KH Ngadiyin Anwar dan KH Adam Arif Khan Emban Amanah JATMAN Jawa Timur 2018-2023

0

Nampak wajah cerah para peserta di tengah hingar bingar Musda ke-4 Idaroh Wusto Jam’iyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah. Berlangsung di PP Daruttaqwa atau biasa disebut pondok Ngalah Sengonagung Pasuruan, mulai tanggal 31 Maret sd 1 April 2018.

Musda diawali mulai hari jumat sore merupakan proses registrasi, kemudian pada hari sabtu setelah subuh sebagai pra acara Musda, terdiri dari Manaqib Kubrodanatiyah, dilanjutkan dengan pembacaan maulidurrosul bersama TNI dan grup Sholawat NKRI Polres Sidoarjo tampil bersama santri pondok Ngalah.

Dilanjutkan dengan prosesi kirap merah putih sebagai bentuk kesetiaan kaum sufi Indonesia terhadap negara kesatuan Republik Indonesia. Kirap merah putih diiringi dengan tarian leang leong khas etnis Cina sebagai penegasan atas kesanggupan kaum sufi menjadi pelopor dalam menjaga kebhinnekaan, kata salah seorang panitia Musda ke-4 Jatman Idaroh Wustho Jawa Timur.

Kirap merah putih, di samping membawa bendera merah putih juga membawa bendera Jatman. Selanjutnya bendera merah putih diserahterimakan kepada perwakilan Idaroh Aliyah dan kepada KH Soleh (sohibul bait pondok pesantren Daruttaqwa), sedangkan bendera Jatman diserahterimakan kepada perwakilan dari Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jawa Timur.

Kirap merah putih juga mengawal tokoh tokoh lintas agama, antara lain dari perwakilan pimpinan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu, mereka bersatu padu penuh kegembiraan dan saling canda dan saling melempar senyuman di antara para tokoh agama yang hadir. Sesaat setelah prosesi pembukaan Musda berakhir hujan tiba, tetapi kondisi ini justru dimanfaatkan oleh para hadirin dambil menunggu hujan reda, mereka saling berfoto bersama para peserta Musda dengan tokoh antar agama secara bergantian.

Pembukaan Musda dimulai presis pada jam 10.00 wib, setelah membaca Al-Quran dan sholawat thoriqiyah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu Subanul Waton. Tampak memberi sambutan shohibul bait, Pangdam V Brawijaya dan Perwakilan dari Idaroh Aliyah sekaligus membuka Munas. Seterusnya dilanjutkan dengan pidato oleh Rois Jatman Idaroh Wustho Jawa Timur KH Martain Karim. Di samping itu juga ada pidato pengarahan dari pengurus wilayah NU Wilayah Jawa Timur KH Marzuki Mustamar. Pada Sabtu malam para peserta Munas memasuki agenda pengesahan tata tertib sidang dan laporan pertanggungjawaban pengurus.

Suasana sidang cukup kondusif dengan saling menghargai pandangan satu dengan lainnya. Pada rapat pengesahan tata tertib, peserta lebih berkonsentrasi untuk membahas seputar persyaratan Rois dan Mudir, beserta tata cara penunjukan anggota tim formatur yang akan memilih rois dan Mudir. Peserta sidang akhirnya mensepakati tim formatur terdiri dari perwakilan Idaroh Aliyah satu orang sekaligus sebagai pimpinan sidang ditambah dengan satu orang dari pengurus demisioner, selebihnya berasal dari utusan Syu’biyah, satu orang eks karesidenan. Wal hasil anggota tim formatur terdiri dari 9 Kyai.

Pada saat laporan pertanggungjawaban pengurus situasi biasa biasa saja, meski sebagian kecil peserta Musda ada yang mengajukan pertanyaan tentang terjadinya perubahan personalia pengurus pada saat kepengurusan Idaroh Wustho tahun 2012 sd 2018.

Pada hari Minggu Musda mengagendakan sidang komisi yang terdiri dari komisi program. Komisi rekomendasi, dan komisi Bahsul Masa’il. Pada waktu yang sama dilakukan sidang formatur yang bertempat di kantor rektorat Universita Yudharta Pasuruan. Hingga berita ini di turunkan, tim formatur telah mengumumkan hasil sidangnya, yaitu mengumumkan bahwa KH Ngadiyin Anwar sebagai Rois JATMAN Idaroh Wusto Jawa Timur periode 2018 sd 2023, dan KH Adam Arif Khan sebagai mudir, JATMAN Idaroh Wusto periode 2018 s.d. 2013. [Badat]

Comments
Loading...