Keunikan Mbah Hilal, Mursyid Naqsyabandiyah

0

Kisah ini bersumber dari guru Gimbal, murid langsung Kiai Hilal.

Mbah Hilal panggilan akrabnya, beliau adalah Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah yang tinggal di Dusun Njuron Tiru Lor Gurah Kediri, Jawa Timur.

Selaku mursyid, beliau dinilai agak unik, diantaranya beliau membatasi muridnya tiap angkatan sekitar 20 murid. Beberapa keunikan beliau sulit ditiru.

Suatu hari ketika datang rombongan murid baru, pertama kali yang disampaikan Mbah Hilal kepada murid-muridnya tersebut, yaitu adab Mursyid kepada murid (bukan murid ke guru). Setelah itu baru disampaikan adab murid kepada Mursyid.

Menurut Mbah Hilal, adab Mursyid kepada murid yaitu:

  1.  Mursyid tidak boleh menerima dan meminta donyo brono (harta benda) kepada muridnya.
  2. Mursyid tidak boleh memerintah murid untuk keperluan di luar kegiatan ibadah tarekat.
  3. Mursyid wajib mencukupi sandang pangan muridnya.

Sedangkan adab murid kepada Mursyid menurut Mbah Hilal ialah murid tidak boleh menolak perintah Mursyid jika terkait dengan urusan ibadah.

Guru Gimbal yang mantan pendekar dan agak mokong (nakal) ini pernah menguji konsisten tidaknya Mbah Hilal terkait dengan adab tersebut.

Selama ini yang mengisi air di kamar mandi itu Mbah Hilal (pake kerekan, bukan sanyo karena waktu itu belum ada sanyo).

Karena dianggap bukan bagian dari kegiatan ibadah tarekat. Suatu waktu jeding (bak air) atau kamar mandi dikuras habis oleh guru Gimbal, kemudian mulai diisi air.

Eh ternyata Mbah Hilal yang posisinya jauh sedang di sawah tahu (waskitho), sambil lari-lari kecil beliau mencegah guru Gimbal supaya tidak nimbo (mengisi) kamar mandi, sebab mengisi kamar mandi itu kewajiban guru, bukan murid.

Masih kurang puas, pada saat yang lain guru Gimbal menguji lagi.

Kata guru Gimbal, halaman Mushalla itu tiap pagi dan sore biasa disapu oleh Mbah Hilal. Suatu saat, selesai shalat ashar, Guru Gimbal sengaja menyapu halaman.

Mbah Hilal langsung melarang, “Kalau aku tidak boleh menyapu, saya pulang saja,” ucap guru Gimbal.

Akhirnya Mbah Hilal membuat garis kotak kira-kira satu meter persegi. Kotak itulah yang boleh disapu, lainnya kewajibannya Mbah Hilal.

Adab tersebut merupakan sikap kehatian-hatian Mbah Hilal yang patut dicontoh, karena beliau tidak mau memanfaatkan harta dan tenaga murid-muridnya untuk kepentingan dirinya atau keluarganya. Inilah contoh sikap wara’ seorang Mursyid.

Selain itu, Mbah Hilal memiliki banyak karamah yang dimiliki antara lain:

  1. Sudah masyhur diketahui bahwa bila beliau mau menjemur pakaian, maka pohon bambu yang menjulang tinggi dipanggil agar bisa mentelung (merunduk) lalu Mbah Hilal meletakkan pakaiannya dan bambu yang besar itu kembali menjulang ke atas sambil membawa pakaian.
  2. Beliau yang mengajari cara mendengarkan air sungai berhenti dan bertasbih.
  3. Saat mau wafat, beliau mendatangi santri-santrinya dan menyampaikan bahwa pada hari H agar datang ke pondok Mbah Hilal, karena mau ada acara. Ternyata betul, saat santri datang pada hari H, Mbah Hilal wafat.

Mari kita bacakan Al Fatihah untuk Mbah Hilal sang Mursyid sejati. Matur suwun kepada guru Gimbal yang membolehkan saya menulis ini sekedar untuk mengenang kebaikan para pendahulu kita.

Sumber: Dr. Ainur Rofiq ditulis Tuko Sugihwaras Prambon Nganjuk pada tanggal 22 Desember 2016.

Comments
Loading...