Connect with us

Pustaka

KH. Hasyim Asy’ari, Pengabdian Seorang Kyai untuk Negeri (2)

Published

on

KH. Hasyim Asy'ari
KH. HASYIM ASY’ARI: GURU PARA KIAI PESANTREN DAN “WARANA” KEARIFAN NUSANTARA

Oleh Ahmad Baso

KH. Hasyim Asy’ari, Pesantren dan Kearifan Nusantara: Filosofi Santri Berguru

KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok paripurna seorang “alim” yang selalu dikejar ilmu dan barakahnya oleh kalangan santri dan masyarakat. Hingga makamnya pun tidak pernah sepi dari para penziarah. Tidak heran kalau Tan Malaka sendiri selama hidupnya menyempatkan diri berguru pada beliau di pondoknya di Tebuireng dari maghrib hingga shubuh pada tanggal 12 atau 13 November 1945.9

Sebutan “alim” dalam masyarakat bangsa kita menunjukkan bahwa seorang guru, kiai atau ulama mengajarkan sikap-sikap beragama yang bukan sekedar teori, tapi juga contoh, amalan, dan suri tauladan. Sang kiai menjadi pembimbing para santri dalam segala hal, yang mendampingi para santri selama 24 jam sehari. Sehingga kaum santri menyaksikan sendiri di depan matanya contoh-contoh yang baik dari gurunya, yang kemudian secara langsung – tanpa instruksi atau paksaan – mengikuti sendiri amalan-amalan yang baik itu.

Lebih dari itu, amalan-amalan keagamaan juga dirasakan makin sempurna dengan mengikuti contoh ideal pelaksanaannya oleh sang kiai. Seperti halnya cara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan ibadah shalat kepada para sahabatnya dengan “memperbanyak melihat cara Nabi melakukannya”. Demikian pula yang ditunjukkan oleh sang kiai dalam mengajarkan amalan-amalan keagamaan sehari-hari. Intinya, makin banyak melihat sang guru — artinya, berinteraksi secara rapat dengannya dan tidak menjauh – akan makin sempurna pelaksanaan ibadah tersebut. “Adat kelakoean sang goeroe di dalam hidoepnya sehari-hari jang penoeh dengan kedjoedjoeran dan kesoetjian itoe, mempengaroehi djuga atas sikap kehidoepan, levenshouding-nja, moerid-moeridnja”, demikian yang ditulis dokter Soetomo tentang pengajaran pesantren.

Jadi, kehidupan sehari-hari, amalan beserta sikap sang kiai lalu menjadi pedoman, dan bukan sekedar retorika. Sang kiai menjadi cermin dimana sang santri mengamati karakter idealnya. Dan watak “alim” adalah tipikal cerminan ideal tersebut. Dan karakter ke-alim-an yang paling tinggi di mata orang-orang pesantren adalah sikap ikhlas dan wara.

Nderek kiai” atau “gurutta mato” adalah satu cara pesantren membentuk kepribadian kaum santri. Karena praktik latihan dan proses berguru itu tidak dilakukan dengan cara duduk di dalam kelas dengan jadwal-jadwal pasti.Pesantren dan proses berguru di sana merupakan sebuah proses bermasyarakat, satu cara menjalani kehidupan di dunia ini sebagai persiapan menuju ke gerbang akhirat. Seperti halnya menuntut ilmu itu sendiri tidak pernah berhenti, dari masa kecil hingga meninggal. Proses bermasyarakat dan menjalani hidup ini merupakan inti dari pemahaman keagamaan kalangan pesantren, yang mengamalkan ajaran Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja).

Hal itu berjalan dengan sendirinya, tanpa ada pengarahan dari sang guru. Guru tidakmemberitahuapa yang harus dikerjakan, tapi dia menegur kalau ada kesalahan. Kaum pesantren, bagaikan musisi jazz, saling berinteraksi dan  kemudian  membentuk  satu kesatuan dalam proses tanpa ada pengarahan dan rencana sebelumnya. Semuanya dilakukan secara bersama dalam proses. Dan itulah arti bermasyarakat dalam ungkapan “nderek kiai” atau “gurutta mato”. Seperti halnya proses menuntut ilmu pada kiai-ulama tidak akan berhenti, bahkan untuk meminta bacaan dan aji-aji sekalipun, proses berkebudayaan dan bermasyarakat juga tidak akan pernah berhenti. Tradisi dan praktik kebudayaan mereka – dalam lingkup tradisi pesantren – lahir setiap hari, setiap kali dipentaskan dan dipanggungkan, dihadirkan, diinvensi. Segalanya menjadi baru dan aktual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, dan interpretasi. Dalam tradisi pesantren dikenal tiga unsur pokok basisnya yang melangengkan proses berguru dan bermasyarakat tersebut: desa, kitab kuning dan rumah kiai-mesjid-pondok. Singkatnya, filosofi “nderek kiai” atau “gurutta mato” menegaskan satu prinsip panutan hidup, yang sekaligus merupakan jiwa kebudayaan dan kemasyarakatan kaum pesantren.

Karakter berguru ini muncul misalnya dalam sosok Pangeran Diponegoro selama nyantri di Tegalrejo, Yogyakarta, di tahun 1790-an. Seperti yang ia tulis dalam Babad Dipanagara: “Untuk meniru apa yang dilakukan oleh para ulama, kami kerapkali pergi ke Pasar Gede [kini Kota Gede], Imogiri (Jimatan), Guwa Langse dan Selarong. Apabila ke Pasar Gede dan Imogiri, kami biasa berjalan kaki. Tetapi apabila ke Guwa Langse dan Selarong, kami naik kuda dengan banyak pengiring.

Di kedua tempat terakhir ini, kami sering menolong petani menuai atau menanam padi. Memang semestinya para pembesar menyenangkan hati rakyat kecil”.10

Jadi, berguru atau “nderek kiai” harus memastikan tercapainya pendidikan karakter yang ideal di mata kalangan santri dan mustami-nya. Di sana tradisi digerakkan, diamalkan, hingga ditampilkan di depan khalayaknya. Apa yang membuatnya bisa bertahan dalam relasi santri-guru ini, kalau tidak karena kehendak kaum santri untuk mengenal seluk-beluk kehidupan, kondisi masyarakat, serta arah dan tantangan perjalanan peradaban. Dalam proses berguru itu mereka bisa jadi melihatnya secara lain, serta menjawab tantangan dengan cara lain pula. Tapi yang penting adalah kekayaan khazanah pengetahuan dan sensitifitas yang tinggi terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Selain berargumentasi, melakukan diskusi, macapatan, sama’an, munaqasyah, berbahsul masail, musawaratan, atau semacamnya, mereka juga melakukan meditasi dan bicara tanpa kata-kata dalam proses berguru itu.

Mengapa meditasi dan bicara tanpa kata-kata? Di satu sisi berguru adalah proses bermasyarakat. Namun pada sisi lain berguru adalah juga proses berefleksi ke dalam, mengucilkan diri dari masyarakat umum, menanamkan kepekaan akan hakekat diri dan kepribadian, dan untuk menjaga nilai-nilai dan moralitasnya. Jadi itu sebabnya, selain pesantren ada di kota, dekat alun-alun dan bahkan di sekitar pusat-pusat kekuasaan, seperti di kraton atau pendopo mesjid jami (mesjid agung), pesantren juga hadir di pedalaman, di pedesaan.

Dalam proses bermeditasi dan mengasingkan diri itu, pesantren merengkuh hakikat otonomi kebudayaannya (istiqlal tsaqafi). Karena kebanyakan pesantren secara ekonomi mandiri, maka kesadaran kuat akan otonomi kultural selama berguru  dan bermeditasi bisa dicapai. Selama proses itu sang santri – biasanya santri-santri senior atau partisipan dari masyarakat yang memang punya maksud demikian – menjalani proses pengekangan segenap hawa nafsu, disiplin diri hingga kerja keras mengayuh kaki dan tangan. Dalam proses itulah lahir sikap-sikap keutamaan yang menjadi ciri khas moralitas individual dan sosial pesantren: kesederhanaan, kerjasama, solidaritas dan keikhlasan.11 Moralitas inilah yang dipupuk secara terus-menerus dalam lakon “nderek kiai” atau “jejer pandito” – sehingga masyarakat Nusantara menyebut kebaktian kepada guru menyamai kebaktian kita kepada orang tua dan mertua, bahkan kepada Allah.

Dengan kata lain, berguru mengharuskan sang santri bukan hanya total kepada sang kiai, tapi juga mengerahkan segenap raga dan jiwa yang dimilikinya. “al-Ilmu la yu’thika ba’dlahu hatta tu’thiyahu kullaka” (Ilmu itu tidak akan memberikan sebagian dirinya, sebelum engkau menyerahkan segenap totalitas dirimu kepadanya)”, demikian yang dikatakan Ibnu Jama’ah dalam bukunya, Tadzkiratu-s-Sami’ wa-l-Mutakallim fi Adabi-l-Alim wal-Muta’allim, yang merupakan salah satu kitab favorit KH. Hasyim Asy’ari sendiri.

Nyantri dan berguru berarti mobilisasi segala sesuatu yang bisa dinikmati dengan panca indera, lahir dan batin. Tidak ada batasan umur, asal-usul sosial, genealogi maupun bahasa. Nyantri bukan hanya proses belajar-mengajar, tapi sesuatu yang mengincar jiwa kaum santri. Ini seperti yang ditekankan Dokter Soetomo, “Kekoeatan batin haroes dididik; ketjerdasan roh diperhatikan  dengan  sesoenggoeh-soenggoehnja,  sehingga pengetahoean jang diterima olehnja itoe akan dapat dipergoenakan dan disediakan oentoek melajani keperloean oemoem teroetamanja”.

Tradisi  nyantri  hanya   memerlukan   jiwa   yang   aktif, sementara yang lainnya menjadi tenaga pendukung. Pengembaraan spiritual itulah yang diperlukan seorang guru-kiai-ulama, yang menggelar pendidikan dalam sebuah komunitas. Di tangan sang guru, pengembaraan dan pendalaman itu tidak menjadi perintah-perintah yang pasti. Tapi semacam isyarat-isyarat yang memancing para santri dan masyarakat pendukungnya (mustami) memasuki suatu suasana mencipta dari sesuatu yang tidak pernah jelas, sebelum benar-benar terjadi. Improvisasi dan kreatifitas merupakan institusi yang amat penting dalam tradisi pesantren. Karena ia merupakan tempat untuk mengaplikasikan segenap moralitas dan idealitas pesantren sedalam-dalamnya. Sehingga suasana pendidikan menjadi aktual.

Berguru, “nderek kiai” atau “gurutta mato”, dengan demikian, adalah sebuah usaha untuk hidup bersama tradisi. Bukan mengartikan tradisi sebagai mumi atau fosil yang mati, tapi sesuatu yang hidup, tumbuh dan menjadi bagian dari masa kini.Maka, dalam konteks nyantri ini, sang guru hadir seperti halnya sang sutradara. Di dalam sebuah kelompok yang akan menonton sesuatu sebagai sebuah pertunjukan, sutradara adalah seorang pencipta. Dia menciptakan dirinya lewat pemain dan segala sesuatu yang nampak dalam tontonan. Dan tontonan yang kemudian dinikmati oleh penonton adalah ciptaan dari berbagai

pribadi pemain, namun pada akhirnya adalah suara jiwa langsung dari sang sutradara, sang ideolog yang memainkan peran – dan itu adalah kiai-ulama. Seperti inilah lakon yang dimainkan sang kiai sebagai ideolog, yang menggerakkan tradisi, sekaligus mentradisikan gerakan. Masing-masing santri dan komunitas pesantren menjalankan peranannya, tapi ruh dari lakonan itu adalah tetap berasal dari sang guru.

Di dalam praktik berguru atau nyantri, sang kiai membuat dan melatih santri dan mustami-nya menjadi “pemain”. Pemain yang tidak terlatih sebagai pemain di atas panggung seringkali amat sulit untuk berpartisipasi dalam tontonan yang memiliki jiwa berbeda dengan pertunjukan. Setelah siap sebagai pemain, sang kiai sebagai guru memberikan perintah agar membawasebuah misi(seperti yang dilakonkan oleh Pangeran Diponegoro yang dibawa dari para kiai dan guru-gurunya dalam Perang Jawa 1825-1830) untuk disampaikan kepada masyarakat, komunitas lebih luas, kepada khalayak (mukhathab alaih), stakeholders, kepada penonton. Dalam pertunjukan/tontonan, para pemain bekerjasama seperti sepasukan prajurit dalam perang atau seperti pemain-pemain sepakbola melakukan total football untuk menciptakan tontonan yang betul-betul dikendalikan oleh sebuah misi.

Sang kiai sebagai guru dalam pengertian ini tidak mengajarkan kaidah-kaidah umum tentang pertunjukan atau seni akting. Dia mengajarkan satu bahasa khusus yang paling diperlukan untuk lakon (mulai dari bahasa ke-Aswajaan, kemasyarakatan, kebangsaan (wathaniyahjumhuriyah), Ratu Adil, komunisme-nasionalisme, anti-kolonialisme, dst) yang dipilihnya. Baru kalau kaidah-kaidah umum itu diperlukan, maka akan diajarkan.Tapi tidak untuk dipegang sebagai patokan abadi, hanya sebagai pengetahuan. Dan pengetahuan bukan merupakan tujuan, tapi usaha untuk mengamankan misi tadi yang hendak disampaikan oleh sang aktor agar sampai kepada masyarakat atau khalayaknya.

Ini adalah sebuah bahasa pendidikan. Sebuah idiom dalam tradisi pesantren. Bahkan boleh dikatakan sebagai sebuah kerajaan teater dengan ideologi spiritual dan keyakinan- keyakinannya yang tersendiri. Sehingga sulit untuk dianggap akan memproduksi pemain-pemain yang bisa dipakai oleh kelompok yang lain (misalnya yang akan dipakai untuk mendukung tujuan- tujuan kolonialisme atau yang anti-kebangsaan) kecuali dengan pihak-pihak yang memiliki garis ideologis yang sama.

Filosofi dasar dari konstruk sang sutradara-kiai-ulama ini adalah bertolak dari Yang Ada. Dasar  pikiran  ini,  yang juga merupakan ideologi spiritual mereka (ingat moralitas qana’ah), adalah upaya menerima apa yang ada di tangan dan di sekitar. Lalu mereka melakukan optimalisasi dari apa yang ada tersebut, untuk mencapai apa yang mereka targetkan. Baik seluruh peralatan, semua kebutuhan, tempat bermain, cerita, pemain-pemain pendukung, dan sebagainya, dimanfaatkan dari apa yang ada ini. Tidak berarti dengan menerima apa yang ada, mereka menjadi terbatas. Justru dengan mengerti keterbatasan mereka yang nyata, mereka kemudian memperoleh peluang untuk melakukan atau mendapatkan apa yang harus ada. Itu yang mereka sebut “kreatifitas” (al-akhdzu). Dalam proses berguru itu, dengan modal kreatifitas, hampir tidak ada yang tidak mungkin.

Mencipta dan berkarya menjadi pekerjaan yang rutin. Karena dalam praktik, hidup di negeri yang serba kurang  dalam berbagai sarana dan fasilitas, orang-orang pesantren kerja keras, memeras otak, mengerahkan segenap potensi,  serta menaklukkan hampir segala-galanya dengan kreatifitas. Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan mampu hidup dan bertahan. Berproduksi menjadi semacam proses berjuang,

karena menciptakan dan menjaga tradisi kepesantrenan, tradisi keulamaan dan kebangsaan, berarti menciptakan sesuatu dari apa yang ada ini. Untuk tidak menjadi seadanya harus dilakukan akrobatik pemikiran dan interpretasi yang kadangkala bisa berarti penukaran sudut pandangan serta penjungkirbalikan nilai-nilai yang dimapankan masyarakat. Inilah filosofis pesantren yang sangat khas dan kuat getarannya: qana’ah, sekaligusber-amal shalih, dan, setelah itu, tawakkal.

Memimpin,  mengasah  dan  mendidik  santri  bagi   sang kiai dalam keadaan kesederhanaan semacam itu, lebih merupakan usaha perang gerilya. Yakni, usaha menaklukkan segala keterbatasan. Usaha yang tidak terbatas kepada penciptaan setting, laku, lakon, formula hingga gerakan. Tapi sudah meluas menjadi usaha menciptakan konsep-konsep dan formula baru dalam menilai tradisi kepesantrenan. Sebuah meditasi, sebuah praktik syuyukhiyah (berguru) yang bermakna pengaturan strategi. Karena aspek-aspek tindakannya adalah darurat dalam kondisi keterbatasan itu (terutama di  masa-  masa puncak penjajahan Belanda di Jawa), maka diperlukan kiat-kiat, akal serta sudut memandang yang baru. Karenanya hasilnya juga berbeda dengan hasil-hasil produksi bertradisidan berkebudayaan lainnya dalam keadaan normal, yang tak jarang ada distorsi. Ada kelainan, penyimpangan-penyimpangan bahkan pemutarbalikan yang kemudian secara fantastis berubah menjadi sebuah orisinalitas, keunikan dan juga gebrakan! Contoh dekat tentang ini bisa dilihat dari konstruksi pesantren tentang Ratu Adil, komunisme dan nasionalisme.

Bisa dikatakan kemudian bahwa orang-orang pesantren mengajak orang memikirkan kembali, memikirkan sekali lagi segala sesuatu yang sudah pernah disimpulkannya atau yang sudah diterima sebagai kesimpulan. Bukan untuk mengajak

orang berbalik langkah atau mengingkari diri, tapi untuk mengaktualisasikan segala keyakinan-keyakinannya setiap saat. Dalam konteks itu, sang kiai hadir sebagai seorang pemimpin, sang pengatur strategi. Dalam mengatur strategi bukan hanya diperlukan akal tapi juga insting. Dan  dari sana dihimpunlah beragam strategi dan kiat-kiat: strategi bahasa,strategi ruang,strategi visual, strategi psikologi,dan juga strategi manajemen. Bahkan kalau perlu strategi menyerang — semuanya sangat dituntut. Dari olah kejiwaan hingga fisik semua diasah. Dan ini menjelaskan mengapa anak-anak pesantren diajarkan olah bela diri hingga pematangan ilmu-ilmu kanuragan atau kedotan.12

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai adalah seorang jenderal perang yang memiliki kekuasaan  sangat  besar  dan tak terbantah. Tidak semua orang mampu dan bisa  menjadi kiai yang adalah juga jenderal. Yang banyak adalah kiai yang hanya menjadi palaksana (eksekutif atau tanfidziyah) dari titah sang kiai-ulama-jenderal-ideolog (syuriyah). Hanya seorang pemimpin spiritual, seorang yang memiliki kemampuan jenderal perang, yang mahir dalam segala taktik berperang yang bisa menjadi seorang kiai di atas panggungkebudayaan, beragama, peradaban dan juga berpolitik.

Seorang kiai adalah seorang pemimpin yang mampu menciptakan teladan atau uswah dalam diri masyarakatnya, yang memberikan pengalaman spiritual. Bukan hanya menciptakan adegan-adegan atau lakon-lakon bagus dan bermoral di atas panggung kepesantrenan. Karena nyantri bukan hanya sebuah prose belajar-mengajar,pesantren bukan hanya pendidikan biasa seperti yang banyak dipahami secara keliru. Tapi juga sebuah peristiwa spiritual, sebuah upaya untuk mencari jatidiri manusia, untuk menjadi manusia yang paripurna (insan kamil). “Agar santri tidak memahami ‘kelas bersama Gus Dur’ sebatas kelas akademik, tapi lebih dari itu sebagai ajang pembentukan kemanusiaan yang ideal menurut Islam”, ujar seorang kiai di Ciganjur, Jakarta, sahabat akrab Gus Dur.

Bukan sekedar hubungan kerja, hubungan pengetahuan, berguru juga relasi pengabdian antar sesama. Ia merupakan kesempatan untuk nyantrik (mengikuti dan meneladani sang guru), untuk menemukan diri, dan juga kesempatan untuk berderma-bakti kepada guru dan komunitas. Berguru adalah sebuah pendidikan jiwa bagi para santri, untuk mengasah kepekaaan, memperhalus budi-pekerti (akhlaqul karimah), dalam berperilaku dan berpengetahuan, dan dalam bersikap terhadap berbagai aspek kehidupan. Pesantren dalam pengertian ini adalah sebuah padepokan. Untuk melakukan pemantapan- pemantapan sikap dan kepribadian, sehingga akhirnya mampu menyampaikan suara, posisi, sikap atau pendirian – untuk berbagai fenomena sosial-politik bahkan juga spiritual.

Ini bisa dibandingkan dengan hakikat dan karakter teater modern sebagaimana yang dipanggungkan dan dipraktikkan oleh Putu Wijaya. Budayawan asal Bali ini menyebut teater sebagai padepokan, sebagai kesempatan untuk mempelajari banyak hal dari seorang sutradara yang bertindak sebagai guru spiritual. “Teater bukan sekedar hubungan kerja, tapi pengabdian. Teater adalah sebuah kesempatan untuk nyantrik, untuk menemukan diri. … pendidikan jiwa terhadap para anggotanya, yang mengajarkan seni akting dan vokal, tapi perilaku dan sikap, terhadap berbagai aspek kehidupan. Teater bukan lagi sekadar pertunjukan hiburan, dengan kreasi artistik. Teater adalah sebuah komunitas spiritual”.13

Dan, pesantren, ternyata, melebihi dugaan Putu Wijaya sendiri; ia adalah panggung dahsyat dari seni memainkan berbagai lakon, akting dan vokal itu untuk kejayaan negeri ini. Itulah yang ditunjukkan KH. Hasyim Asy’ari bagi bangsa kita.[]


8 Lihat Ibid., bab 7.

9 Lihat dalam Harry A. Poeze, Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Leiden: KITLV, 2007), vol. 1, hal. 145-6.

10 Lihat Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka & Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977), vol. 4, edisi 2, hal. 169.

11 Soal ini misalnya digarisbawahi oleh Ben Anderson dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (Jakarta & Singapore: Equinox Publishing, 2006 [1972]), hal. 5-6, ketika menulis tentang revolusi di Jawa dimana aktor-aktornya adalah para pemuda yang kebanyakan dikader di pesantren.

12 Contoh ilustratif di sini adalah cerita awal berdirinya Pesantren Tebuireng, Jombang, di tangan KH. Hasyim Asy’ari. Karena gangguan keamanan dari  para  penjahat  yang  sewaktu-waktu bisa membahayakan orang-orang pesantren, Hadlratusysyekh mengambil inisiatif agar para santri bisa belajar ilmu silat. Untuk itu beliau mengutus seorang santrinya ke Cirebon meminta bantuan kiai-kiai terkenal di sana, Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Jamil Buntet dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai jago silat atau pendekar itu datang ke Tebuireng mengajarkan para santri ilmu silat. Delapan bulan kemudian, para santri sudah menguasai ilmu tersebut, dan menjadi bekal mereka untuk menghadapi para bandit. Belakangan para bandit ini bertobat dan berguru kepada sang kiai ideolog ini dan menjadi mustami pesantren.

Juga diceritakan bagaimana KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menghadapi masyarakat yang suka main judi. Beliau jelas tidak menggunakan cara kekerasan memberantas perjudian.  Tapi  beliau menggunakan pendekatan kemaslahatan untuk mengajak masyarakat ke jalan yang benar secara perlahan  dan  sabar:  beliau ikut main kartu bersama mereka, lalu bisa mengalahkan para preman pelaku judi, hingga mereka bertekuk-lutut dan mau menjadi santri dan berguru pada pendiri Pesantren Tebuireng ini. Praktik-praktik perjudian pun dengan sendirinya ditinggalkan oleh masyarakat.

Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Solo: Jatayu, 1986), hal. 6-7.

13 Lihat Putu Wijaya, Bor: Esai-esai Budaya (Yogyakarta: Bentang, 1999), hal. 297-dst.


Continue Reading

DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Fase Kehidupan di Alam Dunia (2)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan di Alam Dunia

Tujuan dan Tugas Hidup Manusia di Alam Dunia

Untuk apa manusia diciptakan dan menjalani kehidupan di alam dunia? Sebagai orang yang beriman kita wajib yakin dan percaya, bahwa Allah SWT tidak mungkin menciptakan suatu makhluk sekecil apapun kecuali pasti didasarkan pada maksud dan tujuan yang sangat agung. Mustahil Dia menciptakan sesuatu sia-sia belaka tanpa ada maksud dan tujuan.10 Oleh karena itu, kita wajib meyakini dengan sepenuh hati bahwa penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna pasti didasarkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang sangat mulia sebagai berikut:

1.   Mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.

Menurut ajaran Islam, tujuan utama penciptaan manusia sebagai makhluk yang hidup di alam dunia adalah agar mereka benar-benar menjadi hamba Allah (abdullah). Seseorang layak menyandang predikat sebagai hamba Allah (abdullah) yang hakiki, jika ia telah memiliki iman yang mantap serta bersedia mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Karena predikat sebagai hamba Allah mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Allah SWT secara total inilah yang disebut Islam. Dengan demikian, seseorang berhak menyandang predikat sebagai muslim atau muslimah (pria atau wanita yang beragama Islam), jika ia telah menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Dzariyah (51) ayat 56:

“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Ku”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Bayyinat (98) ayat 5:

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; Yang demikian itulah agama yang lurus”.

Firman Allah SWT di atas menunjukkan bahwa tujuan penciptakan manusia serta tugas yang harus dilaksanakan dalam kehidupan di alam dunia ini, tiada lain adalah; menyerahkan diri secara total kepada Allah SWTdengan melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada-Nya.Hal inibukan berarti bahwa seluruh waktu manusia sepanjang hayatnya harus dipergunakan untuk salat, puasa, membaca al-Qur’an, wirid dan bentuk-bentuk ibadah formal yang lain saja. Karena yang dimaksud dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah adalah: kesediaan manusia untuk mendasarkan semua amal perbuatannya dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam haditnya. Aturan-aturan tersebutmeliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, baik dalam memenuhi kebutuhan lahiriah maupun batiniah, serta baik dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT (hablun minallah) maupun dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia (hablun minannas).

2.   Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi

Sebagai makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna—yang dilengkapi dengan ruh, akal, qalbu, dan nafsu di samping anggota badan—manusia diberi amanat untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Sebagai khallifah, tugas manusia adalah mengolah, memanfaatkan dan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, sehingga manfaat dan maslahat, baik bagi manusia yang hidup pada masa kini, maupun bagi anak cucu yang hidup di kemudian hari. Agar manusia dapat melaksanakan tugas sebagai khalifatullah fi al-ardl, maka Allah SWT telah menganugerahkan fisik yang kuat dan sempurna, serta berbagai potensi rohaniah, bakat, minat dan talenta yang beragam sehingga mereka saling melengkapi dan bersinergi dalam membangun bumi. Dengan nafsu, manusia mempunyai kehendak dan keinginan untuk memanfaatkan serta mengolah alam. Dengan akal manusia mencari cara yang efektif dan efesien untuk mengolah dan memanfaatkan alam, serta dengan qalbu manusia diarahkan agar tidak serakah dan tidak mempergunakan cara-cara pengolahan dan pemanfaatan alam yang dapat menimbulkan kerusakan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Demikian juga firman-Nya dalam surat Hud (11) ayat 61:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (orang-orang yang membangun)”.

Sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan kreatif, bekerja keras serta tidak bermalas-malasan untuk membangun dunia ini sebaik mungkin. Meskipun demikian, manusia harus memperhatikan keselarasan dan menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, menusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak lingkungan yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.

Di samping itu, dalam membangun dunia ini manusia harus memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan orang lain, tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri. Pada masa kini dapat kita perhatikan, betapa banyak sekali orang yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Betapa banyak pabrik-pabrik yang dibangun di tengah-tengah pemukiman penduduk tanpa memperhatikan bahaya polusi bagi masyarakat sekitarnya. Betapa banyak pabrik yang membuang limbah di sungai sehingga menimbulkan polusi dan berbagai penyakit. Betapa banyak pembangunan yang justru merugikan masyarakat dan rakyat kecil karena menggusur rumah-rumah mereka dengan memberikan ganti rugi yang amat kecil dan jauh di bawah standar. Semua ini jelas dilarang oleh Allah SWT karena merusak lingkungan hidup serta dapat mengancam kelestarian peradaban dan kebudayaan umat manusia. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf (7) ayat 56:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat Rum (30) ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Qashash (28) ayat 77:

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT serta melaksanakan amanah  sebagai  khalifah-Nya  di  muka  bumi  yang  bertugas mengolah, memanfaatkan serta melestarikan alam. Hal ini perlu ditegaskan, karena dewasa ini masih banyak manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Akibatnya, banyak  manusia yang beranggapan  bahwa  tujuan  hidup  adalah  untuk  menumpuk-numpuk  kekayaan,  meniti  karier  agar  meraih  kekuasaan  dan jabatan yang tinggi dsb.

Meskipun demikian, bukan berarti manusia tidak boleh mencari kekayaan atau meniti karier untuk mencapai kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Agama Islam memperbolehkan dan bahkan memerintahkan umatnya untuk bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan harta kekayaan atau kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi hal itu bukan menjadi tujuan, melainkan semata-mata sebagai sarana untuk melaksanakan tugasnya dalam beribadah kepada Allah SWT serta sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu dalam mencari kekayaan atau meniti karier tersebut tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

3.   Berdakwah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain beriman, beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi, manusia mempuyai tugas berdakwah dengan melaksanan amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah adalah suatu ajakan atau seruan kepada orang lain untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan nyata sehingga tercipta kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam bukunya Tadzkirat al-Du’at, Bahi al-Huli mendefinisikan dakwah sebagai “upaya memindahkan manusia dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik”.11 Pemindahan situasi ini mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dsb. Berdasarkan definisi tersebut, maka dakwah merupakan proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk melakukan pemindahan atau perubahan situasi, dari kebodohan kepada pengetahuan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kemiskinan kepada kehidupan yang sejahtera, dari permusuhan dan perpecahan kepada kasih sayang dan persatuan, dari kekacauan kepada keteraturan, dari suasana mencekam kepada suasana sejuk, damai, dan tenteram.

Menurut Syekh Ali Mahfudz dalam bukunya Hidayatu al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’dli wa al-Khithabah, dakwahadalah; “mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk serta menyeru untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan buruk (amar ma’ruf nahi munkar) agar mereka

mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat”.12 Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa pada hakikatnya dakwah adalah segala aktivitas yang bertujuan mengajak orang lain untuk melakukan perubahan dari situasi yang mengandung nilai tidak islami kepada kehidupan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan nilai -nilai Islam, baik dalam bidang akidah, syariah, maupun akhlak. Kewajiban berdakwah ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

Bersambung….


10 Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

11 Bahi al-Khuli, Tadzkirat al-Du’at, (Mesir: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1952), h. 27; Quraish Shihab; Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. II, 1992), h. 194.

Continue Reading

Artikel

Keutamaan Bulan Syaban dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

KH Zainal Arifin

Published

on

By

Keutamaan Bulan Rajab dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Hari ini (Rabu, 16/03/2021) memasuki tanggal 2 Syaban 1442 H, artinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Pembahasan bulan Syaban merujuk pada Kitab Maadzi fi Syaban yang artinya “Ada apa di bulan Syaban?” Kitab ini disusun oleh putra seorang ulama di kawasan Rusaifah di sebelah utara pusat Kota Mekah, yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasaniy. Saat ini, beliau sudah berpulang ke Ramahatullah. Namun, majelis ilmu di Rusaifah masih terus hidup yang dihadiri oleh murid-murid dari segala penjuru dunia. Beliau adalah pakar hadis dan menjadi guru khususnya ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Kitab tersebut dimulai dengan membahas nama Syaban. Secara bahasa, syaban setidaknya mimiliki 3 (tiga) arti, yaitu:

  1. Bulan yang memiliki banyak cabang-cabang kebaikan
  2. Tersebar luas nampak dengan jelas/istimewa
  3. Jalan yang berada di pegunungan

Dari sisi nama, kemuliaan bulan Syaban sebagai gerbang masuknya orang beriman menuju bulan Ramadhan.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban, yang sekaligus dijadikan sebagai penuntun bagi umat muslim:

  1. Taahwilul Qiblah, yaitu diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menjadi ke arah Kabah, yang sekaligus sebagai isyarat dari Allah agar umat muslim melakukan instropeksi diri dan memperbaharui orientasi hidup. Diantaranya  adalah untuk ibadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah:”Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup dengan orientasi ibadah adalah kebahagiaan dan kenikmatan sejati di dunia dan di akhirat bersama orang-orang sholeh
  2. Rof’ul Amal, yaitu pada bulan Syaban, amal-amal dilaporkan kepada Allah sebagai pelaporan akbar dan pelaporan yang paling luas atau dapat dianalogikan dengan laporan tahunan. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Syaban, karena beliau ingin agar saat Malaikat melaporkan tahunan, Rasulullah dalam keadaan sedang berpuasa.
  3. Syahru sholawati ‘ala Nabiyi shalallahu alaihi wassalam, yaitu bulan Syaban adalah bulan shalawatnya kepada Rasulullah. Diantara keistimewaan bulan Syaban adalah Allah menurunkan ayat yang memerintahkan untuk bersholawat dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, yaitu dalam QS Al Azhab 56:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Jika ayat tersebut diperhatikan, terlihat bahwa tidak ada perintah ibadah seperti perintah bersholawat kepada Nabi SAW, karena diawali dengan penegasan bahwa Allah dan Malaikat bersholawat kepada Rasulullah. Artinya, sholawat adalah ibadah yang istimewa. Sekaligus ayat itu menjelaskan bagaimana sholawat kepada Rasulullah dengan benar, yaitu sholawat yang lengkap adalah sholawat dan salam, Allahuma shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Baca juga: Bulan Rajab, Ini Beberapa Amalannya

Selain laporan tahunan, adapula Ar-Rof’ul Shouri yaitu laporan harian. Dalam hadis disebutkan bahwa waktu untuk laporan harian adalah ba’da zawal saat dzuhur. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjaga 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat setelah dzuhur, maka Allah haram akan dirinya dari siksa Neraka” (Hadis at-Tirmidzi Nomor 428). Jumhur ulama termasuk Imam Nawawi berpendapat bahwa lebih utama melaksanakan shalat qabliyah dan ba’diyyah dzuhur masing-masing 2 rakaat atau 4 rakaat dengan 2 salam.

Dengan demikian, waktu dzuhur adalah waktu istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu sebelum dzuhur adalah saat pintu-pintu langit dibuka oleh Allah, aku ingin ada amal sholeh yang diangkat ke langit“. Jika Rasulullah yang ma’sum (terjaga dari dosa) berdoa seperti itu, hal ini berarti menjadi motivasi umat muslim untuk melakukan banyak perbaikan dari begitu banyaknya dosa di masa lalu.

Dalam kitab tesebut juga disebutkan keutamaan, keistimewaan dan hakikat sholawat kepada Rasulullah: “Orang yang bersholawat pada Nabi, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali“. Dan ada riwayat lain yang menjadi penyelamat dan pembela kita yang kurang ibadahnya di dunia.

Ada sebuah riwayat, seorang pemabuk yang bertanya pada guru cara mengatasi mabuknya. Lalu, ia dibimbing oleh gurunya dengan memintanya agar pemabuk itu membaca sholawat untuk nabi berulang kali. Sampai lidahnya terasa manis, menggetarkan hati, dan muncul kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Syaban adalah bulan bersholawat. Mari kita persiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk ibadah di bulan Ramadhan. Para shalafush sholeh telah berdoa 3 bulan sebelum Ramadhan, yaitu doa tanpa putus agar dapat merasakan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab, dan agar diberikan kesehatan dan kekuatan selama di bulan Ramadhan: “Ya Allah Berkahi di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan serta pertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan”.

Semoga kita termotivasi untuk meningkatkan ibadah mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan, dan berdoa semoga seluruh ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin

Kajian ini disampaikan oleh KH Zainal Arifin dalam Ta’lim Madinah Quran pada hari selasa, 16 Maret 2021 pukul 05.35-06.10.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan di Alam Dunia

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending