Kiai Chalwani: Keindahan Islam Dalam Kehalusan Bukan Kekerasan

Kebumen – KH. Achmad Chalwani, Mursyid TQN Berjan setelah membuka pelatihan Dakwah Transformatif kemarin, Selasa (18/12) di pondoknya an-Nawawi mengunjungi Kebumen untuk menghadiri haul Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (qs).

Reporter JOL Nugraha yang turut mendampingi menyampaikan ada dua acara yang didatangi Kiai Chalwani; di Pejagoan dan Gombong Kebumen.

Kiai Chalwani menceritakan kisah lahirnya Tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (qs), masa saat merantau ke Baghdad untuk belajar dan awal Syaikh memberikan ceramah kepada ribuan orang.

Menurut Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ada pembelajaran yang menarik saat Syaikh Abdul Qadir meninggalkan rumahnya untuk belajar ke Baghdad. Syaikh yang saat itu masih remaja menerima bekal 40 dinar peninggalan ayahnya.

Sang ibu menempatkan uang itu di bawah ketiak baju Syaikh lalu dijahitnya. Ibunya berpesan agar jangan pernah berkata dusta dalam segala keadaan.  Dan Syaikh mengiyakan untuk menepati janjinya.

Saat dalam perjalanan menuju Baghdad bersama rombongan kafilah dagang, di suatu tempat datang segerombolan perampok. Singkat cerita semua anggota rombongan dirampok habis-habisan, kecuali Syaikh karena masih remaja dan dianggap miskin oleh salah satu penyamun.

Saat Syaikh ditanya apa yang dimiliki dirinya, ia mengaku mempunyai 40 dinar. Sang penyamun tidak memercayai dan meninggalkannya. Saat menyampaikan kejadian itu kepada kepala perampok, bentakan yang diterima anggotanya karena tidak memeriksa untuk membuktikan ucapan Syaikh.

Akhirnya Syaikh dipanggil menghadap kepala perampok. Syaikh membuktikan bahwa memang mempunyai 40 dinar yang dijahit di bawah ketiak bajunya.

Kepala perampok bukannya senang namun terpesona dengan kejujuran Syaikh. Syaikh mengatakan jika ia telah berjanji kepada ibunya untuk selalu berkata jujur dalam setiap keadaan. Sontak kepala perampok menangis lalu jatuh terduduk di kaki Syaikh.

Selanjutnya kepala perampok mengikrarkan tobat, menyesali perbuatannya. Seorang remaja dalam keadaan gawat tidak berani melanggar janji pada ibunya, sedangkan ia selama ini selalu melanggar perintah Tuhan.

Akhirnya seluruh anak buah kepala perampok ikut bertobat lalu mengembalikan hasil rampokan kepada kalifah. Dan mereka kembali menjadi masyarakat biasa mencari nafkah dengan halal dan jujur.

Dalam penutupnya Kiai Chalwani mengingatkan keluhuran akhlak Syaikh Abdul Qadir lah yang membuat banyak orang mengalami perubahan.

“Banyak non muslim yang menjadi muslim karena akhlaknya. Keindahan Islam dalam kehalusan bukan kekerasan,” tutupnya. (idn)

 

Comments
Loading...