Ini Pesan Habib Puang Makka saat Ngaji Tasawuf di Parepare

PAREPARE – Di sela rihlah perjalanan dakwah, Habib Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka memberikan materi kuliah II Ngaji Tasawuf yang diikuti oleh kader MATAN Parepare dan Pinrang, Ansor, PMII dan IPNU Kota Parepare pada Sabtu (23/11).

Ketua PCNU Parepare Dr. Kiai Hannani, MA mendukung Ngaji Tasawuf oleh Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf dengan memfasilitasi kuliah yang diadakan di Lt. 3 Gedung PCNU Parepare.

“Manusia hidup di dunia dalam keadaan “balance” seimbang, diciptakan siang dan malam, dzahir dan batin, susah dan senang yang merupakan keseimbangan kehidupan yang menjadi sunnatullah,” ucap Puang Makka.

Jika ingin menguasai jagat alam raya, maka sebagai manusia yang diutus oleh Allah SWT dan belum tentu menjadi khalifah Allah SWT, sebab predikat khalifah bukan sesuatu hal yang mudah, karena manusia ada yang disebut dalam Al Qur’an

أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ

“seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi”. (QS. Al A’raf:179).

Kriteria menjadi khalifah Allah SWT menurut ahli tasawuf adalah sehat jasmani dan sehat rohani. Sehat jasmani menandakan semangat, tidak mudah sakit fisik, tidak loyo, tegar dalam kondisi dan perubahan iklim. Sehat rohani atau sehat batiniyah ditandai dengan bebasnya dari penyakit-penyakit hati.

Ilmu tasawuf mengenal istilah insan (“tau” istilah manusia bagi orang Sulawesi Selatan) dan basyar (“rupa tau”). Kedua kondisi ini dituntut untuk senantiasa sehat, karena jika salah satu bermasalah, maka tidak dapat merasakan nikmat dan saripati makna kehidupan. Oleh karena itu, ahli sufi senantiasa menjaganya.

Secara pribadi, Puang Sayyid senantiasa berpesan kepada seluruh jamaahnya dan keluarga besar MATAN untuk senantiasa didoakan agar senantiasa sehat dan istiqamah. Menurut Rais Awal Idarah Aliyah JATMAN itu, sehat dan istiqamah merupakan perwakilan dari sehat jasmani dan rohani.

Menjaga kesehatan tubuh dapat dengan mudah diketahui melalui wilayah kesehatan medis. Sedangkan, wilayah ahli tasawuf lebih menitikberatkan pada al-insan, yaitu menangani kondisi jiwa dan batin.

Terkadang hal-hal yang suci tidak disucikan. Misalnya; meneriakkan takbir “Allahu Akbar” dalam keadaan emosi dan berhadas. Menyampaikan ceramah dan dakwah keluar dari kaidah dakwah bil hikmah, seperti menjadi contoh yang baik, ucapan yang lembut, serta berbeda pendapat yang dapat didialogkan. Bukan dakwah yang dipenuhi dengan kebencian dan keegoisan, karena hal itu menandakan jiwa yang sakit.

Puang Makka mengatakan bahwa untuk menyehatkan jiwa yang sakit dapat diterapi dengan dzikir kepada Allah SWT dan memperbanyak shalawat. Rasulullah SAW telah menyontohkan dzikir istighfar 70 kali walaupun telah terbebas dari kesalahan.

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al Fath, ayat 4).

Selain itu, perlu menjadi renungan bersama, apakah setiap kegiatan keislaman, tabligh akbar, dzikir jamaah, selaku manusia, apakah kita mampu merasakan ketenangan-ketenangan di setiap kondisi, ketentraman hati. Jika hati sehat, maka

لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.

Kesehatan hati tidak mampu dijangkau oleh ahli syariat melalui pemikiran, namun ketenangan hati hanya mampu dijangkau dengan zikir dan itu yang dimiliki oleh ahli tasawuf. Interaksi sosial tidak disibukkan mencari aib kelemahan saudara sesamanya.

Tasawuf datang untuk membedah ilmu ihsan, karena ilmu fiqih berada pada wilayah fikir, tidak ada yang mampu ke wilayah dzikir tanpa dengan ilmu Ihsan.

Manfaat kesehatan batin, akan memunculkan firasat yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ ؛ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ

Maksudnya: “Takutilah firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Tirmidzi).

Ilmu Ihsan harus mendapat perhatian untuk memahami, mengetahui dan mendalami makna Ihsan atau keruhanian.

Hidup akan menjadi kering, apabila manusia tidak mampu mengontrol diri dan tidak berusaha menyehatkan aspek lahiriah dan batiniyah. Pribadi yang belum mampu mengontrol dirinya, akan mengalami kesulitan jika bersentuhan dengan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu perlu untuk senantiasa menyentuh wilayah batin dan tidak hanya wilayah pikir.

“MATAN hadir untuk menginjeksi ketenangan batin dan mengisi kegersangan jiwa, berdasarkan bimbingan mursyid. Manusia yang mampu bertahan di era milenial dan revolusi 4.0 serta mendapatkan jati diri sebagai khalifah Allah adalah orang yang mampu menjaga kesehatan jasmani dan rohani,” kata Puang Makka.

Sejarah membuktikan hanya orang-orang tarekat atau para sufi yang bertahan menghidupkan peradaban Islam. Orang yang mampu menjawab tantangan milenial adalah yang mempunyai kekuatan batin, ilmu hikmah. (hrd/eep)

Komentar
Loading...