Connect with us

Artikel

Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara

Published

on

Shalawat dan Keutamaannya

Sebelum Islam masuk ke wilayah Melayu Nusantara, khazanah keilmuan yang terekam dalam berbagai naskah hingga manuskrip masih dipengaruhi oleh budaya non-Islam. Naskah dan manuskrip yang ditulis pada daun lontar, bambu, kulit kayu tersebut pada umumnya ditulis oleh para pujangga untuk kepentingan kerajaan. Di antaranya berisi tentang adat, kebiasaan, mantera, doa, ajaran kepercayaan, hingga tentang budi pekerti. Namun kondisi khazanah keilmuan mulai berubah setelah Islam masuk pada abad ke-XIII M. Akulturasi budaya lokal dan Islam pada gilirannya, mempengaruhi corak dan ragam pengetahuan yang terekam disejumlah media penyimpanan, semacam naskah atau manuskrip. Kandungan atau isinya terdiri dari pelbagai disiplin ilmu agama, sesuai dengan misi para pendakwahnya.

Dari beberapa periode sejarah masuknya Islam di Nusantara beberapa abad, terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan naskah ulama Nusantara yang menghimpun berbagai macam pengetahuan. Diantara ilmu kalam (teologi), politik, fikih, filsafat, tasawuf, hadist, tafsir, tata negara, hingga pengetahuan sosial kemasyarakatan. Selain menulisnya dengan bahasa Arab, sejumlah ulama juga menggunakan bahasa yang dipakai penduduk setempat. Misalnya ulama Sumatera menulisnya dengan bahasa Melayu, ulama Jawa dengan bahasa Jawa Pegon, dan ulama Bugis dengan bahasa Bugis. Begitu juga dengan ulama lain yang berasal dari Sunda, Banjar, hingga Nusa Tenggara. Salah satu ulama yang disebut-sebut mengawali menulis manuskrip kitab berbahasa lokal Melayu klasik adalah Syaikh Nuruddin Al-Raniri (1054 H./1644 M.). Nama kitabnya As-Shirath Al-Mustaqim, kitab fikih mazhab Imam Syafi’i. Kitab ini dipercaya sebagai yang terlengkap dalam bahasa Melayu beraksara Arab/Jawi dan sangat legendaris dalam sejarah keilmuan Islam di Nusantara. Syaikh Nuruddin berasal dari Ranir atau Rander, Gujarat India. Beliau datang ke Aceh pada tahun 1637 dan mengajar di Kesultanan Aceh, serta didaulat menjadi mufti dan penghulu kesultanan pada masa Sultan Iskandar Tsani yang memerintah pada 1636-1641M. Al-Raniri dalam menyusun karyanya, merujuk pada sumber kitab fikih mazhab Imam Syafi’i. Diantaranya Minhajut Thalibin, dan Manhaj Thullab.

Tradisi intelektual Al-Raniri kemudian dilanjutkan muridnya, Syaikh Abdul Rauf Al-Singkili (1074 H./1663 M.). Beliau menulis kitab fikih mazab Imam Syafi’i yang diberi nama Mir’at Al-Tullab fi Tashil Ma’rifah al-Ahkam al-Syar’iyah li al-Malik al-Wahhab. Kitab ini disebut terlengkap kedua setelah kitab fikih Al-Raniri sekaligus sebagai penyempurna dan pelengkap. Kitab Mir’at Al-Tullab berisi kajian lengkap tentang fikih muamalah menurut madzhab Syafi’i dan menjadi rujukan utama undang-undang perdata dan pidana Kesultanan Aceh.Tradisi intelektual Syaikh Abdul Rauf Singkili dilanjutkan muridnya, Syaikh Faqih Jalaluddin Aceh dengan menulis kitab Umdah Al-Ahkam yang berbahasa Melayu Klasik. Selanjutnya muncul generasi berikutnya, yaitu Syaikh Arsyad al-Banjari yang mengarang kitab Sabil al-Muhtadin, juga berbahasa Melayu Klasik dan Syaikh Dawud Pattani dengan kitab Sullam al-Mubtadi berbahasa Melayu. Sebelumnya, pada tahun 1603 M., kitab Taj Al-Salatin juga selesai ditulis, ketika kesultanan Aceh dipegang Sultan Sayyidil Al-Mukammil (1588-1604 M.). Kitab berbahasa Melayu yang bermakna Mahkota Segala Raja-Raja ini karangan Bukhari Al-Jauhari. Ada yang menyebut dia adalah penulis parsi dari wilayah Bukhara, ada pula yang mengatakan dia berasal dari Johor yang tinggal di Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda. Kitab Taj Al-Salatin berisi nilai-nilai keagamaan yang menjadi pedoman untuk raja-raja yang memerintah kala itu. Begitu populernya kitab ini sehingga tidak hanya digunakan di Aceh saja, tapi juga di semenanjung tanah melayu dan juga dikalangan kraton di Jawa.

Perkembangan naskah keilmuan Islam makin massif terjadi pada pertengahan abad ke-XIX, ketika sejumlah ulama Melayu Nusantara, khususnya dari Jawa, pulang dari pengembaraan intelektualnya di jazirah Arab. Ratusan khazanah keilmuan dari berbagai disiplin ilmu pada medium yang bernama kitab turats makin tersebar, dan dijadikan referensi serta kurikulum diberbagai pesantren di Nusantara. Singkatnya, mata rantai keilmuan keislaman Melayu Nusantara bersambung dengan tradisi intelektual di dua tanah suci, Makkah dan Madinah.
Bersambungnya sanad keilmuan ulama Melayu Nusantara ini, mengutip KH Maimoen Zubair dalam pengantar pada buku Masterpiece Islam Nusantara, bermula setelah Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 973 H./1566 M.) mengabdikan diri di Masjidil Haram untuk mengamalkan ilmunya. Halaqah keilmuan yang ramai di Masjidil Haram ini, pada akhirnya memunculkan sosok Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

Diantara murid Syaikh Zaini Dahlan ini yang masyhur adalah Sayyid Abu Bakar Syatha (1266 H/1849 M), pengarang kitab I’anatu al-Thalibin syarah Fath al Mu’in karya Al-Malibary. Pada Sayyid Abu Bakar Syatha inilah para ulama Melayu Nusantara pada berguru dan mencecap semua ilmunya. Di antaranya Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Mahfudz Termas, KH Sholeh Darat, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Ahmad al-Fathani, Tuan Hussin Kedah, Datuk Ahmad Brunei, Syaikh Ustman Sarawak, Syaikh Ustman bin Aqil Betawi, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang, Sayyid Abu Bakar Syatha ini gurunya ulama Melayu Nusantara. Berdasar kitab Tasynif al-Asma’ bi Ijaza al-Syuyuh wa al-Asma’ karangan Syaikh Mahmud al-Mashri, salah satu murid terdekat Syaikh Yasin al-Fadani, lebih dari 30 ulama asal Melayu Nusantara yang pernah belajar dan berkarir di Masjidil Haram. Pada masa Sayyid Abu Bakar Syatha, keberadaan ulama Melayu Nusantara di Makkah memiliki peran strategis. Mereka tidak hanya mencapai taraf intelektual terkemuka di Timur Tengah, khususnya di kawasan Hijaz, tapi juga berperan dalam proses transmisi Islam dan ketersambungan sanad ke Nusantara. Bukan hanya itu, para ulama Melayu Nusantara juga pada akhirnya diakui sebagai peletak pondasi pertumbuhan pesantren di Nusantara. Dari tangan para ulama ini juga terbit beberapa kitab rujukan dunia Islam.

Syaikh Nawawi al-Bantani misalnya, ulama yang lahir di Tanara Serang Banten pada tahun 1230 H./1813 M. ini, sedikitnya telah menulis 115 lebih kitab dalam bahasa Arab yang meliputi tauhid, fikih, tasawwuf, tafsir dan hadist. Diantara karyanya yang populer di pesantren adalah Qami’u al-Thugyan, Nashaih al-‘Ibad dan Minhaj al-Raghibi dalam bidang tasawuf. Sementara dalam ilmu fikih ada Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, dan Kasyifah al-Saja. Kealiman dan produktifitas dalam menulis inilah yang membuat Syaikh Nawawi al-Bantani mendapatkan gelar Sayyid al-Ulama al-Hijaz (pemimpin ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (imam yang mumpuni ilmunya), dan Imam Ulama al-Haramain ( (Imam ‘Ulama dua kota suci). Ulama Nusantara yang belajar ke Tanah Suci pada abad pertengahan hingga akhir abad ke-XIX M. hampir pasti pernah belajar ke Syaikh Nawawi al-Bantani. Para muridnya yang kembali ke tanah air tersebar di berbagai penjuru Nusantara dan berkutat dalam dunia pesantren. Hingga kini, hampir pasti tidak ada satu pun pesantren yang tidak mengkaji dan bersentuhan dengan karya-karya Syaikh Nawawi al-Bantani.

Tradisi intelektual Syaikh Nawawi juga dilanjutkan muridnya , yaitu Syaikh Mahfudz al-Tarmisi, yang menulis kitab Hasiyah al-Tarmasi dalam bahasa Arab. Juga dilanjutkan sahabatnya, Sayyid Ustman Batavia dengan kitabnya Irsyad al-Anam dalam bahasa Melayu dialek Betawi, dan Syaikh Sholeh Darat dengan kitabnya Majmu’ah al-Syarifah dalam bahasa Jawa. Tradisi intelektual dan produktifitas menulis kitab ini dilanjutkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri dan Rais Akbar Jam’iyah Nahdhatul Ulama. Diantara sejumlah karya Syaikh Hasyim Asy’ari, ada lima karyanya yang paling melegenda. Yaitu Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah, Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin, Adab al-alim wal Muta’allim, Al-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqota’atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan dan Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab yang terakhir itu pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar beliau tentang Nahdlatul Ulama.

Ada yang menarik pada literasi keilmuan Islam di Melayu Nusantara. Karya-karya unggulan tersebut tidak hanya ditulis oleh ulama Nusantara saja, tetapi juga ditulis ulama yang berada di luar Nusantara, tapi membahas permasalahan keislaman yang berkembang di Nusantara. Misalnya Al-Jawabat al- Gharawiyyah li Al-Masail al-Jawiyyah al- Juhriyyah yang ditulis Syaikh Ibrahim Kurani (1070 H./1659 M.). Kitab ini berisi fatwa untuk masalah Islam Nusantara pasca Walisongo. Isinya berisi fatwa Syaikh Ibrahim atas lima permasalahan yang dikemukakan oleh umat Islam Nusantara dari wilayah Johor. Syaikh Ibrahim al-Kurani ini juga bisa disebut ulama sentral dunia Islam yang berkedudukan di Madinah. Di antara muridnya ada nama Syaikh Abdul Rauf al-Syingkili dan Syaikh Yusuf al-Makassari, ulama asal Makasar yang diasingkan Belanda hingga akhirnya meninggal di Afrika Selatan.

Penulis: Komaruddin

Sumber Pustaka:

A. Ginanjar Sya’ban, Mahakarya Islam Nusantara, Jakarta: 2017.

Zainul Milal Bizawi, Masterpice Islam Nusantara, Jakarta: 2016.

Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending