Ini Manaqib Singkat Habib Hasan bin Thoha bin Yahya (Syaikh Kramat Jati)

0

Al ‘Allamah Al-Arif Billah Al Quthbil Ghauts Al Habib Hasan bin Thoha bin Yahya, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Kramat Jati, lahir di kota Cirebon, dari pasangan Quthbil Aqthab Habib Thoha bin Muhammad Al Qadhi bin Yahya dengan Syarifah Fathimah binti Husein bin Abu Bakar Al-Idrus. Beliau secara nasab masih keturunan Al-Quthb Habib Syaikh bin Ahmad bin Yahya, seorang wali qutub dan terkenal ahli menghentikan segala macam bentuk pertikaian dan perpecahan.

Beliau adalah putra Habib Thoha bin Muhammad Al Qadhi bin Thoha bin Muhammad bin Syaikh bin Ahmad bin Yahya, seorang ulama yang ‘allamah (sangat alim) dan juga seorang pejuang yang gigih memerangi penjajah Portugis.

Perjalanan Habib Hasan bin Thoha bin Yahya

Sejak kecil di kota Inat-Hadramaut, beliau mendapat pendidikan langsung dari kedua orang tuanya sampai hafal al-Qur’an sebelum usia tujuh tahun. Kecerdasan dan kejernihan hati yang dimiliki, menjadikan beliau banyak hafal kitab-kitab hadits dan fiqih sejak sebelum dewasa.

Di samping belajar ilmu syariat, Habib Hasan juga belajar ilmu thariqah kepada para ulama dan auliya’ waktu itu, khususnya dari orang tua dan guru-guru beliau di Tarim. Di antara guru beliau adalah Habib Ahmad bin Umar bin Smith seorang wali qutub pada zaman itu. Selain di Tarim, guru beliau di Jawa antara lain Quthbil Ghauts Al Habib Alwi bin Abdullah Bafaqih dan beberapa ulama di Jawa, Cirebon, Banten. Beliau kemudian meneruskan ke Maghribi dan India beberapa bulan saja, dan sempat keliling ke beberapa negara Timur Tengah khususnya, sehingga banyak mendapat pengalaman dan melihat peranan-peranan penjajah seperti di Aljazair dsb.

Beliau mendapatkan ijazah gurunya dari segala bidang ilmu. Beliau melanjutkan perjalanan kembali, singgah di Penang untuk beberapa waktu untuk napak tilas ayahandanya ketika tinggal di Penang.

Habib Hasan selalu mendapat ijazah dari setiap ilmu yang didapatinya baik ijazah khusus maupun umum. Ilmu yang beliau miliki baik syariat, thariqah maupun hakikat sangat luas bagaikan lautan sehingga di kalangan kaum khash (khusus) maupun awam, dakwah beliau bisa diterima dengan mudah. Maka tak heran bila fatwa-fatwa beliau banyak didengar oleh pembesar kerajaan waktu itu.

Pada waktu muda, setelah mendapat ijin dari gurunya untuk berdakwah dan mengajar, beliau singgah di Tonja-Afrika, Maroko dan sekitarnya, kemudian ke daerah Habasyah, Somalia terus ke India, hingga sampai di Penang-Malaysia untuk menemui ayah beliau.

Setelah tinggal beberapa waktu di Penang, beliau mendapat izin dari ayahnya untuk selanjutnya berdakwah ke Pulau Jawa masuk ke Banten. Pada saat tinggal di Banten, terjadi perselisihan di Banten. Habib Hasan membantu perselisihan tersebut melawan penjajah. Meski kemudian Sultan Rofi’udin diungsikan ke Surabaya oleh penjajah. Yang akhirnya beliau diangkat menjadi Mufti Besar oleh Sultan Rofi’udin atau Sultan Banten yang terakhir waktu itu. Di Banten, beliau bukan hanya mengajar dan berdakwah, tetapi juga bersama-sama dengan pejuang Banten dan Cirebon mengusir penjajah. Walaupun Sultan Rofi’udin telah ditangkap dan dibuang ke Surabaya oleh penjajah, tetapi Habib Hasan yang telah menyatukan kekuatan pasukan Banten dan Pasukan Cirebon tetap gigih mengadakan perlawanan.

Selanjutnya Habib Hasan meneruskan perjalanan dakwahnya lagi ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di Pekalongan beliau mendirikan Pesantren dan Masjid di desa Keputran, sedangkan beliau tinggal di desa Ngledok. Pondok Pesantren itu terletak di pinggir sungai.

Pengaruh Habib Hasan mulai dari Banten sampai Semarang memang sangat luar biasa, tidak mengherankan bila penjajah selalu mengincar dan mengawasinya. Pada tahun 1206 H/1785 M terjadilah sebuah pertempuran sengit di Pekalongan. Dengan kegigihan dan semangat yang dimiliki Habib Hasan dengan santri dan pasukannya, selalu membuat pasukan penjajah kewalahan. Tetapi sebelum meletusnya Perang Paderi, Pesantren Habib Hasan sempat dibumi hanguskan oleh penjajah, beliau hijrah ke wilayah masuk ke wilayah Yogyakarta.

Sejak sekitar tahun 1790-an beliau berjuang melawan penjajah dan mengamankan daerah sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta (sekarang), yang dulu adalah wilayah Kerajaan Mataram. Oleh sebab itu, Beliau di kenal dan disegani para perampok, dan semakin ditakuti oleh penjajah. Sehingga melalui beberapa kejadian, beliau akhirnya menjadi Wedono Lebet, kemudian meningkat menjadi Patih Lebet sebagai kepala pasukan yang menjaga keselamatan keluarga besar Hamengkubuwono II sampai akhirnya beliau di amanahi menjadi Panglima Besar yang membawahi seluruh pasukan Mataram dibantu wakilnya Raden Ronggo Prawirodirjo III.

Selain keahliannya berperang, beliau dikenal juga sebagai ahli strategi, ahli intelejen, sehingga sempat dikenal sebagai Komandan Pasukan Burghoth. Selain untuk menutupi keagungan wajah beliau, juga untuk menyamar agar tidak mudah dikenali. Sehingga beliau menjadi target utama oleh Jendral Deandless dan Gubernur Timur Laut Jawa Pieter Gerald van Overstrotem.

Hubungan Habib Hasan bin Thoha & Kraton Yogyakarta

Perjuangan, kearifan, serta keluasan ilmu yang dimiliki Habib Hasan terdengar oleh Sultan Hamengkubuwono ke II, membuatnya menjadi kagum kepada Habib Hasan. Karena kekaguman tersebut akhirnya Habib Hasan diangkat menjadi menantu Sultan Hamengkubuwono ke II dan daerah yang ditempati mendapat perlindungan Kraton Yogyakarta.

Istri Habib Hasan bernama Gusti Kanjeng Ratu Bendoro atau sering disebut Kanjeng Ratu Kedaton dari Garwo Patmi Hamengkubuwoo II yang bernama Bendoro Mas Ayu Rantam Sari. Beliau adalah menantu ke-3 setelah menantu ke-2 Raden Ronggo Prawirodirjo III, adalah Ayah dari Sentot Prawirodirjo.

Dengan demikian jika ditinjau dari hubungan kekerabatan, Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan adalah paman dari Pangeran Diponegoro dan Sentot Prawirodirjo. Beliau adalah ipar dari Sultan Hamengkubuwono III (ayah Pangeran Diponegoro).

Beberapa tugas Habib Hasan yang berkaitan dengan keselamatan Sultan Hamengkubuwono II beserta kejayaan Kraton Yogyakarta adalah;

  1. Pembebasan Hamengkubuwono II sekaligus pengawalan dari masa pembuangan ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
  2. Sebagai utusan khusus Hamengkubuwono II bertemu dengan perwakilan dari Pakubuwono V tentang rencana perlawanan terhadap Inggris pada tahun 1810 di daerah Wedi-Klaten.
  3. Sebagai Panglima Besar dalam mempertahankan Plengkung Gading atau pintu utama Kraton Yogyakarta dari sisi selatan, dari serangan Inggris.
  4. Pengamanan pantai utara dari serangan kerajaan Inggris dan penjajah dengan mengerahkan pasukan-pasukan beliau yang selalu disebut Bajak Laut oleh penjajah. Padahal pasukan tersebut dikomandoi Tumenggung Sumodiningrat dengan nama kesatuan Singobarong.
  5. Penemu strategi perang Capit Urang bersama Sri Sultan Hamengkubuwono II diterapkan di laut maupun darat.
  6. Pembangunan masjid-masjid disetiap daerah dimana Beliau ditugaskan, antara lain Masjid Peninggalan Dalem Ngadinegaran, Masjid Bagelen-Purworejo, Masjid Wedi-Klaten, Masjid di Wonosari, Masjid di Kaliwungu-Semarang bersama Kyai Asy’ari.

Selain sebagai ahli strategi perang, beliau terkenal sebagai Syaikhul Akbar di tanah Jawa.

Selama mengabdi dan berjuang di wilayah Mataram, beliau beberapa kali pindah tempat tinggal, dari Purworejo, Wedi-Klaten, Magelang, dan tinggal di wilayah Kaliwungu, tinggal di suatu daerah yang sekarang di kenal dengan desa Kramat.

Di Kaliwungu beliau tinggal bersama sahabatnya bernama Kyai Asy’ari seorang ulama besar yang menjadi cikal bakal pendiri Pesantren di wilayah Kaliwungu (Kendal ), guna bahu-membahu menyiarkan Islam.

Masa Tinggal di Semarang

Setelah mendapat tugas dari Hamengkubuwono II untuk menyelesaikan kekacauan di wilayah Semarang, dimana Adipati Semarang pada waktu itu kewalahan menghadapinya. Habib Hasan mendirikan benteng pertahanan di daerah Jomblang.

Perjuangan beliau tidak pernah berhenti sampai akhir hayatnya. Hasil pertanian dari tanah yang dimilikinya, tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi selalu dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga beliau sangat dicintai oleh anak-anak, kawulo cilik, menengah sampai atas. Bahkan para prajuritnya sangat tunduk dan patuh pada beliau. Meskipun begitu, penjajah selalu memfitnah untuk menghancurkan citra beliau, namun tidak pernah berhasil. Bahkan rakyat semakin mencintai beliau.

Thariqah yang dipegang oleh Habib Hasan adalah Thariqah Saadatul ‘Alawiyyin (‘Alawiyyah), Sathariyyah, Qadiriyah, dan Sadziliyah Naqsyabandiyah. Itulah yang diterapkan untuk mendidik keluarga dan anak muridnya, seperti membaca aurad Wirdul Latif, dan istighfar menjelang Maghrib. Setelah berjamaah maghrib dilanjutkan salat sunah rawatib, tadarus Al-Qur’an, membaca Ratib dari Ratibul Hadad, Ratibul Athas, Ratibul Idrus dan wirid Sadatil bin Yahya serta Ratibnya, dilanjutkan shalat Isya’ berjamaah, selanjutnya membaca aurad dan makan bersama.

Di antara kebiasaan beliau yang tidak pernah ditinggalkan adalah berziarah kepada para auliya’ atau orang-orang shaleh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. (ziyaratul ‘ulama wal auliya ahyaan wa amwatan). Rumah beliau terbuka 24 jam dan dijadikan tumpuan umat untuk memecahkan segala permasalahan yang mereka hadapi.

Semasa beliau berdakwah dalam rangka meningkatkan umat dalam ketaqwan dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya,

Pertama; sangat menekankan pentingnya cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya yang dijadikan pintu kecintaan kepada Allah SWT.

Kedua; kecintaan kepada kedua orang tua dan guru, yang menjadi sebab untuk mengerti cara taqarrub, taqwa dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga; sangat menekankan rasa cinta tanah air. Habib Hasan adalah seorang yang lemah lembut dan berakhlak mulia tetapi sangat keras dalam berpegang teguh kepada Syari’atillah  (syariat Allah) dan Sunnah Rasul. Beliau tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadinya.

Banyak amalan sirri (rahasia) yang dilakukan oleh beliau setiap malamnya. Sehabis qiyamullail, Habib Hasan berkeliling membagikan beras, jagung dan juga uang ke rumah-rumah fuqara’ wal masakin (faqir miskin), anak-anak yatim dan janda-janda tua. Beliau sangat menghargai generasi muda dan menghormati orang yang lebih dituakan.

Pada waktu hidup, beliau dikenal sebagai seorang yang ahli menghentikan segala perpecahan dan fitnah antar golongan dan suku. Sehingga cara adu domba yang dilakukan pihak penjajah tidak mampu menembusnya. Di samping sebagai ulama’ besar, beliau juga menguasai beberapa bahasa dengan fasih dan benar.

Keturunan beliau antara lain:

  1. Sayyid Thoha, Ciledug
  2. Sayyid Muhammad
  3. Mbah Surgi Jatikusumo Batang
  4. Sayyid Ali, Mufti Besar di Yaman
  5. Sayyid Yahya
  6. Sayyid Hamid
  7. Sayyid Alwi
  8. Sayyid Umar
  9. Dewi Aisyah (Raden Mas Ayu)
  10. Raden Ayu Fatimah

Cucu beliau antara lain:

  1. Pangeran Panotogomo Sayyid Muhammad bin Ali bin Hasan, yang menjadi Sultan Alimuddin Kutai Kartanegara
  2. Diantara cucu Beliau yang di Pekalongan adalah Beliau Maulana Habib Luthfi bin Yahya; Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya.

Habib Hasan wafat di Semarang dan dimakamkan di depan pengimaman Masjid Al-Hidayah Taman Duku Lamper Kidul Semarang. Hingga saat ini, banyak peziarah yang yang datang berziarah, berdo’a dan bertawassul di makam beliau.

Demikian sejarah singkat Habib Hasan bin Thoha bin Yahya.

Sumber: https://darulhasyimijogja.org/manaqib-habib-hasan-bin-thaha-bin-yahya-syaikh-kramatjati-singobarong/?fbclid=IwAR3Md6FerPTj_1BBZZNH7h80KpaNr-nipmQ9II3rFyrswbMbGtWMA_z3vs0

Comments
Loading...