Connect with us

Artikel

KH. M Chaidar Muhaiminan: Jangan Mengharap Kebaikan Orang lain

Published

on

Temanggung, JATMAN.OR.IDMursyid Thariqoh Syadziliyyah, KH. M. Chaidar Muhaiminan memberikan tausiyah kepada para jama'ah Thariqoh Syadziliyyah dalam acara halal bi halal yang diunggah di kanal Youtube AMR MUJUR TV pada hari rabu (19/5) di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung Jawa Tengah. Kiai Chaidar menjelaskan bahwa semua amal ibadah di bulan ramadhan dapat dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya, kecuali shalat tarawih. Akan tetapi, shalat tarawih dapat diganti dengan qiyamullail (shalat malam). Diantara fadhilah shalat malam adalah hamba akan diberikan haibah (wibawa) oleh Allah, karena di saat orang lain tidur, hamba tersebut bangun, shalat, dan meminta kepada Allah. Lebih lanjut, Kiai Chaidar mengutip sebuah dawuh: "Kun rabbaniyyan, wa la takun ramadhaniyyan. Jadilah orang yang berke-Tuhanan, dan jangan jadi orang yang bergantung pada bulan ramadhan. Paham kan? Mari kegiatan, kesungguhan, dan semangat selama bulan ramadhan kita lanjutkan sampai ramadhan berikutnya" Baca juga: Empat Macam Dzikir Menurut Imam Asy Syadzili Beliau menceritakan bahwa ada makhluk yang merasa gagal menggoda manusia selama setahun yaitu Iblis. Mereka merasa sia-sia menggoda manusia karena Allah memaafkan semua dosa-dosa kita. Oleh karena itu, manusia menjadi bersih dan suci seperti lembaran yang bersih. "Mari lembaran yang bersih ini kita hiasi. Kita pelihara. Jangan dicoret-coret dengan tinta yang hitam, tinta yang kotor. Kita isi lembaran ini dengan kebaikan. Terutama wiridan thariqoh. Setiap tahun saya mendapat pengalaman dari jamaah. Di dunia saja sudah jelas, wiridan thariqoh memberikan pertolongan, apalagi nanti di akhirat" Ungkap Kiai Chaidar. Beliau berpesan kepada para jamaah untuk tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain. Lalu beliau berkata: "I'lam anna al-insana ta'allumun la tabaddulun. Ketahuilah bahwa kebaikan orang lain itu perbuatan, bukan penggantian". Kebaikan itu bisa dilakukan dengan akal, tenaga dan pikiran. Terakhir, acara halal bi halal ditutup dengan do'a yang pimpin langsung oleh KH. M. Chaidar Muhaiminan, putra dari KH Muhaimin Gunardho. [Hamzah]

Temanggung, JATMAN.OR.ID
Mursyid Thariqoh Syadziliyyah, KH. M. Chaidar Muhaiminan memberikan tausiyah kepada para jama’ah Thariqoh Syadziliyyah dalam acara halal bi halal yang diunggah di kanal Youtube AMR MUJUR TV pada hari rabu (19/5) di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung Jawa Tengah.

Kiai Chaidar menjelaskan bahwa semua amal ibadah di bulan ramadhan dapat dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya, kecuali shalat tarawih. Akan tetapi, shalat tarawih dapat diganti dengan qiyamullail (shalat malam). Diantara fadhilah shalat malam adalah hamba akan diberikan haibah (wibawa) oleh Allah, karena di saat orang lain tidur, hamba tersebut bangun, shalat, dan meminta kepada Allah.

Lebih lanjut, Kiai Chaidar mengutip sebuah dawuh: “Kun rabbaniyyan, wa la takun ramadhaniyyan. Jadilah orang yang berke-Tuhanan, dan jangan jadi orang yang bergantung pada bulan ramadhan. Paham kan? Mari kegiatan, kesungguhan, dan semangat selama bulan ramadhan kita lanjutkan sampai ramadhan berikutnya”

Baca juga: Empat Macam Dzikir Menurut Imam Asy Syadzili

Beliau menceritakan bahwa ada makhluk yang merasa gagal menggoda manusia selama setahun yaitu Iblis. Mereka merasa sia-sia menggoda manusia karena Allah memaafkan semua dosa-dosa kita. Oleh karena itu, manusia menjadi bersih dan suci seperti lembaran yang bersih.

“Mari lembaran yang bersih ini kita hiasi. Kita pelihara. Jangan dicoret-coret dengan tinta yang hitam, tinta yang kotor. Kita isi lembaran ini dengan kebaikan. Terutama wiridan thariqoh. Setiap tahun saya mendapat pengalaman dari jamaah. Di dunia saja sudah jelas, wiridan thariqoh memberikan pertolongan, apalagi nanti di akhirat” Ungkap Kiai Chaidar.

Beliau berpesan kepada para jamaah untuk tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain. Lalu beliau berkata: “I’lam anna al-insana ta’allumun la tabaddulun. Ketahuilah bahwa kebaikan orang lain itu perbuatan, bukan penggantian”. Kebaikan itu bisa dilakukan dengan akal, tenaga dan pikiran.

Terakhir, acara halal bi halal ditutup dengan do’a yang pimpin langsung oleh KH. M. Chaidar Muhaiminan, putra dari KH Muhaimin Gunardho. [Hamzah]

Continue Reading

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Artikel

Adab-adab Berzikir

Published

on

Adab-Adab Berzikir

Berdzikir adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan melalui zikir, Allah sudah menjamin ketenangan hati hambanya dari hiruk-pikuk dunia sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Ar Ra’du ayat 28 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Tapi, untuk mengawali berzikir, kita harus punya menjalani beberapa etika agar dampak positif zikir tersebut bisa merasuk ke dalam hati dan bermanfaat bagi kebersihan jiwa. Adapun langkah-langkah yang harus dipahami sebelum dan ketika berzikir adalah sebagai berikut:

  • Konsentrasi penuh

Konsentrasi  adalah bagian dari merendahkan diri di hadapan Allah. Ketika berzikir, hamba diminta untuk melupakan segala pekerjaan duniawi serta meminimalisir gerakan-gerakan yang tidak penting agar fokus pada tujuan awal tetap terjaga

  • Memperkecil Suara

Yang dimaksud pada poin kedua adalah volume suara berada diantara diami dan keras yaitu sedang-sedang saja. Kecuali memang sedang berada dalam majelis zikir khusus yang menggunakan zikir jahri

  • Kesadaran Penuh

Alangkah baiknya jika orang yang berzikir, memusatkan pikirannya pada apa yang diharapkan. Jika sudah mulai mengantuk atau merasa bosan, maka dianjurkan untuk memperbaharui wudhu dan berpindah posisi duduk agar hamba tetap berada dalam keadaan sadar dan tidak tidur

  • Memilih Waktu yang Pas

Pemilihan waktu dalam berzikir bisa memengaruhi tingkat konsentrasi serta kekhusyukan. Waktu terbaik untuk berzikir adalah ketika waktu sahur, yaitu setelah bangun tidur. Kemudian di pagi hari dan di sore hari pada hari Jumat

  • Memilih Tempat yang Pas

Selain memilih waktu, tempat juga menjadi salah satu penunjang kekhusukan berzikir. Utamanya adalah di masjid. Namun jika tidak, yang penting tempat tersebut suci dari najis dan jauh dari keramaian

  • Menghadirkan Hati ketika Berzikir

Orang yang melakukan zikir, tentu memiliki ambisi untuk mencapai apa yang diharapkan. Agar hati dan bacaan zikir menyatu, maka bukan hanya lisan yang digunakan untuk membaca lafaznya, melainkan hati juga harus digunakan untuk memahami makna dari apa yang dibaca. Supaya keduanya terhubung dan saling memengaruhi di dalam otak

Adab-Adab Berzikir
  • Bersuci dan Menghadap Kiblat

Poin ini adalah yang paling utama sebelum dilakukannya zikir. Meskipun seluruh ulama bersepakat bahwa boleh melafalkan zikir dari dalam hati bagi orang yang memiliki hadas, tetapi ada sebagian ulama yang melarang melafalkan zikir yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran  bagi orang yang sedang berhadas.

  • Adanya Kesesuaian Bacaan ketika Zikir Berjamaah

Zikir yang dilakukan bersama-sama harus berdasarkan bacaan yang sama. Tidak ada yang boleh mendahului ataupun mengakhiri, apalagi menambah dan mengurangi bacaan. Maka ketika salah satu jamaah ada yang tertinggal bacaanya, maka hendaklah ia tetap mengikuti bacaan jamaah-jamaah yang lain

  • Zikir Dapat Berpengaruh pada Perilaku

Ketika zikir menjadi kegiatan yang terus-menerus dilakukan, maka dampaknya akan terlihat pada kebiasaan pelaku zikir. Hal yang paling signifikan adalah bagaimana ketika bersosialisasi dengan sesama manusia. Pelaku zikir akan memiliki akhlak yang baik serta bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri kepada Allah Swt.

Diterjemahkan dari Kitab Radd al Bala’ Bi adz Dzikri karya Mushthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending