Connect with us

Nasional

JATMAN Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Published

on

PEKALONGAN — Demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, para ulama besar yang ikut mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menyepakati Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Nilai-nilai ini harus diwarisi umat Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN)  untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provini Jawa Tengah Farhani mengatakan, bangsa ini masih menghadapi dua isu strategis. Yakni, isu tentang kebinekaan dan upaya menggoyang Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.

“Sampai hari ini, masih ada sekelompok kecil orang, golongan maupun ormas yang ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara,” ungkapnya, saat mewakili Menteri Agama RI, untuk menutup Muktamar XII JATMAN, di pendopo lama Pekalongan, Kamis (18/1).

Berdirinya republik ini, kata Farhani, juga tidak lepas dari peran ulama besar bangsa ini. Karena, di sana ada KH Hasyim Asyari, Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo yang tergabung dalam tim Sembilan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Sejarah juga mencatat, demi persatuandan kesatuan bangsa, dari Sabang sampai Merauke, ternyata para ulama besar pendahulu kita ikhlas meninggalkan kata syariat Islam di dalam sila pertama Pancasila. “Artinya apa, untuk alasan persatuan dan kesatuan bangsa, para ulamabesar tersebut telah menyepakati Pancasila itu sebagai dasar Negara,” tegasnya.

Pancasila, juga menjadi titik temu dari semua agama yang diakui oleh Pemerintah di Indonesia. Jika dilihat secara universal, semua agama mengajarkan tentang ke-Tuhanan, nilai-nilai kemanusian, tolong menolong saling membantu, persatuan permusyawaratan, dan mengajarkan keadilan.

Sehingga, selain sebagai dasar Negara, maka Pancasila juga sebagai pandangan hidup dan pemersatu bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini. Makanya, kemudian dikenal Bhineka Tunggal Ika.

Oleh karena itu, dia pun sepakat jika para jamiyyah bisa memberikan pemahaman kepada umat. “Para jamiyyah juga diminta menjadi perekat, pendingin bukan pemanas dari umatnya, agar negeri inimenjadi negeri yang makmur dan sejahtera lahir dan batin,” ujarnya.

Isu strategis yang tidak kalah penting, dikatakan Farhani, adalah kerukunan. Berkali-kali bangsa ini dicoba oleh kelompok tertentu yang ingin memporakporandakan keutuhan ukhuwah umat Islam.

Untuk itu, dia menginginkan, agar para jamiyyah bisa memberikan pemahaman bahwa ketika bangsa ini rukun, sehingga kedamaianakan didapatkan. Karena, Indonesia dikenal oleh bangsa lain di dunia sebagai negeri yang majemuk dan multikultur, penuh keanekaragaman dan keberagaman.

Wakil Rais Aam JATMAN KH Ali Masadi juga menambahkan, para jamiyyah diminta memainkan peran dalam menjaga situasi bangsa, di tengah panasnya kontestasi tahun politik. Sehingga, saat bangsa ini menggelar pesta demokrasi, masyarakat tetap ‘adem’ dan dihindarkan dari segala bentuk perpecahan.

Pesan ini disampaikan oleh Wakil Rais Aam JATAM, KH Ali Masadi, saat memberikan sambutan pada penutupan Muktamar XII Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), di pendopo lama Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (18/1).

Menurut Masadi, selepas mengikuti muktamar di Pekalongan ini, para jamiyyah akan kembali ke daerah asal masing-masing. Untk itu, apa yang telah didapatkan selama mengikuti muktamar kali ini, sudah semestinya disampaikan kepada umat (masyarakat).

Apalagi, bangsa ini segera menghadapi hajatpesta demokrasi tahun 2018 dan 2019. Seperti diungkapkan oleh Rais Aam Idaroh Aliyah, Habib Luthfi bin Yahya bahwa di tahun politik ini para jamiyyah bisa menjadi pendingin masyarakat, bukan justeru menjadi penyebab kisruhnya masyarakat.

“Jika peran ini dapat dilaksanakan, mudah-mudahan negara Indonesia ini tetap dilindungi Allah SWT. Tetap tenang, tumaninah serta sakinah. Sehingga Negara Indonesia tetap aman sentosa dan akhirnya akan membahagiakan masyarakat kita bersama, Allahuma amin,” ujarnya.

Acara penutupan Muktamar ini jugadi hadiri oleh Wali Kota Pekalongan, Saelani Mahfudz beserta jajaran Forkompinda Kota Pekalongan serta Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi berikut jajaran Forkompinda Kabupaten Pekalongan.

Sumber : republika.co.id

Kliwonan

Habib Luthfi: Jadilah Penyejuk, Bukan Menakut-nakuti Umat

Published

on

By

Pekalongan, JATMAN Online: Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan bahwa Syaikh Dhiyauddin Ahmad bin Mushthofa Alkamsyakhonawi ra pengarang kitab Jami’ul Ushul Fil Auliya’ tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw.

“Apabila Allah ta’ala menghendaki setelah para nabinya diangkat, khususnya setelah Nabi Muhammad tidak ada Nabi lagi. Maka beliau Nabi Muhammad penutup dari segala para Nabi” Jelasnya.

Hal itu dikemukakan oleh Habib Luthfi pada Majelis acara rutinan Kliwonan di Kanzus Shalawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jum’at Pagi (16/10).

Habib Luthfi menjeleskan maka Allah ta’ala akan mengangkat seorang mukmin dari umat baginda Nabi untuk menjadi pewaris Nabi Muhammad Saw.

“Sehingga beliau (pewaris para Nabi) berdiri dikalangan umat tidak untuk pribadinya sendiri saja tapi juga untuk kepentingan umat karena beliau telah diangkat untuk bertanggung jawab atas keberadaan umat”. Kata Habib Luthfi.

Ketua Forum Sufi Dunia melanjutkan paparannya bahwa orang-orang yang telah diangkat menjadi pewaris Nabi ini telah memiliki sehat akalnya, matanya, telingnya, mulutnya, lebih-lebih sehat hatinya.

“Maka contohnya ia akan memberikan contoh bagaimana pola-pola pikir yang sehat, bagaimana pandangan-pandangan yang sehat, pendengaran yang sehat, mulut yang sehat, menjadi perekat umat dan perekat bangsa, dan jadi penyejuk umat bukan untuk menakuti-nakuti umat”. Tambahnya

Habib Luthfi kemudian menghimbau para jama’ah yang hadir untuk bersama-sama  membersihkan hatinya masing-masing.

“Apabila hati kita tumbuh nurul ma’rifah keimanan kita kuat, insyaallah jangan kan lagi corona penyakit diatas corona tidak akan nyampe kepada kita semua. Karena apa, imun kita naik, mental kita kuat”. Sambung anggota Wantimpres RI.

Habib Luthfi juga menegaskan bahwa yang penting itu tetap menaati peraturan yang sudah berlaku, tapi tolong sekali lagi jangan berlebihan, takut lah hanya kepada tuhan yang maha esa.

Maka orang-orang yang diberikan kemuliaan oleh Allah akan terasa sejuk tidak menakutkan dan selalu memberikan solusi yang baik. Itulah orang-orang yang selalu memandang ma’rifah kepada Allah. Tapi, apabila kebalikannya maka hatinya akan tertutup inilah yang paling berat.

“Maka ayo bareng-bareng menghidupkan hati kita masing-masing supaya mempunyai hati yang jernih, pikiran yang jernih, pandangan yang jernih, telinga yang jernih, maka tutur katanya juga ikut jernih”. Ujarnya. [Arip]

Continue Reading

Nasional

Umat Rejaning Karyo, Koperasi untuk Berdayakan Umat

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online: Namanya terinspirasi dari dakwah Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Dakwah yang memadukan nilai-nilai agama dan budaya. Koperasi Umat Rejaning Karyo ingin menjadi bukti dari visinya, yaitu umat makmur dalam berkarya.

Hal ini disampaikan Menteri Koperasi Bapak Teten Masduki saat mengawali pertemuan daring dengan Pengawas dan Pengurus Koperasi Umat Rejaning Karyo, Selasa (13/10) di Jakarta.

Kekuatan koperasi bukan pada modal, namun kekuatan koperasi ada pada anggota. Anggota yang taat dan selalu berpartisipasi aktif dalam seluruh kegiatan koperasi, papar Pak Menteri. Ia mengharapkan agar koperasi ini dapat menjadi penggerak ekonomi umat dan jangan sampai gagal.

Pertemuan daring ini dilanjutkan dengan kunjungan ke Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB KUMKM) serta ke Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM dalam rangka mendaftarkan Koperasi Konsumen Umat Rejaning Karyo.[Aman]

Continue Reading

Nasional

Pada Hari itu, Ribuan Bala’ akan Diturunkan

Besok kita akan bertemu dengan hari rabu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Jawa biasa menyebutnya dengan Rebo Wekasan (Rabu Penutup).

Published

on

By

Dalam kitabnya Mujarrabat ad-Dairabi Kabir (kitab yang biasa dikaji di pondok kami), Imam Ahmad bin Umar ad- Dairabi menyampaikan bahwa pada setiap tahunnya Allah Swt akan menurunkan sekitar 320.000 bala’. Dan Hari rabu terakhir di bulan Safar itulah waktu dimana bala’ itu akan diturunkan.

Pada hari itu, Syekh ad-Dairabi menganjurkan untuk melaksanakan shalat 4 rakaat dengan surat yang telah ditentukan. Setelah shalat selesai dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan doa dan wirid yang juga telah ditentukan.

Ritual ini menuai pebedaan pendapat di kalangan NU. Hadratussyaikh Hasyim Asyari menolak dan tidak menganjurkan untuk melaksanakan ritual ini. Dalam salah satu kitabnya beliau berpesan,

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كيا كتاب تقريب, المنهاج القويم, فتح المعين, التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية, المهذب لن إحياء علوم الدين, كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت

“Tidak diperbolehkan untuk mengajak dan melaksanakan shalat Rebo Wekasan dan shalat Hadiyah di bulan Syawal. Karena dua shalat itu bukanlah shalat yang disyariatkan untuk dikerjakan dan tidak ada dalilnya sama sekali. Tidak ada satu kitab muktamad pun, seperti kitab Taqrib, Minhajul Qowim, Fathul Muin, at-Tahrir dan kitab yang besar lainnya seperti kitab an-Nihayah, Muhaddzab, dan Ihya Ulumiddin yang menjelaskan ritual ini”.

Atas dasar himbauan beliau ini, Pesantren Tebuireng tidak pernah melaksanakan shalat Rebo Wekasan dan juga tidak menganjurkan para santri untuk melaksanakannya.

Namun, walaupun shalat ini tidak mempunyai dalil sama sekali, terdapat sebagian kiai Nahdliyin yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat ini dengan syarat meniatinya sebagai shalat mutlak atau shalat hajat, bukan niat shalat tolak bala’.

Pendapat mereka ini merujuk kepada Syekh Abdul Hamid bin Muhammad al-Quds yang menyatakan dalam kitabnya Kanzun Najah wa Surur bahwa memang shalat Rebo Wekasan tidak ada dalilnya sama sekali. Namun, sebagai orang Islam kita tetap dianjurkan untuk melaksanakannya dengan niatan ngalap berkah dan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh para ulama salaf dan para pembesar ulama sufi.

فَاعْمَلْ بِهَا حِيْنَئِذٍ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ، غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى مَا سِوَاهُ، لَا عَلَى أَنَّهَا مَرْوِيَّةٌ يَقِيْنًا عَنِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَزْكَى التَّسْلِيْمِ،اِقْتِدَاءً بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ الَّذِيْنَ كَانُواْ يَفْعَلُوْنَهَا، وَيَحُضُّوْنَ عَلَيْهَا، تَبَرُّكًا بِعَمَلِهِمْ النَّاجِحِ،وَتَأَسِّيًا بِالسَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ.

“Maka amalkanlah doa-doa tersebut, dengan bergantung kepada Allah, tanpa memperdulikan lain-Nya. Bukan karena doa-doa tersebut dari Nabi yang mulia tapi, karena mengikuti ulama salaf shalih yang mana mereka mengamalkannnya dan menganjurkannya. Dan juga dengan niat mengambil berkah dengan amal mereka. Juga dengan niat untuk meneladani para pembesar ulama sufi”

Ya intinya, yang tidak shalat jangan menyalahkan yang shalat. Dan yang shalat jangan bangga karena sudah merasa menyirnakan bala’.

Tutorial Melaksanakan Shalat Rebo Wekasan :

  1. Shalat Hajat dilaksanakan sebanyak empat rakat dua kali salam.
  2. Meniatinya sebagai shalat Mutlak.

اُصَلِّى سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالٰى

Atau shalat Hajat

أُصَلِّي سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعاَلَى

Bukan niat shalat penepis bala’.

أُصَلِّي سُنَّةَ لدفع البلاء رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعاَلَى

Karena dengan niat tersebut, shalat ini akan dihukumi bid’ah. Berdasar dengan apa yang telah disepakati pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya.

  1. Membaca al-Fatihah di setiap rakaat.
  2. Setelah mebaca al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Kautsar sebanyak 17 kali, surat al-Ikhlas 5 kali, surat al-Falaq sekali, dan surat an-Nas sekali. Kemudian setelah salam membaca doa:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Wallahu A’lam.[Oleh: Fiqi Junianto/M. Alvin Jauhari (Santri Tebuireng)]

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending