Ini 8 Alasan Kenapa Kamu Mesti Berthariqah (bagian 2)

0

JAKARTA – Setelah mengetahui bahwa berthariqah berarti menjalankan salah satu rukun agama yakni Ihsan, maka Imam Sayyid Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al Hasani melanjutkan alasannya yang kedua. Bahwa tasawuf ialah ilmu yang fokus membahas hal-hal yang menyebabkan batin sakit dan penyakit-penyakit qalbu lainnya.

Ahli hadis dari Negeri Maghribi tersebut juga memaparkan bahwa tasawuf juga menjelaskan bagaimana mengobati dan menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya tersebut. Sehingga seseorang bisa sampai pada kedudukan yang sempurna dan dinilai sukses tergolong dalam ayat, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),” [Surat Asy-Syams, Ayat 9].

Tidak bisa diragukan lagi bahwa mengobati diri dari aneka penyakit qalbu dan segala kekotorannya adalah hal yang wajib secara syariat dan sangat sesuai serta dinilai baik oleh akal sehat. Seandainya manusia hidup dengan penyakit jiwanya tanpa diobati dan disembuhkan, tentulah tidak ada bedanya lagi antara manusia dan binatang.

Allah juga berfirman dalam surah Asy-Syu’ara, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim) (Surat Asy-Syu’ara, Ayat 89-88).

Qalbun Salim sendiri maknanya ialah qalbu yang selamat dan sehat dari aneka penyakit. Penyakit qalbu bisa menyebabkan kesengsaraan kita bukan hanya di dunia bahkan hingga di akhirat. Dengan berthariqah maka qalbu senantiasa dibersihkan dan disucikan, yang pada saatnya nanti, kita akan menghadap Allah dengannya.

Bukankah tidak akan masuk surga qalbu yang di dalamnya ada secuil saja dari kesombongan?

Sedangkan alasan yang ketiga, ialah tasawuf amat memperhatikan pembentukan akhlak dan penyuciannya, bagaimana mengendalikan hawa nafsu dan melaksanakan hal-hal prioritas. Dengan tasawuf manusia bisa terangkat derajat dirinya, dari hanya mampu menikmati hasrat dan selera rendahnya syahwat menjadi mampu menikmati ragam ketaatan dengan kelezatan ruhani yang tiada bandingnya.

Oleh: Ust. Saepuloh

Comments
Loading...