KH. Achmad Siddiq, Penggagas Khittah Nahdliyyah

Rais ‘Am PBNU (1984-1991). Tokoh utama dalam gerakan NU kembali ke khittah 1926.

Kiai Achmad Siddiq adalah putra bungsu dari KH. Muhammad Siddiq dengan Nyai Maryam. Ia lahir di Talangsari, Jember, Jawa Timur, pada 10 Rajab 1344 H / 24 Januari 1926. Kakak kandungnya, KH. Machfudz Siddiq, adalah ketua HBNO pada tahun 1937-1944.

Selain mengaji kepada orang tuanya, Kiai Achmad Siddiq juga menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Islam di Jember. Setelah itu, ia belajar di Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada awal 1940.

Ia merupakan santri yang semula menunjukkan karismanya. Ia cerdas dan tawadhu. Ia juga dikenal sebagai orang yang sanggup memegang ilmu tuwo. Tak hanya teman-teman santri, para asatidz juga segan kepadanya. Teman-teman seangkatannya di Tebuireng kelak menjadi ulama penting di NU. Mereka adalah KH. Munasir Ali, KH. Sullam Samsun, KH. Muchith Muzadi, dan lain-lain.

Di Pesantren Tebuireng, Kiai Achmad Siddiq menjadi salah satu kader utama dari KH. A. Wahid Hasyim. Ia belajar tentang pengembangan watak dan integritas kepada Kiai Wahid. Ia juga belajar tentang kemampuan berorganisasi, termasuk belajar mengetik.

Seusai menuntut ilmu di Tebuireng, Kiai Achmad Siddiq aktif di kegiatan NU. Dakwah-dakwah keagamaannya dilakukan di pesantren ash-Shiddiqiyah milik orang tuanya di Talangsari. Ia juga pada 1945 menjadi Koordinator GPII se-Karesidenan Besuki (Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi). GPII adalah ormas pemuda di bawah naungan Masyumi.

Aktivitas politik Kiai Achmad Siddiq mulai menonjol ketika pada 1955 menjadi anggota DPR RI dari partai NU. Ia juga menempati posisi yang sama pada tahun 1971. Namun, enam tahun kemudian ia memilih pulang kampung dan memimpin pesantren yang dipercayakan oleh orang tuanya.

Sebagaimana laiknya kiai pesantren NU, tali silaturahmi adalah hal yang sangat penting untuk dijaga. Mengunjungi kiai sepuh merupakan tradisi yang terus dikembangkan oleh kalangan pesantren hingga sekarang. Kiai Achmad Siddiq pun sering bersilaturahmi kepada kiai-kiai sepuh NU lainnya.

Pada suatu ketika ia bersilaturahmi kepada KH. Mas’ud atau Gus Ud, salah satu kiai khos di Pagerwojo, Sidoarjo. Saat itu, banyak tamu yang sedang mendengar dhawuh (nasihat) Gus Ud. Di sela-sela dhawuh, Gus Ud berkata bahwa nanti akan ada tamu yang datang. Sang tamu adalah calon pemimpin ulama-ulama di Indonesia.
Ternyata, tamu yang dimaksud Gus Ud adalah Kiai Achmad Siddiq. Pada saat ia datang, Gus Ud memperkenalkan dan menyuruh semua tamunya untuk takdzim. Kiai Achmad Siddiq pun tak bisa berbuat apa-apa.

Rupanya ia kemudian betul-betul menjadi pemimpin para ulama. Dalam Muktamar NU ke-27 di Asembagus, Situbondo, ia menawarkan gagasan Khittah Nahdhliyyah yang merupakan landasan berpikir, bersikap, dan bertindak warga NU. Gagasan ini dasarnya sudah dibicarakan oleh Kiai Achmad Siddiq sejak tahun 1978 dan didiskusikan dengan KH. A. Muchith Muzadi.

Kiai Muchith Muzadi menyusun kerangka hasil diskusi tersebut dan dikoreksi oleh Kiai Achmad Siddiq. Akhirnya, gagasan tersebut menjadi utuh dan dibacakan dalam Muktamar Situbondo. Gagasan ini tertuang dalam buku Khittah Nadhliyyah karya Kiai Achmad Siddiq.

Gagasan lain yang cemerlang darinya adalah konsep hubungan Islam dan Pancasila. Praktik politiknya adalah penerimaan NU atas Pancasila sebagai asas tunggal di Indonesia. Sejak saat itu, kiai-kiai NU berpandangan bahwa Indonesia adalah negara yang sudah final. Keberadaan NU dirumuskan oleh Kiai Achmad Siddiq dalam Fikrah Nahdliyyah.

Ia juga menyampaikan gagasan tentang konsep tiga ukhuwah NU dalam konteks keindonesiaan, yaitu: (1) Ukhuwah Islamiyah (konsep hubungan persaudaraan sesama umat muslim); (2) Ukhuwah Wathaniyah (konsep persaudaraan sesama warga bangsa); Ukhuwah Basyariyah (konsep yang bersandarkan pada hubungan persaudaraan sesama umat manusia).

Berbagai gagasan dari Kiai karismatik ini terus mewarnai perjalanan NU selanjutnya. Selain itu, Kiai Achmad Siddiq dikenal tegas memegang prinsip. Sebagaimana laiknya kiai yang tinggal di pesantren, ia setiap hari selalu mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan syair-syair dari suara santri. Ia juga memimpin pengajian sehari-hari. Menariknya, ia memiliki apresiasi terhadap kesenian modern. Ia dikenal sebagai kiai yang gemar mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu Michael Jackson.

KH. Ahmad Siddiq wafat pada 23 Januari 1991 setelah dirawat di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Jauh-jauh hari sebelumnya, KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek, ulama karismatik yang memimpin Sema’an Al-Qur’an Mantab, sudah “meminang” orang-orang yang akan dimakamkan di kompleks Pemakaman Aulia di Desa Mojo, Kediri. Kiai Achmad Siddiq menerima “pinangan” tersebut. Ia pun berwasiat sebelum meninggal dunia untuk dimakamkan di sana.

Sumber: Ensiklopedia Nadhlatul Ulama

Komentar
Loading...