Kerajaan “Kaleng-kaleng” yang Pernah Muncul di Indonesia

Betapa “halu” (ber-halusinasi) kedua raja dan ratu “kaleng-kaleng” asal Keraton Agung Sejagat (KAS) Purworejo ini. Alih-alih menikmati kekuasaan di tahta dan singgasananya, hidup mereka malah berujung di balik jeruji tahanan.

Sang Raja Sinuwun alias Toto Santosa Hadiningrat dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja alias Fanni Aminadia akhirnya ditahan polisi pada Selasa, 14 Januari 2020. Raja dan Ratu keraton dengan rakyat sejumlah 450 orang itu dicokok karena dianggap menebar kebohongan dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Apalagi, setelah ditangkap terbongkar bahwa raja dan ratu keraton, yang konon katanya sudah mendapat pengakuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini, ternyata bukanlah pasangan suami-istri. Saat ini, keraton yang baru seumur jagung itu sudah disegel polisi.

Keraton Agung Sejagat bukanlah yang pertama. Fenomena munculnya keraton, kerajaan, istana atau apapun namanya, yang “kaleng-kaleng” alias palsu semacam itu sudah ada sebelumnya. Berikut diantaranya:

Kerajaan Lia Eden

Kerajaan tahta tuhan ini dipimpin seorang raja bernama Lia Aminudin. Kerajaan ini sempat menggemparkan masyarakat karena Lia Eden mengaku sebagai penyebar wahyu tuhan dan reinkarnasi Bunda Maria.

Foto: kopi17.com

Kerajaan ini mampu merekrut rakyat sejumlah 100 orang pada awal pendiriannya, terdiri dari beragam kalangan, mulai dari cendekiawan, artis, hingga pelajar. Pada Desember 1997 Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang kerajaan palsu ini. Bahkan, sang raja dua kali mendapat hukuman penjara pada 2006 dan 2009 akibat kasus penistaan agama.

Namun demikian, rupanya penjara tidak cukup membuat sang raja menghentikan “ke-haluan”, pada Mei 2015, ia membuat pernyataan yang menggelikan, yaitu soal rencana kedatangan UFO. Ia sempat meminta izin kepada Presiden dan Gubernur DKI Jakarta saat itu, untuk mendaratkan UFO tersebut di Monas.

Padepokan Dimas Kanjeng

Tahun 2016 lalu, publik juga dihebohkan dengan keberadaan padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo Jawa Timur. Pemimpinnya, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dipercaya memiliki kemampuan menggandakan uang dalam berbagai mata uang. Kemampuan ini sangat diyakini oleh para pengikutnya yang terdiri dari beragam kalangan, dari orang biasa hingga intelektual.

Sosok Dimas Kanjeng yang dipanggil sebagai “Yang Mulia” tampak disegani oleh para pengikutnya bak seorang raja, meski dirinya tidak menyebut “istana”nya sebagai kerajaan. Pria bernama Taat Pribadi ini sejak muda memang dikenal suka berburu ilmu kebatinan dan menyepi di tempat-tempat keramat. Ia mendirikan Padepokan dengan tujuan untuk kemakmuran umat, salah satu caranya dengan menggandakan uang.

Foto: liputan6.com

Padepokan Dimas Kanjeng yang memiliki badan hukum berupa yayasan dan sempat bekerja sama dengan Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI) dalam hal pembinaan budaya, bahkan AKKI telah menobatkan Dimas Kanjeng sebagai raja anom dengan gelar Sri Raja Prabu Rajasanagara Raden Mas Kanjeng. Taat Pribadi punya orang-orang kepercayaan yang disebut sebagai Sultan yang kedudukannya lebih tinggi di atas koordinator dan sub koordinator di padepokan itu.

Namun apa lacur, program-program sosial kemasyarakatan padepokan ini kemudian terbongkar hanyalah modus penipuan belaka. Taat Pribadi sendiri akhirnya ditangkap polisi karena kasus pembunuhan anak buahnya.

Padepokan Satria Piningit Weteng Buwono

Kalau yang ini tidak menyebut istilah keraton atau kerajaan, mereka membuat Padepokan, namanya Padepokan Satria Piningit Weteng Buwono. Didirikan oleh pria bernama Agus Imam Solihin, yang mengaku sebagai Tuhan sejak tahun 2005-2006. Sekte ini kemudian dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran agama.

Foto: 99.co

Selain sebagai Tuhan Agus juga mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengkalaim sebagai keturunan Soekarno. Ia mengajarkan kepada pengikutnya untuk meninggalkan salat, puasa serta menjalankan hubungan seksual bersama pasangannya secara bersama-sama dengan pengikut lainnya di dalam satu ruangan.

Agus pernah mendirikan padepokan di Permunas III Bekasi Timur, namun diusir warga dan pindah ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Agus akhirnya ditangkap yang berwajib, meski sempat melarikan diri. Ia diadili dengan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan.

Kerajaan Ubur-Ubur

Pada tahun 2018 lalu sempat muncul sebuah kerajaan bernama Ubur-Ubur. Entah dari mana asal penamaan Kerajaan Ubur-Ubur ini, sejumlah anggotanya menyatakan, penamaan tersebut hanya sekadar penamaan. Kerajaan Ubur-Ubur berada di lingkungan Sayabulu, Kota Serang, Banten. Keberadaannya juga sempat membuat warga sekitar resah.

Foto: intisari.grid.id

Kerajaan Ubur-Ubur dibentuk oleh pasangan suami istri bernama Rudi dan Aisyah. Mereka mengaku penganut Sunda Wiwitan, namun mengakui ajaran Alquran. Meski berada di Serang Banten, namun pengikut aliran sesat tersebut mayoritas warga Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menurut keterangan, Aisyah mengaku sebagai Ratu Kidul. Dalam kepercayaan mereka, Allah itu memiliki makam yang menyerupai petilasan. Mereka juga percaya bahwa Nabi Muhammad berjenis kelamin perempuan. Bahkan parahnya lagi, Aisyah memahami bahwa alasan setiap orang yang pergi haji mencium hajar Aswad karena dianggap kelamin perempuan. Kabah dianggap bukan kiblat umat Islam, tetapi hanya tempat pemujaan berhala.

MUI Kota Serang akhirnya menyimpulkan mereka bukan Islam, bahkan ajaran mereka dianggap telah menodai agama Islam dan diduga ajaran sesat. Kegiatan pasangan Rudi dan Aisyah tak lain hanya modus penipuan. Pasangan ini mengumpulkan sejumlah uang dari pengikutnya dan disimpan di sejumlah bank di dalam dan luar negeri.

Jika diperhatikan, hampir semua bentuk kerajaan palsu ini memiliki kegiatan dan tujuan yang sulit dicerna dengan logika sehat. Tapi kenapa, kelompok-kelompok ini selalu saja bisa merekrut banyak anggota?

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono, sebagaimana dikutip Kompas, menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan yang menyebabkan munculnya kerajaan palsu semisal Keraton Agung Sejagat.

Pertama, munculnya kekecewaan masyarakat terhadap negara dan pemerintahan yang tidak mampu memberi ketenangan. Rakyat selama ini disuguhkan pemerintah yang isinya kegaduhan melulu.

Kedua, kepercayaan kepada nilai-nilai fatalistik masa lalu yang masih kuat di masyarakat. Orang Jawa biasanya memiliki kepercayaan yang kuat terhadap budaya masa lalu. Mereka cenderung meyakini bahwa kekuasaan itu bukan sekadar legal formal tapi juga adanya kekuatan dari leluhur atau wahyu.

Keyakinan yang kuat mengenai hal tersebut, kemudian dikawinkan dengan kondisi sosial masyarakat yang penuh masalah seperti kemiskinan, pengangguran dan lain-lain, menjadikan tawaran alternatif yang menjanjikan kesejahteraan sebagaimana dilakukan raja dan ratu KAS menjadi sangat menarik.

Kesimpulannya, fenomena kerajaan “kaleng-kaleng” ini akan terus berulang dari waktu ke waktu dalam bentuk dan modus yang berbeda-beda, selama masyarakat masih belum merasakan apa yang dinamakan dengan “gemah ripah loh jinawi” atau kesejahteraan. Tak kalah penting perlunya selalu menambah pemahaman dan kesabaran dalam beragama.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...