Connect with us

Kolom Abah

Inilah Nasab Habib Luthfi Bin Yahya Hingga Rasulullah Saw

Published

on

Jakarta, Jatman.or.id – Rais ‘Am Jamiyyah Alith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya adalah seorang ulama’ dan sufi dari Pekalongan Jawa Tengah. Beliau dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin (pagi), tanggal 10 November, tahun 1947, tepatnya tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. yang dilahirkan dari seorang Syarifah Nur binti Sayid Muhsin Maula Khilah, dan seorang ayah al-Habib al-Hafizh ‘Ali al-Ghalib.

Nasab beliau dari jalur ayahnya sebagai berikut:

1) al-Habib Muhammad Luthfi bin 2) Ali bin 3) Hasyim bin 4) Umar bin 5) Thaha bin 6) Hasan bin 7) Thaha bin 8) Muhammad al Qadhi bin 9) Thaha bin 10) Muhammad bin 11) Syeikh bin 12) Ahmad bin 13) Yahya Ba’alawi bin 14) Hasan bin 15) Alwi bin 16) Ali bin 17) Alwi bin 18) Muhammad Mauladdawilah bin 19) Ali bin 20) Alwi al-Ghuyyur bin 21) alFaqih al-Muqaddam Muhammad bin 22) Ali bin 23) Muhammad Shahib Marbath bin 24) Ali Khali’ Qasam bin 25) Alwi bin 26) Muhammad bin 27) Alwi Ba’alawi bin 28) Ubaidullah bin 29) Ahmad al-Muhajir bin 30) Isa an-Naqib bin 31) Muhammad an-Naqib bin 32) Ali al-Uraidhi bin 33) Ja’far Shadiq bin 34) Muhammad al-Baqir bin 35) Ali Zainal Abiddin bin 36) Husein ash-Sibth bin 37) Ali bin Abi Thalib suami Sayidah Fathimah az-Zahra binti Sayyidina Rasulullah Saw. #dari berbagai sumber (Toi)

Hikmah

Maqam Kewalian Habib Thaha Ciledug, Cirebon

Published

on

Suatu ketika ada orang shalih ingin tahu maqam kewalian Habib Toha Ciledug. Orang itu istikharah. Seusai shalat istikharah langsung tidur dan langsung mimpi. Dalam mimpi bertemu Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Di tempat itu, berkumpul para wali quthb di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati bertanya pada orang itu, “Tahu Habib Toha Ciledug?”

“Iya. Lha Jenengan siapa?”

“Saya Syarif Hidayatullah. Tunggu, sebentar lagi Habib Toha datang,” tak berapa lama,

“Itu Habib Toha,” kata Sunan Gunung Jati sambil menunjuk ke arah langit.

Dari langit tampak orang turun ke bawah naik sajadah, dan masih tetap memakai sandal. Semakin dekat, wajah beliau kelihatan.

Orang shalih itu bertanya pada Sunan Gunung Jati,”Lho, bukannya itu hadhratu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?”

“Iya benar. Tapi ‘alaa shuurati (dalam wajah) Habib Toha bin Yahya,” Jawab Sunan Gunung Jati.

Habib Toha terus terbang di atas kepala para wali quthb. Lalu setelah selesai keliling, naik lagi ke langit.

Sunan Gunung Jati berkata, “itulah maqam kewalian Habib Toha. Sudah tahu kan?”

“Iya, Kanjeng Sunan,” jawab orang shalih itu.

Itu adalah isyarah betapa tingginya maqam kewalian Habib Toha, Seorang Quthbul Aqthab, Sulthanul Awliya. Habib Toha juga wali min Ahlid Darraak, wali yang suka menolong orang yang lagi susah atau butuh pertolongan. Maka kalau lagi butuh pertolongan, ada masalah, minta ke Allah dengan ziarah ke Habib Toha.

Mimpi itu juga isyaroh bahwa sebelum ziarah ke Kanjeng Sunan Gunung Jati, ziarah dulu ke Habib Toha Ciledug. Kalau itu dijalankan, nanti hajat kita itu yang menyampaikan ke Sunan Gunung Jati, ya Habib Toha, bukan kita. Beliau berdua sama-sama sulthanul awliya. Hanya saja, Habib Toha lebih muda.

Demikian ketika Sunan Gunung Jati menunjukkan maqam kewalian Habib Thoha Ciledug. Semoga bermanfaat.

Penulis : Syukron Ma’mun Cirebon (Sekretaris 4 PP MATAN)
Disarikan dari dawuh Maulana Habib Luthfi pada Jumat Kliwon dini hari, 29 Januari 2021 di ndalem Maulana.

[Khumaedi NZ]

Continue Reading

Kolom Abah

Kebiasaan Abah Menulis

Published

on

Abah Menulis

Pekalongan, JATMAN.OR.ID: Sependek waktu saya telah mengenal Abah, salah satu kebiasaan beliau yang utama adalah menulis, dalam setiap kesempatan di Pekalongan maupun di Jakarta, Abah menyisipkan waktu untuk menulis diantara jadwalnya yang sangat padat.

Biasanya, Abah akan menulis di kamar, tanpa ada gangguan dan minim interupsi, beliau betah menulis hingga berjam jam.

Pagi ini, Abah menulis justru dalam kondisi yang berbeda dan baru saya lihat. Abah menulis di halaman belakang kediaman beliau, ditengah suara hujan yang sangat deras.

Abah bisa sangat fokus dan stabil, sesekali ada seekor kucing yang mendekat, oleh Abah dibelai, sambil lanjut menuliskan risalah dalam kitab tersebut.

Tulisan beliau sangat rapi, dan tersusun dengan apik. Kecepatan beliau menulis sepertinya bersesuaian dengan mengalirnya hal yang ingin disampaikan.

Yang menarik, di usia beliau yang menginjak 72 tahun, karya yang dibuat beliau ini ditulis tanpa bantuan kacamata, menandakan kemampuan penglihatan Abah masih cukup sehat.

Saya yang di sampingnya menikmati suasana tenang tersebut, tak ada pikiran untuk beranjak, karena tidak ingin perhatian Abah terusik, bagi saya kesempatan ini adalah kesempatan yang sangat berharga, dapat melihat seorang ulama besar menuangkan isi gagasan beliau dalam baris-baris kata dan ilmu yang lahir dari proses yang tentunya sangat panjang.

Tradisi menulis kitab ulama ulama salaf terdahulu telah banyak memberi arahan bagi generasi selanjutnya, menjadi mutiara mutiara hikmah bagi masa depan.

Selepas menulis, dengan pelan saya bertanya, “Abah, dalam kondisi hujan deras seperti ini, Abah bisa menulis, ya”

Dijawab, “Justru karena hujannya itu (jadi bisa menulis).”

Semoga Allah panjangkan usia Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya dalam barokah sehat wal afiat.[Habib Fikri Rumi al-Idrus]

Continue Reading

Dawuh

Amanat Abah; Jangan Kecewakan Saya!

Published

on

Amanat Abah

Assalamualaikum wr. wb.

Adik-adik mahasiswa yang saya hormati, saya selaku orang yang mempunyai inisatif berdirinya MATAN sekaligus mempunyai tujuan MATAN. Agar membuat suatu haibah atas nama MATAN, saya berani membai’at saudara-saudara hanya bersifat tabarukan saja, setelah saya mengambil bai’at saudara agar terhindar dari dosa-dosa besar, hal tersebut kami menyadari bahwa saudara adalah kaula muda yang emosinya kadang belum terkontrol, adakalanya satu bulan diamalkan setelah itu seterusnya malah ditinggalkan, oleh karena itu saya selaku orang tua tidak membai’at saudara dengan bai’at mutlak tetapi niat kita berthoriqoh dengan tabarukan, sewaktu-waktu kita tidak mengamalkannya niatnya saja tabarukan tidak berdosa.

Mahasiswa ada dua kalimat, pertama “maha” dan kedua “siswa”, dengan satu kalimat “maha” sudah menunjukan karakter intelektualitas, keilmuan, individu, kepribadian dan disilpin keilmuan, maka dalam kalimat “maha” menunjukan prilaku yang diberi ilmu sejauh mana membawa visi dan misi tersebut kedalam kesiswaan, kalimat “maha” bukan suatu yang wah sebab kalimat maha sudah diatas segalanya dan banyak digunakan untuk menjunjung sifat-sifat Allah SWT,Maha Mengetahui, Maha Adil,
Maha Bijaksana, Maha dari berbagai sifat kalimat“maha” peganti dari pada kalimat keagungan, kalimat “maha” itu tidak ada duanya.

Amanat Abah

Ke-maha-an yang ada dalam kesiswan ini adakah predikat simbolis? ataukah dengan dasar mengangkat nilai kemahanan tersebut kita mampu merealisasikanya dalam kehidupan sehari-hari, yang pertama hubungan dengan Allah SWT, Rasul, para sahabat dan para ulama, yang menjadi penyambung dari ulama-ulama yang terdahulu, apa yang dibawa oleh para ulama terdahulu? dengan modal kemahaan yang istimewa sekali untuk menjabarkan ayat per ayat dalam al-Quran, karena kalau kita tidak memiliki dengan istilah “maha”, sulit untuk bisa menafsirkan ayat ayat yang telah diturunkan oleh baginda Nabi SAW.

Thoriqoh ini bukan mengandalkan lafadz laaillaha illallah saja, kalau ideologi kita kuat adalah pembentukan SDM , sejauh mana kita bisa mengelola wafima rozaqnaakum, mestinya kalian harus
berperan aktif untuk negara kita Indonesia, semua ini di pundak kalian, tolong jaga ke-maha-an ini karena apa adanya MATAN mau tidak mau walaupun kita pandai di dunia kita pasti mengalami kekurangan, kelemahaan dan kemunduran. Maka dari itu di pundak kalian MATAN yang disiplin ilmu intelektual bisa menunjukan inilah ahli ushuluddin, orang-orang yang laaillaha illallah. Ahli thoriqoh itu ada di pundak kalian. Apakah kita menantikan belas kasihan orang lain? itulah harapan saya sebagai Rois Aam thoriqoh, tolong satu pesan saya cuma tiga kata “jangan kecewakan saya!!!”.

Malang, 19 Shafar 1433 H / 13 Januari 2012 M.

Sumber; SOP dan JUKNIS MATAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending