Kemenangan Hakiki Lawan Covid-19, Bukan “Menang-menangan”

Sejumlah negara menyatakan diri telah menang melawan Covid-19, kendatipun Organisai Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, belum ada satu negara pun yang benar-benar menang melawan virus Corona.

Saat ini, kasus infeksi virus tersebut bahkan telah mendekati angka 5 juta orang di seluruh dunia.

Dilansir CNBC, sejumlah negara di Asia mengklaim telah memenangkan peperangan melawan Covid-19, antara lain Taiwan, Hong Kong dan Vietnam.

Menurut para ahli, mereka berhasil karena pemerintahnya umumnya lebih cepat dan tanggap dalam memberlakukan tindakan pencegahan. Selain juga negara-negara tersebut telah berpengalaman menangani wabah SARS yang merebak pada tahun 2002-2003.

Taiwan dengan jumlah penduduk sekitar 24 juta jiwa memiliki kasus Covid-19 sebanyak 440 kasus terkonfirmasi, 398 sembuh dan 7 meninggal dunia. Negara itu punya cara jitu untuk menekan pandemi Covid-19, yaitu dengan memanfaatkan penggunaan big data serta teknologi informasi.

Seperti diketahui, Taiwan sejak sejak lama menggunakan teknologi dalam berbagai hal, seperti mengintegrasikan asuransi kesehatan nasional dan database imigrasi dan bea cukai. Teknologi ini sangat memungkinkan pemegang otoritas mengidentifikasi kasus-kasus potensial berdasar riwayat perjalanan dan gejala klinis mereka.

Pemerintah menutup perbatasan, melarang ekspor masker dan meningkatkan produksi masker dalam negeri sebagai antisipasi. Imbauan penggunaan masker dilakukan sejak awal, bahkan sebelum anjuran WHO.

Negera lainnya adalah Hong Kong. Memiliki populasi sekitar 7,5 juta jiwa dengan kasus COVID-19 sebanyak 1.056 kasus terkonfirmasi, 1.025 sembuh dan 4 orang meninggal.

Kuncinya, Hong Kong relatif cepat memperketat kontrol perbatasan, menerapkan karantina yang ketat, dan mengambil langkah-langkah sosial yang luas seperti menutup kantor pemerintah, sekolah dan membatalkan acara-acara berskala besar.

Di samping itu, keberhasilan Hong Kong tak lepas dari peran warganya yang patuh. Warga Hong Kong rela melakukan pencegahan diri seperti mengenakan masker, jauh sebelum pemerintah mereka mengeluarkan anjuran resmi.

Satu lagi adalah Vietnam, dengan populasi lebih dari 97 juta jiwa negara ini memiliki kasus Covid-19 sebanyak 324 kasus terkonfirmasi, 263 sembuh dan nol kematian.

Meski berbatasan langsung dengan Cina, Vietnam termasuk negara yang paling awal mengetatkan kontrol perbatasan, yaitu sejak Januari 2020.

Perang Lawan Covid-19 di Indonesia

Perang melawan Covid-19 di Indonesia masih jauh dari kata menang. Kebijakan pemerintah yang kurang konsisten serta ketidak-sinkronan penanganan antara satu wilayah dengan wilayah lain, bahkan terkesan “menang-menangan”, membuat penularan virus Corona malah kian menjadi.

Banyak kebijakan yang kabur dipahami masyarakat. Seperti soal kebijakan “mudik” dan “pulang kampung”, transportasi darat ditutup namun transportasi udara tetap dibuka, dan sebagainya.

Belum lagi soal definisi “berdamai” dengan Covid-19. Di satu sisi diminta perang, namun di sisi lain diminta berdamai.

Definisi “menang” saja dalam konteks melawan Covid-19 masih kabur di masyarakat, juga media.

Misal, media menyebut bahwa Jawa Timur sebagai peringkat teratas dalam kasus baru Covid-19 dengan 502 kasus sehari, Jawa Barat peringkat kedua dengan 86 kasus, dan DKI Jakarta di urutan ketiga dengan 65 kasus, (data 21 Mei 2020).

Memangnya “menang” melawan Covid-19 itu diukur dari banyaknya penambahan kasus? Pemeringkatan seperti ini terkadang juga menyesatkan.

Kemenangan Hakiki

Memenangkan peperangan melawan Covid-19 tidak bisa dilakukan tanpa sinergi dan kolaborasi apalagi kalau sekadar untuk “menang-menangan” antar wilayah, pemimpin daerah atau antar kelompok.

Virus Corona tak bisa dilawan oleh individu, kelompok atau pemerintah semata, tapi oleh seluruh elemen masyarakat.

Idul Fitri tahun 1441 H ini umat Islam harus menahan diri, mengalah untuk tetap bertahan di rumah. Beribadah, bersilaturahmi, bermaaf-maafan dari rumah selama pandemi Covid-19 masih belum mereda. Semoga dengan sikap ini, kita mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...