Inilah Cara Syaikh Abdussamad al-Palimbani Membakar Semangat Jihad Melawan Penjajah

Guru sufi memiliki peran penting dalam memperkenalkan Islam kepada rakyat pribumi di kepulauan Melayu. Sufisme telah memberikan toleransi terhadap eksistensi tradisi rakyat pribumi. Peran penting guru-guru sufi ialah dalam upaya penanaman iman pada masyarakat pribumi melalui aktivitas-aktivitas spiritual yang membawa masyarakat pada pemahaman baru tentang agama. Memosisikan al-Palimbani sebagai seorang sufi dan penganjur tarekat, tidak melepaskan al-Palimbani dalam tradisi tarekatnya.

Ada fakta bahwa al-Palimbani melakukan semacam resepsi terhadap al-Qur’an yang menjadi amalan-amalan penting dalam melakukan jihad melawan penjajah, hal ini tergambar dalam kitabnya yang berjudul Nasihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadla’il al-jihad fi sabilillah wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah. Hal ini jelas merupakan penggambaran utuh tentang konstruksi keagamaan yang kemudian dibawa masuk ke dalam sikap bernegara dalam konteks melawan penindasan di nusantara pada saat itu. Sikap jelas yang menunjukkan rasa nasionalisme kebangsaan.

Dalam kitab tersebut tercantum doa-doa penting, azimat dan “benteng diri’ yang bermanfaat bagi orang yang berjihad. Satu contoh yang bisa ditunjukkan misalnya mengamalkan bacaan ayat al Qur’an surah at taubah ayat 128. Anjuran Syaikh Abdussamad al Palimbani untuk membaca ayat ini sebanyak 10 kali selepas shalat, bisa menghindarkan diri dari gangguan musuh dan memanjangkan umur. Keterangan ini kemudian diperjelas dengan mengemukakan riwayat nabi dan tambahan penjelasan lainnya yang menjadi dorongan sugestif untuk berjihad melawan penjajah.

Tidak hanya mengurutkan ayat-ayat al Qur’an yang mendorong jihad Syaikh Abdussamad al Palimbani juga mengutip hadis-hadis nabi yang menurutnya shahih yang berisi kumpulan-kumpulan hadis tentang keutamaan jihad yang berjumlah 13 hadis pada bab tersendiri, “Fi Bayani Al Ahadits Al Waridah Fi Fadli Al Infaq Fi Tazhij Al Ghozwah Fih.

Usaha al-Palimbani melalui karyanya tersebut dapat diposisikan sebagai usaha reformasi dan bentuk perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan. Reformasi yang dimaksud ada dalam setiap lini, termasuk agama dan budaya. Selain memiliki akar historis juga memiliki akar fundamental dari ideal moral agama Islam. Dalam agama misalnya, gerakan perubahan ini berawal dari motivasi terhadap orientasi agama yang selanjutnya menuntut penafsiran baru yang sesuai dengan zamannya.

Data-data mengenai karya al-Palimbani menunjukkan bahwa tulisan-tulisannya sangat erat hubungannya dengan persoalan-persoalan Islam dan kaum muslimin di tanah air, baik yang menyangkut permasalahan keagamaan maupun politik. Kitabnya yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan jihad menginspirasi untuk menyudahi kolonialisme di tanah air serta memiliki konstribusi besar dalam kasus politik di tanah air. Dapat dikatakan bahwa al Palimbani merupakan ulama Indonesia baik secara kelahiran dan pemikiran.

Al-Palimbani merupakan tokoh penting di kawasan nusantara pada abad ke-18. Karya-karyanya secara luas dibaca oleh ulama-ulama nusantara di pesantren-pesantren. Dalam karya-karyanya al-Palimbani mengembangkan ajaran neo-sufisme. Dalam karya lainnya, ia juga menyerukan jihad melawan orang Eropa (Belanda) yang secara intensif ingin menundukkan entitas politik muslim di Nusantara.

Meskipun terdapat beberapa versi tentang Hikayat Perang Sabil Hikayat Prang Sabi, diantaranya: pertama, sebuah naskah dalam bahasa Aceh, bertanggal 11 Sya’ban 1112 H (5 Oktober 1710). Hikayat perang ini merupakan yang tertua yang dapat ditemukan. Kedua, sebuah naskah hikayat dalam bahasa Aceh, bertahun 1834 H, yang sumber rujukannya berasal dari karangan Nasihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadla’il al-jihad fi sabilillah wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah. Ketiga, Hikayat Perang Sabil yang ditulis Teungku Nya’ Ahmad (Teungku Ahmad Cot Paleu, Pidie) tahun 1894 M. Kitab tersebut memiliki pengaruh penting dalam sejarah jihad di nusantara abad XVIII. Salah satu peristiwa penting dalam sejarah jihad adalah tragedi Perang Sabil yang kemudian dikisahkan dalam naskah klasik Hikayat Perang Sabil. Atas persebaran seruan jihad yang dilakukan oleh al Palimbani inilah, Snouck Hurgronje dan Azra mengungkapkan bahwa kitab ini berhasil membakar semangat jihad.

Hal ini di dokumentasikan oleh Asrina (2007) yang mengatakan bahwa karya ini jelas ditulis dalam konteks kolonialisme Barat pada abad ke 18 M dan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perjuangan umat Islam pada saat itu:

“Mengenai Kolonialisme Barat, al-Palimbani menulis kitab Jihad fi Sabilillah dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum muslimun dalam penjajahan melawan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik Di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut.

Diambil dari buku “Tarekat dan Semangat Nasionalisme”

Komentar
Loading...