Keberpihakan Islam Pada Dhuafa

0

Dhuafa jama’ dari kata ضعيف yang berasal dari akar kata ضعف يضعف ضعف yang bisa bermakna lemah atau berlipat ganda. Dari kata ini bisa lahir kata مستضعفين، ضعفاء ضعاف atau مستضعفون

Ar Raghib Al Asfahani menjelaskan bahwa kata الضعف lawan dari kata القوة yang bermakna kuat, lemah disini bisa secara fisik (badani), jiwa (nafsi) atau keadaan (hali). Yang lemah secara fisik bisa termasuk di dalamnya anak kecil atau bayi, orang tua, orang cacat ataupun yang sedang sakit dan sebagainya.

Sedangkan yang lemah secara jiwa, bisa diartikan lemah secara mental, kemauan dan motivasi dan sebagainya.

Adapun yang lemah secara keadaan bisa beragam bentuknya, bisa lemah secara intelektual, emosional, spiritual, finansial dan sosial dan sebagainya.

Islam sejak awal amat memperhatikan bagaimana bayi perlu diberi ASI, orang tua yang harus diperlakukan dengan Ihsan, hak bagi yang sakit untuk dijenguk dan kita akan mendapatkan pertolongan dari-Nya selama mau menolong saudara kita.

والله فى عون العبد ما كان العبد فى عون أخيه

Dalam tuntunannya ada juga ada ajaran untuk saling menasehati dengan tulus dan santun serta sebisa mungkin menutup aib saudara, sebab bisa jadi orang melakukan kesalahan karena lemah secara intelektual, emosional atau spiritual.

Keberpihakan Islam juga terlihat dari banyaknya instrumen penyaluran harta untuk membantu dhuafa, misalnya ada zakat, shadaqah, infaq, hibah, waqaf dan sebagainya.

Ibadah ritual yang tanpa diaktualisasikan dengan kepedulian sosial bisa dinilai kehilangan substansi dari ibadah tersebut, dalam surah Al ma’un pelakunya bisa dinilai sebagai pendusta agama.
Lebih lanjut dalam surah tersebut yang dikecam bukan hanya yang menghardik anak yatim namun juga mereka yang tidak menganjurkan memberi makan, artinya Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil’alamin menghendaki agar setiap manusia saling bantu membantu sesuai kemampuannya.

Inti ajaran Islam adalah tauhid dan bukti ketauhidannya ditunjukkan dengan membantu dan berpihak pada saudaranya yang lemah sehingga kita semua bisa bergotong royong saling mengisi berdasarkan potensi dan kekuatan masing masing. Wallahu A’lam bisshawab.

Oleh: Saepuloh

Comments
Loading...