Ini Kitab Tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah Yang Ditulis di Kesultanan Riau (1300 H/ 1883 M)

0

Gambar di atas adalah sampul kitab berjudul “Kaifiyyah al-Dzikr ‘alâ al-Tharîqah al-Naqsyabandiyyah al-Mujaddidiyyah al-Ahmadiyyah” yang merupakan manual ordo tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah, salah satu cabang dari tarekat besar Naqsyabandiyah.

Kitab ini ditulis oleh seorang ulama besar Makkah yaitu Syaikh Muhammad Shâlih b. ‘Abd al-Rahmân al-Zawâwî al-Makkî (w. 1890), ayah dari Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1924) yang dikenal sebagai mufti madzhab Syafi’i di Makkah pada awal abad 20 M.

Baik al-Zawâwî senior (ayah) ataupun al-Zawâwî yunior (anak), keduanya terhitung menjadi guru banyak ulama Nusantara generasi paruh kedua abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M. Keduanya juga memiliki hubungan kedekatan yang istimewa dengan beberapa keluarga kesultanan di Nusantara, seperti Kesultanan Riau-Lingga di Kepulauan Riau (kini bagian dari Indonesia), Kesultanan Pontianak (kini bagian dari Indonesia), dan Kesultanan Kedah di Semenanjung (kini bagian dari Malaysia).

Selain berisi sebagai manual tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah, kitab ini termasuk yang mengabadikan kedekatan hubungan antara Syaikh al-Zawâwî dengan Nusantara, di mana kitab ini ditulis dan dicetak di Riau. Dalam titimangsa, didapati keterangan jika kitab ini selesai ditulis di istana kesultanan Riau pada tahun 1300 Hijri (1883 M) dan dicetak di percetakan al-Ahmadiyyah di Riau tiga belas tahun kemudian (1313 H/ 1895 M).

Tertulis di halaman akhir kitab: (Telah selesai menyurat naskah ini pada 12 hari bulan Sya’ban hari Isnin [Senin] di dalam negeri Riau Pulau Penyengat sanah [tahun] 1300 masa zaman Seripadukan Maulana Sultan Abdurrahman Muazzam Syah [semoga Allah menjaga negerinya, kerajaanya hingga abadi dengan keadilan dan kebajikan amin]).

Sementara itu keterangan tarikh cetak kitab berada setelahnya. Tertulis di sana dalam bahasa Arab:
(Telah selesai mencetak kitab Kaifiyyat Dzikir ini atas pertolongan Allah di Percetakan Ahmadiah yang diusahakan oleh seorang yang fakir kepada Allah dan mengakui dosa-dosa dan kekurangannya, Ali b. Ahmad Alatas pada 1 Muharram tahun 1313 Hijri).

Keterangan tempat cetak kitab juga terdapat pada halaman depan, di mana disebutkan al-Mathba’ah al-Ahmadiyyah (Percetakan Ahmadiah) berada di “Bandar Riau al-Mahrûsah al-Mahmiyyah” (Kota Riau yang Dijaga dan Direksa). Selain berkedudukan di Riau, percetakan Ahmadiah juga berkedudukan di Singapura, di mana di kota terakhir percetakan ini lebih banyak beroperasi dan mencetak lebih banyak kitab.

Saya mendapatkan kitab ini dalam versi digital yang terdapat dalam laman British Library (naskah aslinya adalah koleksi Tengku Muhammad Saleh yang kemudian didigitasi oleh National University of Singapore dalam proyek Endangered Archives Programme [EAP] dan dimuat dalam laman British Library dengan nomor identitas EAP153/11/20 ).

Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (2015: 154) menyebutkan jika Syaikh Shâlih al-Zawâwî pernah berkunjung ke Kesultanan Riau-Lingga pada tahun 1883 (1300 Hijri), tahun di mana ia menuliskan risalah pendek ini di lingkungan istana kesultanan tersebut. Al-Zawâwî berperan besar dalam menyebarkan ordo tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah di Nusantara, utamanya di Riau, Pontianak, dan Madura, termasuk menggeser pengaruh tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah yang sebelumnya dibawa oleh Syaikh Ismail al-Khalidi Minangkabau di lingkungan istana Riau tersebut.

Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi (bertakhta 1858-1899), Yang Dipertuan Muda ke-10 Kesultanan Riau-Lingga, adalah murid langsung dari Syaikh Shâlih al-Zawâwî. Raja Muhammad Yusuf dari Riau bahkan didaulat sebagai salah satu khalifah al-Zawâwî untuk wilayah Kesultanan Riau dan dunia Melayu. Ketika kitab ini ditulis dan dicetak, Raja Muhammad Yusuf masih menjabat sebagai “Yang Dipertuan Muda”, sementara Raja Besar Kesultanan Riau-Lingga sendiri pada masa itu adalah Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II (memerintah 1883-1911), sultan Riau-Lingga ke-V sekaligus terakhir.

Selain memiliki khalifah tarekatnya di Kesultanan Riau-Lingga, Syaikh Muhammad Shâlih al-Zawâwî juga memiliki seorang murid-khalifah lainnya dari Nusantara asal Pulau Madura, yaitu Syaikh ‘Abd al-‘Azhîm al-Mandûrî al-Makkî (dikenal Syaikh Abdul Azhim Madura, w. 1919). Syaikh Abdul Azhim Madura tercatat berkarir di kota suci Makkah hingga wafat di sana. Ia juga mengarang sebuah risalah kecil tentang manual tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah yang diikutinya. Risalah tersebut ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab (Jawi-Pegon), berjudul “Inilah Kaifiyyah Berdzikir atas Thariqah Naqsyabandiyyah” dan diterbitkan di Makkah oleh Mathba’ah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah pada tahun 1322 H (1904 M).

Ordo tarekat Naqsyabandiyah tersebar dengan cukup luas di Nusantara dan telah berlangsung selama beberapa generasi. Tarekat ini diinisiasi oleh Syaikh Muhammad Bahâ al-Dîn al-Bukhârî al-Naqsyabandî (w. 1389), seorang sufi besar Persia asal Bukhara. Tarekat ini kemudian berkembang dengan berbagai anak cabangnya, di antara yang paling populer adalah Naqsyabandiyah-Khalidiyah (diinisasi oleh Syaikh Dhiyâ al-Dîn Khâlid al-Baghdâdî al-Naqsyabandî, w. 1827) dan Naqsyabandiyah-Ahmadiyah (diinisiasi oleh Syaikh Ahmad Sa’îd al-Naqsyabandî, w. 1871).

Di Nusantara, tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah dibawa dan dikembangkan oleh Syaikh Ismâ’îl al-Khâlidî al-Mankabâwî (dikenal dengan Syaikh Ismail al-Khalidi Minangkabau, w. 1844), sementara tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah dibawa oleh Syaikh Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1890). Terdapat pula ordo tarekat lainnya yang menggabungkan antara Naqsyabandiyah dengan Qadiriyah, yang kemudian dikenal dengan tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah (TQN), yang diinisasi oleh Syaikh Ahmad Khatîb Sambas al-Makkî (w. 1875), seorang ulama besar Makkah asal Sambas. Syaikh Ahmad Khatîb Sambas pada mulanya adalah pengikut tarekat Naqsyabandiyah-Ahmadiyah juga, yang berbaiat kepada gurunya, yaitu Syaikh Khalîl Hilmî al-Naqsyabandî.

Bogor, Zulhijjah 1439 H/ September 2018 M
A. Ginanjar Sya’ban
Sumber: jaringansantri.com

Comments
Loading...