Kenapa Manusia Modern Mendamba Tasawuf?

Kenapa kita sharing, membahas, mendiskusikan, menyebarkan ajaran ajaran tasawuf ini. Pertama, sebetulnya sudah sejak mungkin sekitar setengah abad terakhir, dunia secara keseluruhan, nanti kita akan lihat dunia Islam mungkin baru sekitar 30 tahunan setelah itu dan saya akan sampaikan alasannya. Kenapa kok dunia Islam terlambat 30 tahun di dalam kegairahan kembali kepada tasawuf?

Jadi kira-kira setengah abad terakhir ini kita lihat mulai dari Eropa kemudian di Amerika Serikat itu sudah ada kegairahan baru terhadap tasawuf. Di tahun 60-an misalnya, kita sudah memulai mendapati adanya kaum muda yang biasa disebut sebagai ‘Hippie.’ Ya anak-anak muda yang sedang mencari jati diri yang kemudian masuk ke dalam kelompok-kelompok spiritualitas Hindu, misalnya. Sebagian di antara mereka sampai pergi ke India, sebagian komunitas mistisisme India itu membuka cabang atau tokohnya berpindah ke Eropa sebagian ke Amerika. Itu karena ada kegairahan baru khususnya di kalangan anak muda Eropa dan juga di Amerika Serikat kepada spritualitas atau mistisisme.

Kita ingat bahwa di tahun-tahun itu 60, 70-an juga ada satu band yang sampai sekarang masih dianggap band yang paling legendaris, yaitu ‘The Beatles’ yang tokoh-tokohnya juga misalnya pergi ke India, mempelajari spiritualitas India dari Hare Krishna dan lain sebagainya.

Kenapa itu terjadi di tahun sekitar 60-an, 70-an?, seperti saya katakan tadi, di dunia Islam kecenderungannya baru 10 tahun kemudian. Sebetulnya ini ada hubungannya dengan telah dicapainya satu tingkat kemakmuran khususnya di Eropa dan di Amerika itu. Jadi orang itu kalau masih mengejar kemakmuran material, itu dia masih merasakan kegairahan hidup. Tapi ketika kemudian kemakmuran itu sudah dicapai dan dia tadinya mengira bahwa dengan memiliki tingkat kemakmuran tertentu maka hidupnya bahagia, dia justru mendapati, loh yang dikejar itu sudah diperoleh, tapi kenapa masih terasa ada kehampaan di dalam hati orang.

Nah, di tahun 60-an itu Eropa menang Perang Dunia ke-2 di tahun 45-an, sudah 15 tahun menikmati dominasi atas seluruh dunia, di Amerika pun sudah tercapai kemajuan-kemajuan atau kemakmuran material yang cukup tinggi. Orang-orang di Eropa dan Amerika sudah menikmati kehidupan yang enak secara material. Justru pada saat itu mereka merasakan kekosongan ini, mereka seperti mendapatkan satu pencerahan bahwa ternyata kebahagiaan yang mereka cari ini, bukan terletak pada kemakmuran material.

Tadinya sebelum mereka mencapai, meraih kemakmuran material yang mereka impikan itu mereka yakin, nanti kalau saya makmur saya akan bahagia. Tapi kenyataan tidak begitu, setelah mereka makmur, mulai mengalami kemakmuran, mereka masih merasakan kekosongan di dalam hati mereka, kekosongan spiritual. Nah, ini yang membuat mereka kemudian mencari-cari, di mana ini kebahagiaan harus dicari, dan mereka kemudian menoleh kepada spiritualitas, karena kebetulan spiritualitas pada waktu itu belum berkembang di barat. Maka mereka mencari terutama ke hinduisme belakangan juga ke budhisme. Misalnya sampai sekarang, Dalai Lama itu juga menjadi salah satu panutan. Banyak selebritis Hollywood misalnya, itu menjadi murid-muridnya Dalai Lama, dan perkembangan ini terus berjalan di barat.

Majalah Time tahun 90-an misalnya, pernah menurunkan satu artikel tentang bagaimana masyarakat Amerika itu kembali kepada Tuhan. Tidak mesti kembali ke gereja sebagai simbol agama institusional, agama kelembagaan. Tapi kembali kepada Tuhan, kembali kepada spiritualitas. Time malah menunjukkan betapa kelirunya mereka ketika di tahun 40-an pernah menurunkan laporan utama tentang akan matinya agama dan Tuhan. Pada kenyataannya di tahun 90-an justru Tuhan makin hidup dan orang makin bergairah kepada spiritualisme atau mistisisme.

Di antara salah satu tokohnya di Amerika misalnya ada Deepak Chopra. Deepak Chopra itu pernah juga menjadi trainer. Apa yang dia trainerkan itu bersifat spiritual, dia menulis buku misalnya The Seven Spiritual Laws of Success. Dia ini trainer terbesar dan terkaya di Amerika Serikat. Sehingga majalah Time menurunkan laporan utama tentang Deepak Chopra. Banyak perusahaan-perusahaan besar di Amerika, itu mulai memanggil pemimpin-pemimpin spiritual untuk melakukan training-training SDM di perusahaan untuk karyawannya di perusahaan mereka masing-masing.

Kalau kita buka Google misalnya, kita akan mendapati bahwa kata ‘Tuhan’, kata ‘spiritualitas’ itu termasuk di antara kata-kata yang paling sering diketikkan sebagai keyword ketika orang mau akses internet. Jadi dari berbagai sisi ini kita melihat bahwa spiritualitas kembali lagi, dan makin lama makin besar termasuk di Eropa. Yang menarik juga bahwa spiritualitas ini akhirnya tidak hanya terbatas pada spiritualitas Hindu dan Budha.

Spiritualitas Islam pun mulai mendapatkan perhatian di tahun 90-an. Itu ya buku-buku Rumi misalnya itu, termasuk buku yang paling laku, buku spritualitas yang paling laku di Amerika, tidak kurang dari seperti Madonna, Goldie Hown itu di berbagai kesempatan publik membaca puisi-puisi Rumi, dan puisi-puisi Rumi sangat disukai di sana. Juga ada guru guru Sufi yang berhijrah ke Amerika. Ada Bawa Muhaiyaddeen, kemudian ada sufi dari Iran Fadhlullah Haeri, yang menulis banyak buku termasuk pengantar tasawuf dan lain sebagainya, dan di Amerika itu sampai ditulis sebuah buku tentang Tasawuf di Amerika Serikat. Ada buku khusus Tasawuf di Eropa untuk menunjukkan kegairahan baru orang Eropa dan Amerika kepada mistisisme pada umumnya, bahkan terhadap tasawuf.

Ini yang menyebabkan kita berpikir bahwa sudah waktunya sekarang, kita juga memberikan gambaran tentang tasawuf. Agar orang tertarik kembali kepada tasawuf yang lama dilupakan. Lalu orang memiliki pemahaman yang benar terhadap tasawuf, karena selama ini tidak sedikit juga muncul kelompok-kelompok paguyuban di Eropa, di Amerika dan juga sampai ke Indonesia yang melihat tasawuf semata-mata sebagai aliran ‘New Age’. Padahal banyak perbedaan antara aliran New Age dan tasawuf. Misalnya di dalam tasawuf yang dilihat sebagai aliran New Age ini, spiritualitas seringkali dipisahkan dari syariah.

Padahal kalau kita mempelajari tasawuf, maka spiritualitas tidak bisa dilepaskan dari syariah. Jadi, sharing kita pada hari ini kita maksudkan untuk menarik perhatian orang, meluruskan pemahaman tasawuf dan menjadikan tasawuf sebagai obat mujarab bagi adanya kecenderungan orang ber-Islam dengan orientasi hukum dan politik. Yang tidak jarang menyebabkan terkristalnya kebencian satu kelompok muslim kepada muslim lain, terkristalnya kebencian antara orang muslim dan orang beragama lain. Sehingga mudah-mudahan ini bisa menjadi antitesis, bisa menjadi obat yang mengembalikan Islam sebagai agama yang berorientasi rahmatan lil alamin, berorientasi kasih sayang, karena seperti akan kita lihat nanti tasawuf itu tidak lain dan tidak bukan adalah mazhab cinta di dalam ajaran Islam.

Oleh: Dr. Haidar Bagir

Komentar
Loading...