Portal Berita & Informasi JATMAN

KH. Ma’ruf Amin: Bagi NU NKRI Sudah Final Jangan Diganti yang Lain

0 241

Madura – Alhamdulillah, Kamis kemarin, 3 Mei 2018, bumi Pamekasan kedatangan Rais Am PBNU Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin dan Wakil Rais Am PBNU KH. Miftahul Akhyar. Sungguh sulit mendatangakan keduanya apalagi bisa duduk dalam satu majelis memberikan pengarahan. Tapi atas izin Allah, keduanya hadir dalam satu majelis memberikan ceramahnya.

KH. Ma’ruf Amin, dengan lisan yang fasih, gaya bahasa yang santun, paparan yang datar dan mudah dipahami, menunjukan bahwa beliau adalah ulama panutan. Beliau banyak menjelaskan tentang pentingnya bermadzhab dalam praktik beragama. “Bermadzhab adalah sebuah keharusan,” tegasnya.

Selain itu Kiai Ma’ruf juga memaparkan bahwa NKRI bagi NU sudah final dan selesai sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Beliau lalu menjelaskan bahwa pemerintahan Islam tidak hanya khilafah, di Brunai kesultanan, di Malaysia kerajaan dan di Indonesia negara kesatuan yang di semua negara itu substansi ajaran Islam masuk di dalamnya. “Sehingaa NKRI sudah final dan tidak perlu lagi diubah dalam bentuk lain.”

Sedangkan KH. Miftahul Akhyar yang juga dikenal alim, bijak dan ramah, menjelaskan pentingnya penguatan NU dari segala sektor termasuk ekonomi. “NU adalah aset besar dan potensi besar. Maka ke depan NU harus lebih baik,” ungkap Wakil Rais Am PBNU itu optimis.

Dalam acara ini, yang paling mengharukan adalah momen saat acara pemberian cindera mata oleh KH. Mudatsir Badrudin selaku tuan rumah dan Pengasuh PP Miftahul Ulum Panyeppen yang juga Wakil Rais PWNU Jatim. Usai memberikan cindera mata, tak disangka KH. Mudassir mencium tangan KH. Ma’ruf Amin di atas panggung, padahal KH. Mudasir adalah tokoh sepuh NU di Madura yang dikenal alim allamah dan dari sisi umur tak jauh berbeda antara keduanya.

Namun sifat tawadhu’ beliau betul-betul membuat hadirin takjub, sungguh akhlaqul karimah yang sulit ditemui di luar pesantren. Hal itu membuat ribuan hadirin terharu, sungguh saat itu dipertontonkan akhlak Rasulullah, tauladan dan qudwah tingkat tinggi dari ulama yang betul-betul menjadi pewaris para Nabi. (Syaroni As-Samfuriy/NU Aswaja Madura)

Comments
Loading...