Karamah Foto Gus Dur di Pedalaman Papua

0

Berawal dari saya sebagai penjual ayam. Banyak masyarakat pendatang maupun asli Papua sebagai langganan.

Namun mereka masih belum dikatakan sempurna dalam menyembelih secara syar’i.

Dari situlah awalnya, saya berikan sedikit demi sedikit arahan.

Alhamdulillah banyak yang meniru.

Benar sekali, di sini muslim sangat minoritas.

Banyak sebenarnya kelompok Islam, namun berhaluan keras. Sehingga masayarakat asli merasa terusik.

Makanya ketika awal pembangunan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (PPMQ), mereka mengira bahwa kami sama halnya dengan mereka.

Alhamdulillah lama kelamaan mereka tahu dan bahkan mau belajar Al Quran.

Saya tidak punya ilmu Al Quran sebaik sahabat-sahabatku di group ini, hanya alif ba’ta’. Namun semua kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasehat romo Kiai Yusuf Masyhar.

Awal berdirinya PPMQ AL QALAM, semua menolak, bahkan dari pihak lintas gereja menolak keras. (maaf saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu). Dari Majelis Rakyat Papua juga menolak. Kami dikepung, dengan berbagai macam sajam, tombak, panah, parang dll.

Mereka hendak mengusir kami.

Mereka masuk ke pondok, ke ruang utama, di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, foto Mbah Hasyim dll.

Ketika itu, sontak kepala suku besar berteriak. “Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?”

Saya diam tidak menjawab.
Karena memang kondisi saat itu mencekam.

Akhirnya mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya.

Mereka berteriak “Gus Dur… Gus Dur,.. Kita punya orang tua, NU kita punya Saudara…”

Lalu mereka berkata langsung ke saya, “Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yg jaga…” Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.

Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri. Dengan dukungan mereka juga.

Sahabatku semua, ini kisah nyata yang kami alami di Papua Barat. Banyak yang belum saya ceritakan. InsyaAllah lain waktu.

Doa, berkah, serta ridha guru-guru kita di pondok sangatlah penting.

Sekali lagi, berpeganglah pada Al Quran dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk.

Oleh: H. Darto Syaifuddin
Penulis Alumni Tebuireng

Comments
Loading...