Connect with us

Nasional

Innalillahi, Sekretaris Majelis Ifta JATMAN KH Masroni Wafat

Innalillahi wainnaa ilaihi roojiuun, KH Muhammad Masroni Sekretaris Majelis Ifta Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) meninggal dunia karena sakit.

Published

on

Photo: MATAN Indonesia

Informasi yang beredar di grup WA alumni Futuhiyyah Mranggen Demak, MUI Provinsi Jawa Tengah, dan grup-grup WA, aktivis NU Demak menyebutkan Kiai Masroni meninggal Jumat (2/10) dan akan dimakamkan di Komplek Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy Jl. Kampung Malon RT 01 RW 06 Gunungpati, Kota Semarang, jam 08.00 wib Sabtu (3/10).

Bendahara Idarah Su’biyah Jatman Demak Ali Maskun mengatakan, tidak hanya keluarga dan santri almarhum merasa kehilangan, tetapi NU dan Jatman juga sangat kehilangan.

“Almarhum sangat tekun dan total dalam berkhidmah di NU dan Jatman di sela kesibukannya mengasuh santri Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy di Gunung Pati Semarang, ” kata Ali Maskun kepada NU Online di Demak, Jumat (2/10). Dikatakan, sebelum aktif di Jatman semasa remaja dan mudanya, almarhum aktif dan menempa diri di lingkungan badan otonom NU di Demak, yakni di IPNU dan GP Ansor.

“Semangat berorganisasinya terbawa saat Kiai Masroni mengikuti baiat thariqah dan aktif di Idaroh Aliyah Jatman saat dipimpin Habib Lutfi bin Ali Yahya,” ujarnya.

Di Jatman Pusat lanjutnya, Kiai Masroni selalu menempati pos sekretaris, mulai dari wakil sekjen, sekjen hingga sekretaris majlis Ifta Idaroh Aliyah hasil muktamar Jatman di Pekalongan beberapa tahun lalu.

“Beliau yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar MWCNU Gunungpati, Semarang gigih sekali dalam turut serta mengembangkan Jatman, seakan berbagai penyakit yang menggerogoti kesehatannya tidak dihiraukan, meski sakit sebisa mungkin tugas organisasi tetap dijalankan,” katanya.

Dia menambahkan, selama berkhidmah di JATMAN dirinya sangat terkesan dengan ketekunan alamarhum yang tak kenal lelah mengenalkan dan membimbing kalangan muda terutama mahasiswa tentang ajaran thariqah.

“Kiai Masroni terbiasa keluar masuk kampus perguruan tinggi untuk mengenalkan dan mengajarkan amalan thariqah kepada akademisi baik mahasiswa atau dosen, harapannya kampus dan mahasiswa Indonesia dapat terbentengi dari ancaman berbagai paham sesat dengan mengamalkan ajaran thariqah di bawah bimbingan guru/mursyid,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

MATAN

HSN dan Momentum Kebangkitan Teknologi Santri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Mariahnya peringatan Hari Santri Nasional 2020 yang digelar di banyak daerah menunjukkan bahwa kesadaran akan peran santri dalam membangun negeri ini tidak dapat dipisahkan.

Demikian pula dalam hal transformasi sains dan teknologi, santri harus mampu mengkomunikasikan nilai-nilai secara kontekstual. Tentu secara substantif, sangat berbeda tantangannya antara santri zaman dahulu dengan sekarang. Namun, hal-hal yang sifatnya pokok, ushul, itu kemudian secara lebih cerdas kita harapkan mampu mengkontekstualisasikan dalam dunia kekinian. Demikian dijelaskan Hasan Chabibie, Plt. Ketua Umum Mahasiswa Ahlut Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN), Kamis (22/10).

Pada kesempatan yang sama, Hasan yang juga Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud, menjelaskan bahwa dalam konteks pendidikan, generasi santri sudah sangat teruji dan mampu mewarnai di berbagai bidang. Memang yang menjadi tantangan ke depan, adalah bagaimana para santri dan santriwati mampu berperan lebih banyak dalam dunia teknologi dan informasi, demikian dikutip dari NU Online.

Pemanfaatan teknologi ini menjadi penting untuk meluaskan jalan dakwahnya agar lebih membumikan ajaran-ajaran ahlus-sunnah wal jamaah. Dan, santri seharusnya lebih mampu mewarnai dunia digital, dengan aktifitas yang ramah dan sejuk, lanjut Hasan yang juga menjabat sebagai Redaktur Ahli JATMAN Online ini.[Af]

Continue Reading

Artikel

Menjadi Santri Penjaga NKRI

“Sejak zaman penjajahan hingga keterbukaan, seperti era media sosial saat ini, para santri telah menunjukkan dedikasinya kepada negeri.”

Published

on

By

Menjadi santri adalah salah satu syarat mutlak untuk menjadi cikal bakal penerus pembawa ajaran Nabi Muhammad SAW. Sebab tanpa melalui proses pembelajaran sebagai santri, maka yang muncul adalah semangat beragama tanpa ilmu yang berujung pada kesesatan ajaran dakwah.

Santri ditempa 24 jam dalam bilik-bilik pesantren dan surau secara ketat dengan bimbingan para alim ulama atau mursyid. Sehingga apa yang dipelajarinya adalah keilmuan dari gurunya, kemudian gurunya belajar dari gurunya lagi, sampai bersambung kepada Rasulullah SAW.

Inilah yang dalam tradisi pesantren dikenal dengan istilah sanad. Selain belajar kepustakaan, santri juga diajarkan soft skill, di antaranya akhlak, adab, kepemimpinan,  kedisiplinan,  kerja sama tim hingga saling menghormati perbedaan.

Dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sejak zaman penjajahan hingga keterbukaan, seperti era media sosial saat ini, para santri telah menunjukkan dedikasinya kepada negeri, baik berperan sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara di tengah masyarakat yang majemuk.

Perjuangan santri membela Tanah Air, bahkan terlihat sejak datangnya penjajah Portugis ke Malaka pada 1511. Para santri di bawah komando kesultanan Demak melakukan perlawanan terhadap Portugis.

Kemudian di era penjajahan Belanda, kaum santri di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro (Perang Jawa tahun 1825-1830), Sultan Hasanuddin, Sultan Agung sampai KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihad melakukan perlawanan keras terhadap penjajah. Sebab bagi para santri mencintai dan mempertahankan Tanah Air hukumnya wajib.

Sebagaimana dawuh Maulana Habib Luthfi : “Jika Anda kehilangan emas, bisa beli di toko emas. Jika Anda kehilangan kekasih, tahun depan Anda bisa mendapatkannya kembali. Tapi jika Anda kehilangan Tanah Air, ke mana hendak akan mencari?”

Peran Santri dari Masa ke Masa

Tanpa mengecilkan peran pahlawan lain, peran santri sangat menonjol pada masa pergerakan di Indonesia. Tak terhitung jumlah korban jiwa dari kalangan santri yang bergabung dalam pasukan Kesultanan Demak gugur melawan Portugis di Malaka pada 1513. Kemudian, di Surabaya, ribuan nyawa santri menjadi syuhada pada pertempuran 10 november 1945.

Selain jadi motor pengerak melawan penjajah, kaum santri juga menjadi benteng ideologi Pancasila di Indonesia. Pada awal zaman kemerdekaan, kaum santri menjadi korban keganasan pemberontakan PKI di Madiun dengan ideologi komunisnya. Pada 1998 santri di Banyuwangi kembali jadi korban isu dukun santet.

Meski roda zaman terus berputar, perubahan dari zaman kolonial menuju era digital, namun para santri di negeri ini tetap berperan penting. Di era reformasi, peran menonjol itu diawali munculnya presiden dari kalangan santri, yakni KH Abdurrahman Wahid. Kemudian disusul dengan para santri yang menjabat menteri dan kepala daerah.

Kemudian, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode kedua ini juga menggandeng santri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, yakni KH Ma’ruf Amin.

Meski bentuknya berbeda, namun peran santri dalam menjaga dan mencintai negaranya masih sama. Zaman dulu, para santri mengangkat senjata berjuang melawan penjajah atau pemberontak, sembari berdakwah. Namun pada saat ini santri berkiprah dengan cara mengkritisi dan mengawal kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, serta menjadi benteng NKRI dari pengaruh masuknya ideologi takfiri dan intoleran.

Tahun 2019 lahir Undang-undang Pesantren yang isinya memberi ruang bagi para santri untuk semakin berdaya saing di semua lini. Santri dan pesantren memiliki ruang yang sama untuk berkembang seperti civitas akademika non pesantren. Hari ini para santri di pesantren tidak hanya mempelajari kitab kuning, namun juga belajar teknologi informasi, penyiaran, hingga kewirausahaan dan lainnya.

Ragam keilmuan tersebut dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi para santri agar bisa mewujudkan cita-cita luhur untuk mengabdi kepada masyarakat dan negaranya. Mereka tidak hanya dituntut melestarikan warisan ilmu agama yang luhur, namun juga harus bisa menjawab tantangan kemajuan zaman.

Tatanan dunia sekarang ini memasuki era keterbukaan, di mana segala informasi tentang apapun mudah diperoleh hanya melalui telepon genggam. Konsekuensinya, era media sosial mempermudah berbagai ideologi masuk dan mempengaruhi pemikiran masyarakat awam yang belum kuat ilmu agamanya. Di antaranya bermunculan pendakwah yang tidak jelas sanad keilmuannya, namun memiliki ribuan pengikut. Apalagi jika pendakwah tersebut ternyata menyebarkan ajaran-ajaran intoleran. 

Karena itu, para santri juga memiliki tugas berat untuk jadi duta dakwah Islam ramah rahmatan lil alamin yang melek teknologi. Mereka dituntut trampil memasuki ruang global yang serba digital, yang tetap mengedepankan keilmuan dan adab, namun harus tegas untuk menjadi benteng keutuhan NKRI.

Selamat Hari Santri, santri sehat Indonesia kuat![Mustafid]

Continue Reading

Kliwonan

Habib Luthfi: Jadilah Penyejuk, Bukan Menakut-nakuti Umat

Published

on

By

Pekalongan, JATMAN Online: Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan bahwa Syaikh Dhiyauddin Ahmad bin Mushthofa Alkamsyakhonawi ra pengarang kitab Jami’ul Ushul Fil Auliya’ tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw.

“Apabila Allah ta’ala menghendaki setelah para nabinya diangkat, khususnya setelah Nabi Muhammad tidak ada Nabi lagi. Maka beliau Nabi Muhammad penutup dari segala para Nabi” Jelasnya.

Hal itu dikemukakan oleh Habib Luthfi pada Majelis acara rutinan Kliwonan di Kanzus Shalawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jum’at Pagi (16/10).

Habib Luthfi menjeleskan maka Allah ta’ala akan mengangkat seorang mukmin dari umat baginda Nabi untuk menjadi pewaris Nabi Muhammad Saw.

“Sehingga beliau (pewaris para Nabi) berdiri dikalangan umat tidak untuk pribadinya sendiri saja tapi juga untuk kepentingan umat karena beliau telah diangkat untuk bertanggung jawab atas keberadaan umat”. Kata Habib Luthfi.

Ketua Forum Sufi Dunia melanjutkan paparannya bahwa orang-orang yang telah diangkat menjadi pewaris Nabi ini telah memiliki sehat akalnya, matanya, telingnya, mulutnya, lebih-lebih sehat hatinya.

“Maka contohnya ia akan memberikan contoh bagaimana pola-pola pikir yang sehat, bagaimana pandangan-pandangan yang sehat, pendengaran yang sehat, mulut yang sehat, menjadi perekat umat dan perekat bangsa, dan jadi penyejuk umat bukan untuk menakuti-nakuti umat”. Tambahnya

Habib Luthfi kemudian menghimbau para jama’ah yang hadir untuk bersama-sama  membersihkan hatinya masing-masing.

“Apabila hati kita tumbuh nurul ma’rifah keimanan kita kuat, insyaallah jangan kan lagi corona penyakit diatas corona tidak akan nyampe kepada kita semua. Karena apa, imun kita naik, mental kita kuat”. Sambung anggota Wantimpres RI.

Habib Luthfi juga menegaskan bahwa yang penting itu tetap menaati peraturan yang sudah berlaku, tapi tolong sekali lagi jangan berlebihan, takut lah hanya kepada tuhan yang maha esa.

Maka orang-orang yang diberikan kemuliaan oleh Allah akan terasa sejuk tidak menakutkan dan selalu memberikan solusi yang baik. Itulah orang-orang yang selalu memandang ma’rifah kepada Allah. Tapi, apabila kebalikannya maka hatinya akan tertutup inilah yang paling berat.

“Maka ayo bareng-bareng menghidupkan hati kita masing-masing supaya mempunyai hati yang jernih, pikiran yang jernih, pandangan yang jernih, telinga yang jernih, maka tutur katanya juga ikut jernih”. Ujarnya. [Arip]

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending