah Syekh Tolhah Kalisapu Cirebon. Dari jalur beliau berkembanglah TQN oleh penerusnya Syekh Abdullah Mubarak yang dikenal dengan Abah Sepuh, Pesantren Suryalaya. Dan yang terakhir adalah Syekh Kholil Bangkalan, Madura,” katanya.

Mbah Chalwani mengingatkan untuk belajar agama harus jelas mengambil sumber dari siapa. “Maka mengambil ilmu agama harus jelas kepada siapa mengambilnya. Jangan asal ambil. Ilmu dari internet hanya sebatas tambahan pengetahuan, jangan dijadikan sebagai dasar pijakan,” sambungnya.

Pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari belajar ilmu syariat kepada Syekh Kholil Bangkalan. Sedangkan untuk ilmu tarekat mengambil dari Syekh Mahfud Termas, Pacitan. (idn)

Comments
Loading...