Ini Langkah yang Perlu Dilakukan Setelah Banjir Surut

Banjir di Jakarta dan sekitarnya, serta wilayah-wilayah lain di pulau Jawa bagian barat sudah mulai surut. Namun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan masih tinggi hingga bulan Maret 2020. Artinya, masyarakat tetap harus waspada akan datangnya banjir susulan. Kendatipun semua berharap musibah banjir tidak terulang.

Apa saja yang perlu dilakukan setelah banjir surut? Perhatikan tips berikut. Tentu saja yang paling utama adalah membersihkan rumah dari sampah dan lumpur sisa-sisa genangan.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah langganan banjir, rutinitas beres-beres pasca-banjir mungkin sudah menjadi hal biasa. Mereka mengerti langkah mana dulu yang harus dilakukan dan apa yang harus dipersiapkan.

Tapi bagi yang jarang terkena banjir, atau bahkan baru pertama kali merasakan banjir, membereskan sisa-sisa genangan tentu saja sangat memusingkan. Terkadang, mereka malah gugup menghadapi situasi, sehingga bingung apa yang seharusnya dilakukan.

Nah, berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan setelah genangan banjir pergi:

Pertama, cek kondisi rumah. Periksa dengan cermat terlebih dulu, apakah ada kerusakan fatal pada struktur bangunan. Apalagi jika rumah terendam banjir berhari-hari. Bisa saja dinding, pintu atau kusen dan jendela rumah mengalami kerapuhan. Jangan sampai pada saat dibersihkan ada bagian rumah yang roboh dan membahayakan penghuni rumah.

Kedua, pastikan aliran listrik sudah dimatikan karena dapat menimbulkan risiko sengatan listrik atau korsleting yang dapat menimbulkan kebakaran. Mintalah bantuan teknisi untuk memeriksa keamanan instalasi listrik di rumah Anda. Cek dengan teliti apakah ada kabel yang terputus, terkelupas, atau masih basah karena terendam.

Ketiga, gunakan pelindung, seperti sarung tangan karet, masker dan sepatu boot. Hal ini untuk meminimalkan kontak langsung dengan sisa air banjir atau lumpur yang tentu saja kotor. Ini penting untuk menghindari penyebaran kuman penyakit yang mungkin bersarang di dalam air kotor atau lumpur sisa banjir.

Tips: jika memungkinkan, bersihkan dinding dan perabotan di dalam rumah sebelum air benar-benar surut dan lumpur mengering. Sebab, masalah lain setelah banjir surut adalah kelangkaan air bersih. Setelah air bersih tersedia, barulah bilas dengan air bersih.

Keempat, semprotkan desinfektan setelah genangan dibersihkan. Buka pintu dan jendela agar udara segar masuk menggantikan udara yang lembab. Bilas lantai dan furniture yang terendam dengan air panas dan desinfektan. Lakukan beberapa kali dan keringkan.

Kelima, buang benda-benda yang sudah tak bisa lagi digunakan seperti karpet, tirai, kasur, atau furnitur kayu yang rusak parah atau kondisinya sangat kotor. Karena barang-barang tersebut jika digunakan lagi berisiko terhadap kesehatan, misal karena berjamur. Singkirkan juga semua sisa makanan agar tidak menarik perhatian hewan dan serangga kotor.

Keenam, menjaga kesehatan adalah hal yang harus diutamakan. Biasanya orang lupa bahwa harus beristirahat karena menginginkan pekerjaan beres-beres cepat selesai. Padahal kelelahan dan stres malah bisa lebih membahayakan serta malah memperburuk keadaan. Lakukan pembersihan secara bertahap sesuai kemampuan. Pastikan anggota keluarga tetap makan secara teratur, mengonsumsi vitamin dan cukup beristirahat.

Ketujuh, yang tak kalah penting adalah memetik hikmah serta mengambil pelajaran dari musibah banjir yang baru saja dialami. Sikap ridha atau berlapang dada menerima musibah akan memperkuat ruhani seseorang, sehingga meringankan dampak psikologis yang timbul akibat musibah tersebut.

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah, ayat 155-157).

Namun, sebagai manusia kita juga seharusnya berintrospeksi kenapa musibah ini selalu terjadi. Sebab, banjir yang terjadi berulang-ulang ini bukan semata-mata karena faktor alam, yaitu curah hujan yang tinggi. Tapi juga diakibatkan oleh faktor keserakahan manusia. Sebab menggunduli hutan, mengeringkan rawa dan situ serta mengubah fungsinya, dan mengaspal atau membeton resapan-resapan air, sama saja dengan merencanakan bencana banjir datang.

Penulis: Imam Tamaim

Komentar
Loading...