KH. Muslih al-Maraqi

Pengasuh Pesantren Futuhiyah, Mranggen, Demak (1936-1981), salah seorang pendiri Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), dan mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dilahirkan di Kampung Suburan, Mranggen, Demak dari pasangan KH. Abdurrahman dan Nyai Shofiyah. Ayahnya masih keturunan dari Sunan Kalijaga; dan Ibunya silsilah ke atas sampai kepada Raden Fatah, penguasa Kerajaan Demak.

Setelah belajar kepada ayahnya, dia nyantri kepada KH. Ibrahim Yahya, Brumbung. Di pesantren ini, dia sempat belajar Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Setelah itu, dia ke Pesantren Mangkang Kulon, dilanjutkan nyantri kepada KH. Zubair dan Syekh Imam di Sarang, di samping menjadi santri kalong Mbah Maksum, Lasem. Pada tahun 1931, dia kembali ke Mranggen, tetapi setahun kemudian dia nyantri ke Tremas, Pacitan. Di Tremas, dia bertemu dengan KH. Ali Maksum yang saat itu menjadi kepala madrasah, dan memintanya untuk mengajar Alfiyah Ibnu Malik.

Sekembalinya dari Tremas, dia mulai menghidupkan dan mengembangkan Pesantren Futuhiyah yang sudah didirikan orang tuanya, yang ketika itu kurang berkembang. Dia kemudian mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (1936), Madrasah Aliyah, sekolah-sekolah umum seperti SLTP (1975) dan SMU, serta perguruan tinggi.

Ketika dia sedang membangun dan mengembangkan Pesantren Futuhiyah, Kota Demak saat itu menjadi basis perlawanan rakyat terhadap Belanda di Timur Semarang, berasal dari Blora, Cepu, Purwodadi, dan Grobogan. Sejak saat itu, dia menggunakan nama belakang al-Maraqi, dari bahasa Arab yang berarti, “tempat naik atau pusat naiknya,” perlawanan rakyat dari timur Semarang. Dia terlibat dalam perjuangan Laskar Hizbullah. Bahkan, dia sempat ke Bekasi, lalu dilanjutkan ke Banten, dan kesempatan ini digunakan untuk sekalian berguru Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kepada Syekh Abdullatif al-Bantani, murid langsung Syekh Abdul Karim.

Ia mengembangkan Pesantren Futuhiyah dengan tiga corak: tetap mengajarkan kitab-kitab Kuning meski mendirikan berbagai sekolah umum; menjadikan Alfiyah dan ilmu alat menjadi pelajaran penting yang harus dihafal santrinya; dan mengajarkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di pesantren. Dengan ketiga hal itu, dia dikenal oleh masyarakat, para pejuang laskar di masa kemerdekaan, dan aktivis NU, tetapi masih dalam lingkup Jawa Tengah.

Kiprahnya di bidang tarekat jadi menasional pada Muktamar NU ke-26 di Semarang pada tahun 1979. Dia berupaya menyelamatkan organisasi tarekat agar tetap berada dalam naungan NU, karena saat itu di lingkungan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sedang terjadi perubahan aspirasi politik, sementara KH. Musta’in Ramli yang memimpin federasi tarekat tampak mendukung Golkar. Dalam sidang pleno pengurus Syuriyah PBNU di Muktamar itu, KH. Muslih menyampaikan usulan agar NU mempunyai organisasi sendiri.

Pada waktu itu, KH. Muslih mengundang tokoh-tokoh NU untuk bermusyawarah di rumahnya, seperti KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Idham Chalid, dan KH. Masykur. Hasil musyawarah mendukung terbentuknya organisasi JATMAN dan disahkan pada 1980, dengan ketua KH. Adlan Aly, yang saat itu juga ikut tarekat di Rejoso dengan KH. Musta’in Ramli, dan kemudian mendirikan sendiri di Cukir, Jombang. KH. Muslih kemudian berkiprah bersama mursyid tarekat yang tetap berada dibawah naungan NU dengan mengorganisasikan diri pada JATMAN.

Selain mursyid tarekat, dia juga penulis yang andal, karena telah mempublikasikan beberapa kitab karyanya: Hidayatul Wildan, Inaratu azh-Zhalam, Wasa’il Wushul, Nur al-Burhan, Tsamratul Qulub, al-Munjiyat, Alfiyah Shalawat, Nashr al-Fajr, dan lain-lain. Dia meninggal tahun 1981, setelah organisasi tarekat NU berhasil didirikan tahun 1980.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Komentar
Loading...