Islam Sebagai Agama Tengah (Washatiyah)

JAKARTA – Kita sering mendengar pandangan orang, khususnya para sarjana Barat, yang merasa heran dengan klaim agama sebagai ajaran yang penuh damai namun dalam realitasnya mereka melihat banyak tindakan kekerasan,  konflik, bahkan terorisme atas nama agama.

Lalu bagaimana wajah agama dalam cermin realitas dan idealitas. Ada yang mengatakan agama bagaikan nuklir. Ia bisa memberi manfaat yang luar biasa kepada manusia tetapi pada saat yang bersamaan bisa menjadi ancaman bagi manusia. Saya lebih suka mengibaratkan agama sebagai sebuah mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu wajah maskulin dan wajah feminim.

Wajah agama seperti ini mengikuti “wajah” Tuhan yang juga memiliki dua  “wajah”, oleh kaum spiritual disebut dengan wajah ketegaran (jalaliyyah) dan wajah kelembutan kelembutan (jamaliyyah). Tidak heran jika umat beragama juga menampilkan dua wajah, yaitu wajah keras dan wajah lembut. Idealnya kedua komponen ini sama dan sebangun.

Dalam Islam, keutuhan kedua komponen ini ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW yang dilukiskan di dalam al-Quran: “(asyidda’ ala al-kuffari ruhamaa’u baynahum) “Bersikap tegas terhadap kaum kafir dan bersikap lembut terhadap sesamanya.”

Dualitas wajah agama sesungguhnya merupakan turunan dari dualitas kualitas Ilahi yang memiliki sisi feminim dan maskulin. Dualitas ini mempunyai makna yang sangat mendasar dalam dunia kemanusiaan. Seseorang tidak boleh sembrono di dalam menjalani kehidupannya, karena meskipun Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tetapi dalam kualitas-Nya yang lain juga Tuhan Maha Pemaksa (al-Qahhar) dan Maha pendendam (al-Muntaqim). Wajah dan kualitas maskulin dan feminim pada Tuhan ternyata juga ikut menghiasi kualitas manusia. Secara personal manusia memiliki dualitas di dalam dirinya, pararel dengan dua wajah Tuhan dan dua wajah agama tadi. Manusia memiliki kualitas kejantanan dan ketegaran (masculinity/struggling) dan kualitas kelembutan dan kepengasihan (feminimity/nurturing).

Di dalam nama-nama indah Allah SWT yang dikenal dengan al-Ashma’ al-Husna yang berjumlah 99, dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu Jalaliyyah dan Jamaliyyah. Hanya saja nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang diperkenalkan dalam Al-Qur’an lebih menonjolkan sifat-sifat Jamaliyyah. Tuhan bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin (“The father of God”), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminim (“The Mother of God”). Dalam masyarakat Islam Indonesia yang cenderung berorientasi kepada fikih atau fiqih oriented, sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-‘Aziz), dan Maha Pembalas / Pendendam (al-Muntaqim).

Sedangkan sifat-sifat feminitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahman), Tuhan Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pema’af (al-‘Afuw), kurang ditonjolkan. Dampaknya ialah, Tuhan lebih menonjol sebagai sosok yang ditakuti daripada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah sekaligus mengidealkan identifikasi diri dengan “The Father  of God”, yang mengambil ciri berserah diri, kasih, dekat, dan nurturing. Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminis menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asmaul husna.

Firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 180:  “Allah mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik) maka mohonkanlah (doa) kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna tersebut. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS: al-A’raf [7]:180)

Memang idealnya manusia yang memiliki kapasitas sebagai hamba dan khalifah mampu mengadopsi kedua kualitas tersebut dengan secara proposional. Sebagai hamba, manusia tidak sepantasnya merasa dan menonjolkan sikap sifat-sifat maskulin dan kejantanan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia harus menonjolkan sikap feminim dan kelembutan di hadapan Tuhan. Sebagai khalifah, manusia tentu harus memiiki sikap maskulin dan ketegaran. Sebab bagaimana mungkin manusia bisa sukses mengelola dan memanfaatkan alam semesta tanpa ketegaran. Dosis penampilan kualitas maskulin, tidak pernah boleh meninggalkan kualitas feminim, sebagaimana Tuhan sendiri mencontohkannya. Dalam al-Qur’an surat al-Fatihah, Tuhan sebagai pribadi adalah Maha Pengasih dan Penyayang (bi ism Allah al-Rahman al-Rahim) dan kapasitasa diri-Nya sebagai Tuhan juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Rab al-‘alamin, al-Rahman al-Rahim). Karena itu, kita harus mencontoh sifat dan karakter Tuhan tersebut.

Demikianlah uraian ini ditutup dengan kutipan dari al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 24: “Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai asma’ul husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Hasyr [59]:24)

“Tuhan sebagai pribadi adalah Maha Pengasih dan Penyayang (Bi ism Allah al-Rahman al-Rahim) dan kapasitas diri-Nya sebagai Tuhan juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Rab al-‘alamin, al-rahman al-rahim). Karena itu, kita harus mencontoh sifat dan karakter Tuhan tersebut.

Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Komentar
Loading...