Ini Isi Taushiyah Kebangsaan NU Menyambut Pemilu Serentak 2019 

0

JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. membacakan isi Taushiyah Kebangsaan Menyambut Pemilu Serentak 2019 di Kantor PBNU Lantai 5 Jalan Kramat Raya No 164, Jakarta Pusat (15/4). Kiai Said didampingi oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M.Sc., Sekjen PBNU Dr (HC). Ir. H. A. Helmy Faishal Zain dan Wakil Sekjen PBNU H. Imam Pituduh, SH., MH., serta Ketua PBNU Robikin Emhas, SH, M.H.

“PBNU mengajak kita semuanya menyambut datangnya 17 April sebagai pesta demokrasi yang kita harapkan semua segenap bangsa Indonesia menghadapinya dengan riang gembira, kesukacitaan, berbaur bersama dalam suasana perbedaan namun dalam bingkai kebersamaan. Maka PBNU memandang perlu menyampaikan beberapa pesan kebangsaan kepada warga masyarakat Nahdlatul Ulama khususnya dan warga bangsa Indonesia umumnya,” ungkap Helmy Faishal Zain di hadapan awak media cetak dan online.

Berikut ini isi Taushiyah Kebangsaan Menyambut Pemilu Serentak 2019.

Nahdlatul Ulama memandang Pemilihan Umum adalah mekanisme yang sah berdasarkan hukum negara dan agama untuk mengangkat dan membaharui mandat kepemimpinan politik atau nashbul imâmah. Munas Nahdlatul Ulama di Nusa Tenggara Barat pada 17 November 1997 telah menegaskan bahwa pemilu dalam negara demokrasi merupakan salah satu manifestasi prinsip syūrâ di dalam Islam yang sah dan mengikat. Karena itu, menyambut Pemilu serentak 2019, Nahdlatul Ulama menyampaikan pesan-pesan kebangsaan sebagai berikut:

  1. Mengajak peran serta seluruh warga negara menyukseskan penyelenggaraan Pemilu yang bersih, jujur dan adil dengan menggunakan hak pilihnya dalam mekanisme demokrasi lima tahunan. Pemilu yang jurdil adalah wasīlah mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional. Karena itu, kepada seluruh warga negara yang telah memenuhi syarat, Nahdlatul Ulama menghimbau agar tidak golput. Gunakan hak pilih dengan nalar dan nurani untuk memilih Calon Presiden/Wakil Presiden serta calon-calon Wakil Rakyat (DPD/DPR/DPRD) yang memenuhi kriteria profetik shidiq, tablīgh, amânah, dan fathânah.
  2. Mengajak kepada seluruh jajaran penyelenggara Pemilu (KPU/Bawaslu/DKPP), juga Sentra Gakkumdu (Sentra Penegakkan Hukum Terpadu) untuk menjamin penyelenggaraan pemilu seadil-adilnya, sejujur-jujurnya, sebersih-bersihnya demi mewujudkan demokrasi Indonesia yang bermartabat. Tindak dan jangan pernah berkompromi dengan politik uang (money politic) yang terbukti merusak demokrasi dan menimbulkan cacat legitimasi.
  3. Mengajak kepada para konstestan, tim sukses, pendukung, simpatisan, tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama dan seluruh warga negara, serta aparat keamanan (TNI/Polri) agar bahu-membahu menciptakan suasana politik yang damai, tidak memprovokasi rakyat dengan berita hoaks dan ujaran kebencian, menerima hasil pemilu dengan legowo. Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pemilu adalah ‘pesta’ demokrasi yang selayaknya dirayakan dengan damai dan tetap menjaga semangat persaudaraan bukan permusuhan.
  4. Pemilu 2019 adalah pemilu serentak pertama yang digelar bangsa Indonesia dan menjadi batu uji kesiapan bangsa Indonesia berdemokrasi secara maju dan beradab. Kesuksesan penyelenggaraan pemilu tahun ini akan mengokohkan persepsi dunia bahwa Indonesia—yang mayoritas Muslim—dapat menyandingkan Islam dan demokrasi dalam satu tarikan nafas. Karena itu, Nahdlatul Ulama menghimbau kepada semua pihak agar menjaga keamanan dan ketertiban, berpartisipasi dan berperan aktif memastikan penyelenggaraan pemilu yang damai, bersih, jujur, dan adil.
  5. Pemilu berbartabat adalah cerminan bangsa yang berbudaya, beradab. Mari kita wujudkan bersama.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

Jakarta, 9 Sya’ban 1440 H / 15 April 2019 M
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
Dr. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal

(eep)

Comments
Loading...