Ini Alasan Kenapa ZIS Bisa Selamatkan Resesi Dunia Akibat Covid-19

Covid-19 diprediksi bakal menimbulkan resesi atau bahkan depresi ekonomi dunia dan kini tanda-tanda itu mulai terasa.

Para ekonom memperingatkan, dampak Covid-19 bisa menjadi pukulan terburuk bagi ekonomi global sejak depresi ekonomi tahun 1930-an.

Saat ini, harga minyak dunia merosot hingga di bawah nol, dan ini terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Pemerintah Inggris menasionalisasi gaji para pekerja, jadi upah jutaan pekerja di Inggris dibayar oleh negara hingga 80%. Pemerintah AS menyuntikkan dana USD 2 triliun ke dalam ekonomi negara mereka.

Ini semua belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus menunjukkan bahwa kapitalisme konvensional sedang sekarat. PBB sudah memperingatkan tentang bencana kelaparan.

Namun, di tengah situasi krisis akibad Covid-19, ada secercah harapan yang bersumber dari ajaran Islam, yaitu zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Terlebih, dalam tradisi Islam ZIS lazimnya banyak digelontorkan pada saat bulan Ramadhan.

Azim Kidwai, CEO Mercy Mission UK dan merupakan Penasihat Khusus untuk PBB tentang Filantropi Islam menyebut, zakat akan menjadi penyelamat ekonomi dunia akibat Covid-19.

“Ketika para ekonom dunia mencari solusi yang sebelumnya tak terbayangkan untuk masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka mungkin menemukan ide di tempat-tempat yang tidak mungkin (sebelumnya). Salah satunya adalah agama,” kata Azim Kidwai, dalam sebuah opini yang ditulisnya di euronews.com.

Berikut sejumlah alasan, kenapa zakat bisa menyelamatkan:

Pertama, pada saat dampak Covid-19 mulai mengguncang ekonomi dunia, mungkin banyak negara di dunia, terutama negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim dapat selamat karena datangnya bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah perpaduan antara nilai-nilai materialistik dan spiritual di negara-negara mayoritas muslim serta komunitas muslim di Eropa dan Amerika Utara yang dapat menyelamatkan, minimal kebutuhan dasar bagi miliaran manusia di seluruh dunia, karena tradisi infak dan sedekah di bulan yang penuh berkah ini.

Kedua, bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi umat muslim di seluruh dunia untuk melakukan refleksi spiritual dan memupuk kebersamaan. Namun dari segi ekonomi, bulan Ramadhan juga waktunya umat muslim meningkatkan pengeluaran, baik untuk konsumsi mapun amal.

Sudah lazim, jika bulan puasa datang penjualan makanan, pakaian, dan barang-barang lain di negara mayoritas muslim akan meningkat.

“Paket stimulus multi-miliar dolar diluncurkan di negara-negara dengan mayoritas muslim,” kata Azim Kidwai.

Ketiga, zakat. Umat muslim akan mengeluarkan 2,5 persen dari kekayaannya setiap tahun dalam bentuk zakat. Sebagian besar mengeluarkannya di bulan suci Ramadhan.

Menurut sejumlah badan pengumpul zakat, sekitar 85% zakat umat muslim dikumpulkan pada bulan Ramadhan. Ini artinya paket stimulus miliaran bahkan triliunan akan diluncurkan di negara-negara mayoritas muslim.

Bank Dunia memperkirakan dana zakat secara global mencapai USD 600 miliar setiap tahunnya. Jika dengan asumsi bahwa 85%nya dibayarkan, ini tentu saja bisa menjadi dorongan besar bagi ekonomi global.

Zakat yang dibayarkan oleh sekitar seperempat populasi dunia ini dapat menyelamatkan beberapa wilayah di dunia yang terkena dampak terburuk Covid-19.

Pada akhirnya, sistem ekonomi Islam yang di dalamnya ada zakat dan sedekah, khususnya di bulan Ramadhan ini menjadi semacam “bailout” yang dibutuhkan di saat Covid-19 mulai berdampak pada ekonomi dunia.

Di saat sistem kapitalime dunia, yang hanya fokus pada keuntungan ketimbang keberlanjutan itu kini kelimpungan.

Mereka dicerca karena menghasilkan ketidakmerataan ekonomi yang sangat mencolok, jauh dari keadilan.Terbukti, saat ini, 1% orang terkaya di dunia memegang 44% dari seluruh aset global.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...