Ini Alasan Dipilihnya Tema ‘Membumikan Tasawuf di Tanah Mandar’

0

POLEWALI MANDAR – Ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (MATAN) Sulawesi Selatan KM. Dr. Mahmud Sayuthi mengungkapkan alasan dipilihnya tema ‘Membumikan Tasawuf di Tanah Mandar’ pada acara Suluk MATAN pada 2 – 4 Agustus 2019 di Masjid Nurut Taubah Lapeo Kec. Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

“Imam Lapeo (1838 – 1952) adalah salah satu tokoh tarekat di Mandar yang warisan ilmunya perlu dibumikan. Beliau merupakan ulama sufi yang cerdas, pemberani dan pejuang nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Dosen Universitas Islam Makassar tersebut.

Selain itu, acara Suluk akan diadakan di masjid tertua dan bersejarah di tanah Mandar. Karena masjid tersebut menjadi bukti otentik Imam Lapeo atau KH. Muhammad Thahir dalam menyebarkan ajaran Islam di Sulawesi Barat. Di areal masjid itu pula ulama tarekat tersebut dimakamkan dan menjadi tempat yang paling banyak diziarahi di Sulbar.

“Dipilihnya masjid Imam Lapeo sebagai tempat suluk adalah alasan yang tepat untuk membumikan tasawuf di tanah Mandar,” jelas kiai Sayuthi.

SULTAN 1.2 atau Suluk Matan 1 angkatan ke-2 di tanah Mandar akan diikuti lebih banyak dari kelompok pengurus masjid, imam-imam masjid di kampung serta para penyuluh agama, dan yang sudah mendaftar sekitar 100 orang.

Sebagai informasi, Imam Lapeo lahir di kampung Pambusuang tahun 1838. Beliau berguru kepada Habib Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahil Jamalulail, keluarga Alawiyyin di tanah Mandar dengan bimbingan sanad ilmu pengetahuan dan tarekat Syadziliyah. Imam Lapeo wafat tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polman Sulbar. (eep)

Comments
Loading...