Ilmu Hikmah Bisa Bedakan Ilham dan Bisikan Setan

Jika dalam bahasa Indonesia, hikmah itu bermakna arti atau makna yang dalam, makna yang terkandung dalam sesuatu atau manfaat.

Dalam bahasa Arab, hikmah berasal dari kata hakama yahkumu, yang artinya mencegah atau menghalangi sesuatu. Sehingga kita mengenal kata ‘hakim’ yang mampu mencegah dan menghalangi terjadinya ketidakadilan.

Beragam Makna Hikmah

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “.

Tidak ada hasad kecuali pada dua orang. Seseorang yang Allah anugerahkan harta kemudian dipergunakannya dalam jalan yang Haq. Seseorang yang Allah beri hikmah kemudian dia menetapkan sesuatu berdasarkan dengannya dan ia mengajarkannya pula. (HR. Bukhari).

Dalam Fathul Bari’, hikmah di sini artinya Al Qur’an. Ada juga yang mengartikannya ialah setiap sesuatu yang mencegahnya dari kebodohan dan mengendalikan dirinya (melarangnya) dari yang jelek dan buruk.

Nabi pernah mendoakan Ibnu Abbas Ra agar dianugerahi al hikmah.

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ

Ya Allah ajarkanlah ia hikmah. (HR. Tirmidzi dan Bukhari).

Dalam Tuhfatul Ahwadzi, hikmah tersebut punya ragam arti. Hikmah yang dimaksud adalah Al Qur’an. Dikatakan juga berarti mengamalkan Al Qur’an dan juga bisa berarti as Sunnah.

Hikmah bisa bermakna ucapan yang tepat sasaran. Hikmah juga disebut sebagai al khasyah (rasa takut yang disertai kekaguman kepada Allah).

Hikmah diartikan mampu memahami (maksud dan tuntutan) Allah. Ada juga yang menerjemahkan hikmah itu adalah apa yang disaksikan akal akan kebenarannya.

Lalu, makna hikmah yang lain, disebutkan mampu menjawab pertanyaan dengan cepat dan benar. Tetapi yang lebih dekat dengan hadis di atas, hikmah bermakna memahami Al Qur’an. Sehingga Ibnu Abbas dalam Fathul Bari disebut sebagai sahabat yang paling memahami tafsir Al Quran dan dijuluki Turjumanul Qur’an karena kepiawaiannya menafsirkan Al Qur’an.

Foto: Abdullah Ghatasheh.

Nabi sedikit menggambarkan orang yang mendapatkan hikmah.

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ قَدْ أُعْطِيَ زُهْدًا فِي الدُّنْيَا وَقِلَّةَ مَنْطِقٍ فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ ؛ فَإِنَّهُ يُلْقِي الْحِكْمَةَ “. ابن ماجه

Jika kamu melihat seseorang yang zuhud di dunia, dan sedikit berbicara. Maka mendekatlah padanya, karena dia menyampaikan hikmah. (HR. Ibnu Majah).

Hikmah Bisa Bedakan Ilham dan Bisikan Setan

Yang menarik baik dalam Fathul Bari’ Syarah Shahih Bukhari maupun Tuhfatul Ahwadzi Syarah sunan At Tirmidzi, hikmah adalah cahaya yang bisa membedakan mana ilham mana bisikan halus (waswas).

Dengan kata lain, orang yang dianugerahi hikmah mampu membedakan antar ilham dan waswas dari setan. Bagi yang tidak bisa membedakan keduanya, sering kali yang dianggapnya ilham justru itu bisikan setan. Sehingga akhirnya terjerumus pada tipu daya setan.

Perlu diketahui, bahwa untuk mengarahkan manusia pada kesesatan dan kemaksiatan, setan membuat langkah-langkah. Salah satu langkahnya itu ialah waswasatu syaithan (bisikan setan).

Foto: Engin Akyurt.

Setan bekerja siang dan malam, sepanjang hari. Maka memiliki kemampuan untuk mengenali bisikan setan mutlak diperlukan atau kita bisa terjebak dalam langkah-langkahnya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…” (QS. An-Nur: 21).

Setan Bertengger di Qalbu Manusia

Bahkan, disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, Said bin Zubair dari dari Ibnu Abbas berkata, setan itu bertengger menempati qalbu anak Adam.

Tatkala anak Adam itu lupa dan lalai, maka setan membisikinya (waswas). Tapi ketika dia ingat Allah (dzikrullah), maka setan bersembunyi tertekan.

Artinya manusia sebenarnya akan senantiasa dalam bisikan setan selama dia lalai (ghaflah) dari mengingat Allah.

Maka bisa dikatakan orang yang mendapat hikmah ialah mereka yang senantiasa berdzikir. Karena dengan selalu berdziki akan jauh dari bisikan setan. Kuncinya ada pada dzikrullah.

Pentingnya Ilham dan Memohon Perlindungan

Nabi pernah mengajarkan doa pada Hushain. Yang disebut nabi sangat berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي، وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

Ya Allah ilhamkan kepadaku rusydi (petunjuk yang mengantar pada kebenaran dan kebaikan). Serta lindungilah aku dari keburukan diri. (HR. Tirmidzi).

Hadis ini termasuk jawami’ul kalim Nabi Saw. Ungkapan Nabi yang singkat namun padat penuh arti yang mendalam.

Yakni apabila Allah menganugerahkan seseorang itu ilham arrusydi (Ilham petunjuk), maka ia akan selamat dari aneka kesesatan.

Dan orang yang memohon perlindungan diri dari Allah akan selamat dari dominasi bermaksiat pada Allah. Karena selain dari bisikan setan. Orang bermaksiat ialah karena nafsu ammarah bissu (nafsu yang selalu memerintahkan keburukan).

Itu sebabnya, hikmah selain mampu membedakan ilham dan bisikan setan. Hikmah juga berarti mampu menghalangi dirinya sendiri dari aneka keburukan dan kejahatan sebagaimana dijelaskan di atas.

Sehingga siapa yang Allah anugerahi hikmah dinilai telah mendapat kebaikan yang besar.

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Al-Baqarah: 269).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...