Jemaah Haji Mulai Tiba di Mekah, Apa yang Terjadi di Sana?

Para jemaah haji yang jumlahnya menurun sangat drastis dibanding biasanya, akibat Covid-19, mulai berdatangan ke Kota Suci Mekah. Ritual ibadah haji akan dimulai pada hari Rabu 28 Juli 2020.

Arab Saudi merupakan wilayah yang terdampak pandemi Covid-19 terbesar di Timur Tengah, dengan hampir 269.000 orang terinfeksi, termasuk 2.760 kematian.

Pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya hari ini sudah hadir sekitar 2,5 juta kaum Muslimin di Mekah untuk melaksanakan Haji, ibadah tahunan yang menjadi pertemuan umat manusia terbesar di dunia.

Tahun ini, sebagaimana disebutkan Kementerian Haji, hanya akan ada sekitar 1.000 hingga 10.000 orang jemaah haji yang akan mengikuti ritual ibadah rukun Islam kelima itu. Para jemaah terdiri dari orang-orang yang sudah tinggal di Kerajaan Saudi yang mendapatkan izin.

Dua pertiga dari mereka berasal dari warga asing di Arab Saudi dan sepertiganya adalah warga negara Saudi sendiri.

Seorang jemaah haji, Fatin Daud, yang merupakan warga negara Malaysia berusia 25 tahun, yang sedang belajar bahasa Arab di sana, termasuk di antara segelintir orang yang beruntung, karena permohonan hajinya disetujui.

Setelah terpilih, pejabat Kementerian Kesehatan Saudi datang ke rumahnya dan melakukan test Covid-19. Ia pun kemudian diberi gelang elektronik untuk memonitor pergerakannya. Ia juga disuruh melakukan karantina mandiri selama beberapa hari di rumah.

Setelah itu, Daud dipindahkan ke sebuah hotel di Mekah, di mana ia tetap terisolasi dan masih mengenakan gelang elektronik. Sebuah kotak besar berisi makanan dikirim ke kamar hotelnya setiap tiga kali sehari ketika ia menyiapkan diri untuk pelaksanaan ibadah haji.

“Ini tidak bisa dipercaya, karena saya tidak menduga untuk mendapatkannya,” kata Daud, sebagaimana dilaporkan mercurynews.com (27/7), tentang kegembiraannya ketika ia mengetahui dirinya terpilih sebagai salah satu jemaah haji.

Ia mengatakan, dirinya senantiasa berdoa agar pandemi Covid-19 segera berakhir, untuk persatuan kembali Muslim di seluruh dunia.

“Saya yakin bahwa langkah-langkah keselamatan sedang diambil, dan bahwa satu-satunya hal yang perlu kita lakukan sebagai jemaah haji adalah mengikuti instruksi, serta mencoba yang terbaik untuk saling mendukung,” katanya.

Sementara itu, karantina menjadi tantangan tersendiri secara emosional. Daud mengatakan, ia adalah bagian dari kelompok yang terdiri sekitar 10 jemaah dari Malaysia dan Singapura. Mereka terhubung secara online dan saling berbagi kiat serta tetap berbagi informasi tentang keagamaan agar tetap menyibukkan diri.

Biaya Ditanggung Pemerintah Arab Saudi

Pemerintah Arab Saudi menanggung biaya semua jemaah haji tahun ini. Kerajaan menyediakan dari mulai makanan, akomodasi hotel, transportasi serta perawatan kesehatan.

Biasanya, ibadah haji dapat menelan biaya puluhan juta untuk satu orang jemaah, yang tidak sedikit merupakan uang yang mereka tabung seumur hidup. Ibadah haji juga biasanya menghasilkan pendapatan miliaran dolar setiap tahunnya untuk kerajaan Arab Saudi.

Selama beberapa generasi raja-raja Arab Saudi mendapat gelar sebagai Pelayan Dua Tanah Suci atau Khadim al-Haramain. Pelayanan mereka terhadap para jemaah haji adalah sumber prestise dan memberi pengaruh besar di kalangan umat Islam di dunia. Oleh sebab itu, Arab Saudi tidak pernah sekalipun membatalkan ibadah haji dalam hampir 90 tahun sejak negara itu didirikan.

Raja Salman, pemimpin Arab Saudi saat ini, biasanya memantau ibadah haji secara langsung dari Mekah. Namun saat ini ia tengah menjalani operasi untuk mengangkat kantong empedu di sebuah rumah sakit di ibukota, Riyadh, kata pengadilan kerajaan pekan lalu. Raja yang kini berusia 84 tahun itu harus tetap berada di rumah sakit untuk perawatan dan pemulihan.

Pertama Kali dalam Sejarah Modern

Pelaksanaan ibadah haji tanpa diikuti umat Muslim dari luar Arab Saudi adalah yang pertama kalinya terjadi selama kerajaan Arab Saudi berdiri. Hal ini karena untuk menghindari kepadatan dalam pelaksanaan ibadah, yang dapat menjadi sumber penularan Covid-19.

Biasanya, lebih dari 2,5 juta umat Muslim dari sekitar 160 negara, yang kebanyakan dari Asia dan Afrika, tumpah ruah di Tanah Suci saat ini. Ritual ibadah haji pun menjadi sorotan banyak mata dari berbagai penjuru dunia.

Ibadah haji juga biasanya bisa diikuti oleh berbagai usia, tapi tahun ini hanya usia 20-50 tahun saja yang dapat mengikutinya, dengan catatan dalam kondisi sehat. Ibadah haji adalah ibadah yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang memiliki kemampuan, minimal satu kali dalam seumur hidup.

Pada musim haji tahun ini, media internasional yang biasanya meliput a-z ritual ibadah tersebut, dengan berbagai pertimbangan, kali ini tidak diberikan izin oleh otoritas setempat.

Tahun ini juga, para jemaah haji harus selalu memakai masker dan hanya dibolehkan meminum air Zamzam yang telah dikemas dalam botol plastik.

Kerikil untuk melontar jumrah yang biasanya diambil sendiri oleh para jemaah sepanjang rute haji akan disterilkan serta dikantongi dulu sebelum didistribusikan ke para jemaah.

Para jemaah juga diharuskan membawa sajadah mereka sendiri-sendiri serta akan diminta untuk tetap menjaga jarak satu sama lain.

Semoga ibadah haji tahun ini, betapapun amat berbeda dari biasanya, tetap bisa berjalan lancar dan penuh khidmat. Mereka yang beruntung, dari sekian juta umat muslim yang tidak bisa hadir di sana tahun ini, bisa menjadi haji yang mabrur.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...