Jiwa Yang Merdeka

Tidak ada di dunia ini yang lebih membahagiakan dibanding rasa merdeka. Semua orang berjuang supaya merdeka. Semua orang menginginkan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tetapi seluruh gerakan kemerdekaan dan kebebasan sering kali menghadapi belenggu baru yang lebih besar dibanding lapisan yang membelenggu kebebasan di masa lalu.

Para sufi memiliki konsep yang luar biasa tentang kebebasan dan kemerdekaan diri. Mereka biasanya mengutip satu ayat, QS. Al-Hasyr, 59:9;

 وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka memprioritaskan orang lain dibanding dirinya sendiri walaupun sebenarnya di dalam dirinya ada masalah yang cukup berat. Kenapa manusia bisa memprioritaskan orang lain walaupun dirinya sendiri penuh dengan masalah yang berat. Tapi dia begitu rela mengorbankan untuk yang lain.

Ini karena orang ini telah merdeka sebenarnya jiwanya. Dia tidak terbelenggu oleh ego nafsu, kepentingan-kepentingan. Karena sebenarnya yang membelenggu kita adalah bayangan-bayangan yang tersembunyi di balik imajinasi kenikmatan, imajinasi hewaniyah kita. Bahkan bayangan tentang sadisme di dalam diri kita sendiri.

Inilah yang harus kita perangi, kita usir, karena ini yang menjajah kebebasan dan kemerdekaan hati kita.

Jadi gambaran yang membebani seluruh perjalanan kita untuk merdeka rupanya kita pikul kemana-mana. Kesenangan-kesenangan, mimpi-mimpi yang indah tentang kenikmatan. Sesungguhnya itu adalah belenggu-belenggu yang menimbuni punggung kita dan membuat kita berat berjalan ke depan.

Mari kita bebaskan semua itu, jika hati kita bebas walaupun kita di tengah-tengah para penjajah. Maka sesungguhnya kita sedang merdeka. Tetapi sebaliknya, kala penjajah sudah pergi, hati kita malah memikul beban. Nafsu kita, kesenangan kita, syahawat kita kealpaan kita,

Sesungguhnya kita sedang terjajah di negeri jiwa kita sendiri. Kita mesti tegas pada diri sendiri, ibda’ binafsik mulai dari diri sendiri. Siapa yang kita lawan? Diri kita sendiri.

Sebab apabila hari ini, kita tidak berani tegas pada diri kita sendiri. Besok pagi kita kalah, Minggu depan ada tujuh kali lipat musuh yang akan mengalahkan kita. Bulan depan bahkan ada 30 musuh yang akan mengalahkan kita. Karena, ego kita, nafsu kita begitu bisa mengalahkan kita. Dia undang instrumen-instrumen yang mendukung dia berlipat ganda untuk membangun kekuatan memperbudak kita.

Kapankah kita pernah menjadi merdeka? Kapan kita akan bebas?

Sesungguhnya kebebasan itu tidak ada, hanya ada satu kebebasan yang sesungguhnya. Manakala hati kita bebas dari segala hal selain Allah rabbul’izzah.

Oleh: Dr. KH. Luqman Hakim, MA

Komentar
Loading...