Jadi Pahlawan Nasional, Ini Riwayat Singkat KH. Masykur

Ketua umum Tanfidziyah PBNU (1950-1954), Panglima Laskar Sabilillah, anggota BPUKI, anggota Konstituante, pendiri UNISMA, dan Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Amir Syarifuddin ke-2, Kabinet Hatta ke-1 dan 2, Kabinet Susanti Tirtodiprodjo, dan Kabinet Ali Sastroamijoyo. KH. Masykur juga merupakan salah satu pemrakarsa Konferensi Ulama di Cipanas Jawa Barat yang menetapkan gelar Waliyul Amri Dharuri bis Syaukah kepada Presiden Republik Indonesia.

Lahir di Singosari, Malang, pada 1315 H / 30 Desember 1900 M. Pada usia sembilan tahun naik haji bersama kedua orang tuanya. Sepulang haji, mulailah ia melakukan pengembaraan dari pesantren ke pesantren. Mula-mula ke Pesantren Bungkuk di Singosari, asuhan Kiai Tohir. Kemudian ke Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Lalu dilanjutkan lagi ke Pesantren Siwalan Panji, juga di wilayah Buduran. Kemudian pindah ke Tebuireng, belajar ilmu hadits pada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Selesai di Tebuireng, meneruskan lagi ke Bangkalan, belajar kepada Syekhuna Cholil. Dari Demangan, ia masuk Pesantren Jamsaren, Solo.

Pada masa penjajahan Jepang pernah menjadi anggota Syu Sangikai (semaca dewan perwakilan daerah). Dalam masa revolusi aktif berjuang dan menjabat sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947), dan oleh Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk resmi menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

Pada saat menjabat Menteri Agama, Kiai Masykur mempunyai gagasan untuk menulis Al-Qur’an dengan ukuran raksasa yang kelak akan menjadi pusaka bagi generasi pendatang. Gagasan tersebut didukung sepenuhnya oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dengan bantuan Abu Bakar Aceh, H. Syamsiar, dan Salim Fahmi Langkat, gagasan cemerlang itu berhasil diwujudkan. Al-Qur’an pusaka itu tersimpan dengan baik di Masjid Baiturrahim, Istana Negara, menjadi Pusaka Negara.

Melalui Pemilu 1955, KH. Masykur masuk menjadi anggota Konstituante. Setelah Konstituante dibubarkan Presiden Soekarno, KH. Masykur duduk menjadi anggota DPRGR. Semasa pemerintahan Orde Baru, ia mewakili NU bersama Kiai Idham Cholid memfusikan Partai NU ke dalam PPP bersama-sama pimpinan beberapa partai politik Islam lainnya (1973). Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR/MPR RI (1977-1982) dari Fraksi PPP. Menjadi ketua NU Cabang Malang yang pertama (1926), kemudian pada 1938 menjadi anggota PBNU Surabaya. KH. Masykur juga pernah menjadi Ketua PP Sarbumusi (Sarekat Buruh Muslimin Indonesia), salah satu badan otonom NU.

Kiai Masykur wafat pada 19 Desember 1992 di Jakarta dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Singosari, Malang.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Komentar
Loading...