Ini yang Dilakukan Salafus Shalih di Rumah saat Wabah

Anjuran untuk tetap berada di rumah pada saat wabah melanda negeri juga terjadi di zaman kehidupan para salafus shalih. Ketika itu, tepatnya di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, wabah yang dikenal dengan sebutan ‘thaun’ melanda secara luas ke seluruh negeri, bahkan ke sebagian dunia.

Thaun atau pes digambarkan sebagai penyakit pembengkakan parah yang mematikan, menimbulkan rasa haus dan dahaga yang amat parah, serta rasa sakit yang luar biasa. Tubuh orang yang terkena wabah ini menjadi hitam, hijau atau abu-abu.

Sebagaimana diungkap Ustaz Fahmi Salim, mengutip kitab “Thabaqat”, karangan Ibnu Sa’ad, Volume 6 halaman 81, bahwa seorang ulama tabi’in bernama Masruq bin al-Ajda al-Wadi’i selalu berdiam diri di dalam rumahnya pada hari-hari saat terjadinya wabah tha’un.

Terkait wabah yang melanda tersebut, Masruq bin al-Ajda al-Wadi’i mengatakan, “inilah hari-hari untuk menjauh dari keramaian dan aku suka menyendiri untuk beribadah.”

Sementara itu, istrinya menceritakan, “Seringkali aku duduk di belakangnya sambil menangis melihat perbuatannya, beliau salatnya panjang sampai bengkak kedua kakinya.”

Siapakah Masruq bin al-Ajda al-Wadi’i?

Namanya Masruq bin Al-Ajda Al-Hamdani Al-Wadi’i Abu Aisyah Al-Kufi. Menurut Abu Bakar Al-Khatib, saat kecil Masruq bin Al-Ajda’ pernah hilang diculik, namun kemudian ditemukan lagi sehingga ia diberi nama Masruq yang artinya “dicuri”, setelah peristiwa itu, ayahnya Al-Ajda’ masuk Islam.

Masruq adalah salah seorang ulama dari kalangan tabi’in. Ia merupakan murid dari para sahabat Nabi seperti Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Aisyah binti Abu bakar.

Masyruq memiliki sifat zuhud, wara’ serta gemar beribadah. Anas bin Sirrin menuturkan, istri Masruq pernah bercerita, “Masruq pernah salat hingga kedua telapak kakinya bengkak. Terkadang aku duduk di belakangnya sambil menangis karena melihat apa yang diperbuatnya terhadap dirinya.”

Kisah Masruq menginspirasi kita, bahwa anjuran untuk “di rumah saja” #dirumahaja saat wabah Corona melanda, di satu sisi justru merupakan kesempatan bagi kita untuk lebih banyak beribadah, mendekatkan diri kepada Allah.

Barangkali, tidak mungkin untuk kita mengejar level ibadah Masruq bin al-Ajda al-Wadi’i, yang karena saking lamanya salat, kakinya sampai bengkak-bengkak. Minimal, kita bisa menyempurnakan ibadah wajib serta memperbanyak ibadah sunah yang selama ini banyak dilupakan karena kesibukan.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian, selama kita bisa memaknainya untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan ibadah kepada Allah. Ingat, wabah Corona juga bagian dari takdir Allah, pasti ada makna, tak ada yang sia-sia.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...