Ini Tantangan NU Abad Kedua Menurut Gus Nadir

0

YOGYAKARTA – Dalam acara Kajian Tematik Ramadhan berjudul “Reposisi NU: Menjawab Tantangan Abad Kedua, Menyongsong Kebangkitan Kedua”, Yayasan Nur Iman Mlangi mengundang Prof. Dr. Nadirsyah Hosein dan Nur Choliq Ridwan Intelektual Muda NU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menjadi pembicara dalam acara yang digelar di Pesantren Al Huda Mlangi (Gus Muslih Mukhtar) pada Ahad malam (26/5).

Prof. Dr. Nadirsyah Hosein yang akrab disapa Gus Nadir memaparkan apa yang menjadi tantangan NU ke depan.

“Tantangan abad kedua, 2026, apakah sama dengan 1926-2026? Tentu saja berbeda. Untuk merumuskan visi NU pada abad kedua, kita harus belajar pada visi peradaban Kanjeng Nabi Muhammad saw,” ucap Rais Syuriah PCINU Australia dan Selandia Baru tersebut.

Dosen Senior Monash Law School menjelaskan 7 visi nabi Muhammad sebagaimana dicatat oleh M. Mustafid selaku moderator.

Visi pertama Nabi Muhammad saw adalah iqra’. Membaca. Maka, visi ini diterjemahkan kyai kita dengan mendirikan pesantren. Pusat pengetahuan.

Visi kedua adalah masyarakat etis. Karena itu para kyai kita mengajarkan akhlak, tasawwuf, adab, bukan hanya aqidah atau syariah. Masyarakat ini yang saat ini sedang digemborkan Barat. Bagaimana tantangan ini dilembagakan NU? Masyarakat etis seperti apa yang hendak kita perjuangkan? Tentu saja bukan dari Barat sebab kita memiliki sumber pengetahuan tersendiri. Kita juga sudah memasuki Fase Artificial Intelligence.

Visi ketiga adalah menghargai keragaman. Visi Nabi Muhammad saw tetap menghargai keragaman dengan menegaskan anti sektarianisme. Sebab yang dilihat bukan lagi asal usul, namun ketakwaan yang melampaui politik identitas.

Visi keempat adalah masyarakat tanpa perbudakan dan penjajahan. Penjajahan fisik sudah berlalu, namun Neoliberalisme, Post Washington Consensus, jelas menjadi tantangan kita. Hal itu merupakan metamorfosis perbudakan dan penjajahan. Karena itu santri harus dibekali pengetahuan tentang Geoekonomi Global. Kita membutuhkan kemandirian ekonomi. Secara internal kita membutuhkan sistem akuntansi yang akuntabel.

Visi kelima adalah dakwah. Banyak survey menunjukkan 90% masyarakat mengaku mengikuti maulid Nabi saw, yang melakukan qunut 71%, yang ikut tahlilan 84%, yang shalat tarawih 23 rakaat 44,9%, yang ikut ziarah kubur 48,8%. Angka ini menarik jika ditafsirkan secara sosiologis. Pemilihan masa lalu, NU di pedesaan dan Muhammadiyah di perkotaan tidak relevan lagi. Di sisi lain, hal itu menunjukkan banyak yang tidak nyambung antara pikiran, ritual, dan gerakan. Ini tantangan dakwah ke depan.

Visi keenam adalah masyarakat yang berkeadilan sosial.

Visi ketujuh adalah masyarakat yang mengedepankan musyawarah. Pada Muktamar Jombang sudah diputuskan mekanisme ahwa dan pada Munas Banjar juga diputuskan pemilihan Ketua Tanfidz melalui ahwa. Tantangannya adalah bagaimana mekanisme ini juga memastikan kader nahdliyyin yang terpilih adalah yang memiliki kualitas yang dibutuhkan. (eep)

Comments
Loading...