Ini 5 Alasan Kenapa Kita Mesti Bersedih Dengan Wafatnya Ulama?

JAKARTA – Orang yang bersedih disebabkan adanya faktor baik dari dalam dirinya ataupun dari luar dirinya yang membuat seseorang menanggapinya dengan perasaan yang pilu, sakit, susah, kehilangan atau lain sebagainya sesuai yang dihadapinya serta dalam tingkatan dan ekspresi yang berbeda-beda. Lalu mengapa kita mesti bersedih dengan wafatnya seorang ulama?

Kiranya kesedihan atas wafatnya ulama muncul didasari oleh beberapa pengertian.
Pertama, seseorang yang mencintai ulama pasti merasa kehilangan saat ulama tersebut wafat. Sebagaimana orang yang kehilangan orang yang dicintainya. Rasa cinta itulah yang membuatnya bersedih. Semakin besar cintanya, semakin besar rasa kehilangannya yang kemudian melarut dalam kesedihan, begitupun juga sebaliknya. Namun kesedihan yang paling indah bagi adalah merelakan kepulangan ulama bertemu dengan kekasih sejatinya sang Maha Cinta Allah swt.

Kedua, wafatnya ulama bukan hanya kehilangan sosok fisik yang bisa hangat ditemui, teduh untuk ditatap dan dijumpai serta dicium tangannya. Wafatnya ulama berarti juga mangkatnya ilmu yang dititipkan pada-Nya. Ini sesuai dengan sabda Nabi saw “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, maka (apabila) mereka ditanyai (suatu persoalan), mereka kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari). Melalui ulama lah sanad keilmuan itu bisa diperoleh dan bukan hanya itu, melaluinya juga para murid bisa tersambung sanad perjuangan dan sanad kethariqahannya jika memiliki.

Ketiga, selain ilmu yang diangkat oleh Allah. Para ulama juga memiliki kearifan dan kebijaksanaan yang tidak bisa dipelajari secara instan. Sebab kearifan adalah perpaduan ilmu, hikmah dan ma’rifat kepada Allah swt. Ulama adalah pribadi yang paling takut kepada Allah swt sekaligus memiliki rasa cinta yang besar kepada semua makhluk Allah swt. Kehidupannya menjadi teladan bagi masyarakat baik dalam gaya hidup, tutur kata, perilaku, bakti dan pengorbanannya untuk bangsa dan negara serta agama.

Keempat, ulama hadir di tengah-tengah masyarakat mempu memberikan fatwa keagamaan, nasehat dan solusi atas aneka permasalahan yang terus baru sesuai dinamika perkembangan masyarakat. Solusi dan nasehatnya menjadi hal yang dibutuhkan dan ditunggu untuk menjawab tantangan zaman berdasarkan keilmuan dan kearifannya. Sehingga keputusannya benar-benar mencerminkan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin.

Kelima, ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah jika dibandingkan dengan ahli ibadah. Sebab ulama adalah pewaris para Nabi yang memiliki tugas melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. Baik itu tilawah, tazkiyah dan ta’lim. Imam Ghazali mengutip ucapan Sayyidina Umar dalam kitab al Ihya. “Wafatnya seribu ahli ibadah yang shalat malam dan puasa tidak sebanding dengan wafatnya orang alim yang mengerti halal dan haram.” Selain itu lazim bagi umat meminta doanya ulama. Senjata inilah yang tidak ada pada setiap orang. Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh: Saepuloh

Komentar
Loading...