Connect with us

Hikmah

Ilmu Hakikat dalam Surat Al-Kahfi

Published

on

Laut dalam Surat Al Kahfi diibaratkan pertemuan dari dua representasi keilmuan besar yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi-Nya yang menjadi khalifah di bumi untuk mencapai kebenaran dan ke-Mahabesaran-Nya.

Dikisahkan dalam Surat Al Kahfi, bahwa Nabi Musa as. adalah representasi dari Ilmu Syariat dan Nabi Khidir as. sebagai guru para ahli Hakikat.

Keduanya berjalan beriringan, menuju, mengarungi dan menepi dari dua laut yang saling bertemu dan mempertemukan mereka. Mengamati satu-persatu peristiwa berdasarkan perspektif masing-masing.

Tidak ada yang salah, karena Nabi Musa as. melihat dengan kacamata syariat sedangkan Nabi Khidir as. melihat dari sisi hakikat. Nabi Musa as. melihat dari hulu, dan Nabi Khidir melihat jauh ke hilir.

Keduanya tidak bertemu dalam argumentasi. Tapi sama-sama berusaha mencapai ilahi. Titik temu keduanya ada pada keikhlasan Nabi Musa as. sebagai murid dan keridhaan Nabi Khidhr as. sebagai guru serta takdir Allah Swt. yang mempertemukan mereka.

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa pertemuan dua sumber keilmuan besar ini sudah dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Suatu ketika Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil, kemudian ia ditanya, “Siapa orang yang paling berilmu?” Nabi Musa menjawab, “Akulah orang yang paling berilmu.”

Allah lalu menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya (ia tidak menjawab bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui).

Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya di pertemuan dua laut sana ada hamba-Ku yang lebih berilmu daripada kamu.” Nabi Musa bertanya, “Ya Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya.” Allah berfirman, “Bawalah seekor ikan di dalam keranjang. Jika ikan itu lepas, di situlah hamba-Ku itu berada.” Kemudian Nabi Musa pergi dengan ditemani oleh pelayannya yang bernama Yūsya’ bin Nun dan keduanya membawa seekor ikan di dalam keranjang.

Sesampainya di sebuah batu karang besar, mereka berdua berbaring dan tidur. Maka ikan yang mereka bawa itu lepas dari keranjang, kemudian melompat ke laut, dan hal ini membuat Nabi Musa dan pelayannya heran (setelah mengetahuinya). Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari (tanpa menyadari hilangnya ikan tersebut).

Ketika pagi harinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini.” Musa tidaklah merasakan keletihan kecuali setelah melewati tempat yang diperintahkan untuk didatangi.

Muridnya kemudian berkata kepadanya, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan.”Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.”

Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ketika mereka sampai di batu besar itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyelimuti dirinya dengan kain atau terselimuti dengan kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Kemudian Khiḍir berkata, “Bagaimana bisa ada salam di negerimu?” Musa berkata, “Aku Musa.” Khiḍir berkata, “Apakah Musa (Nabi) Bani Israil?” Ia menjawab, “Ya.”

Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” Khiḍir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa! Sesungguhnya aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau memiliki ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.”

Musa berkata, “Engkau akan mendapatiku -insya Allah- sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan membangkang perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu.

Lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, maka keduanya berbicara dengan penumpangnya agar mengangkut mereka berdua dan ternyata diketahui (oleh para penumpangnya) bahwa yang meminta itu adalah Khiḍir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah.

Tiba-tiba ada seekor burung pipit yang turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Khiḍir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah tidak lain seperti patukan burung ini ke laut (tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah), lalu Khiḍir mendatangi salah satu papan (dinding) perahu kemudian mencabutnya.”

(Melihat keadaan itu) Musa berkata, “Mereka ini kaum yang telah membawa kita tanpa imbalan, namun engkau lubangi perahu mereka agar penumpangnya tenggelam?”. Khiḍir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?.” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau bebankan aku perkara yang sulit!”

Kejadian pertama ini terjadi karena Musa lupa. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khiḍir memegang kepalanya dari atas, lalu memenggal kepala tersebut dengan tangannya. Musa berkata, “Apakah engkau membunuh satu jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain?” Khiḍir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” [Ibnu’Uyainah berkata, “Teguran Khiḍir (yang kedua ini) lebih tegas.”

Keduanya pun melanjutkan perjalanan sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta agar penduduk tersebut menjamu mereka, namun mereka tidak mau menjamu keduanya. Lalu keduanya mendapatkan rumah yang hampir roboh di kampung itu, maka Khiḍir menegakkannya, Khiḍir melakukannya dengan tangannya. Musa pun berkata, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Maka Khiḍir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Semoga Allah merahmati Nabi Musa, kita benar-benar mengharapkan seandainya ia bisa bersabar agar bisa dikisahkan kepada kita semua perkara yang terjadi di antara mereka berdua.”

Meskipun terjadi sangat singkat, namun Nabi Khidir as. memberikan pengalaman yang luar biasa kepada Nabi Musa as. yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dalam Surat Al Kahfi Nabi Khidir as. menjelaskan rangkaian peristiwa yang mereka alami,

Pertama, bahwa tujuan Nabi Khidir as. melubangi perahu yang mereka tumpangi adalah agar perahu tersebut tidak menjadi jarahan bagi perompak yang ada di belakang mereka, yang mana pada saat itu perompak tersebut belum memperlihatkan keberadaannya.

Kedua, tujuan Nabi Khidir as. membunuh seorang anak kecil adalah karena anak tersebut akan menjadi kafir ketika dewasa, dan setelah kejadian itu, Allah Swt. akan menganugerahi orang tuanya dengan anak yang shalih. Itu berarti Nabi Khidir tidak hanya ingin menaikkan derajat si orang tua, tetapi juga menjaga keimanan si anak agar tidak tumbuh menjadi orang kafir.

Ketiga, tujuan Nabi Khidhir as. ketika membetulkan rumah yang roboh adalah karena rumah tersebut adalah milik dua anak yatim yang di bawahnya tersimpan harta warisan dari orang tua mereka untuk keberlangsungan hidupnya kelak. Jika rumah tersebut dibiarkan roboh, maka harta yang tersimpan akan terlihat oleh orang banyak, bahkan bisa diperebutkan. Maka, melalui wasilahnya, Allah Swt. ingin menjamin kehidupan anak yatim tersebut dengan tetap menjaga hartanya agar tidak diketahui orang lain.

Ketiga peristiwa di atas pada hakikatnya belum di alami oleh Nabi Khidir as. tapi ia sudah mengetahuinya lebih dulu, bahkan bisa menemukan solusinya.

Ini tidak lain karena Nabi Khidir sudah mengenal Allah Swt. secara hakikat sehingga Allah Swt. membukakan hijab kepadanya atas peristiwa yang sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. Tapi belum pernah terjadi.

Allah Swt. melalui peristiwa ini ingin menegur Nabi Musa as. atas klaim sebagai manusia paling berilmu pada saat itu. Allah juga seolah-olah ingin memberitahukann kepada Nabi Musa as. bahwa ada ilmu yang lebih tinggi dari syariat, yaitu ilmu hakikat.

Melalui kisah tersebut, Allah Swt. juga menunjukkan bahwa agar lebih dekat kepada-Nya dan untuk mengetahui rahasia-Nya itu ada stratanya. Ilmu Syariat dan Ilmu hakikat pada dasarnya seperti anak tangga yang bisa dilalui jika sudah menempuh tangga yang paling bawah.

Dalam hal ini Nabi Khidir as. setingkat lebih tinggi dari Nabi Musa as. Allah Swt. tidak menganugerahkan semua orang seperti Nabi Khidir as. agar rahasia-Nya tetap menjadi rahasia-Nya. Kecuali Allah Swt. menghendaki untuk membuka rahasia tersebut kepada hamba pilihan-Nya.

Hikmah

Kisah Terompah Syekh Abdul Qadir yang Menolong Orang dari Perampok

Published

on

Dikisahkan oleh al-Sharafaini dan al-Harimi, pada suatu hari Syekh Abdul Qadir sedangmengambil air wudlu dengan menggunakan terompah (alas kaki yang terbuat dari kayu). Setelah ituia langsung sholat dua rakaat dan melepas terompahnya masihbasah terkena air wudlu.

Setelah menyelesaikan shalatnya, tiba-tiba iakeluardanmengambilterompah tersebut kemudian melemparkannya ke sebuah arah. Seketika kedua terompah itu langsung hilang. Orang-orang yang melihatnya termasuk al-Sharafaini dan al-Harimiterheran-heran melihat tingkahSyekh Abdul Qadir.

Selang dua puluh hari berikutnya pasca kejadian itu, barulah kejadian ganjil itu terungkap. Saat itu ada rombongan dagang yang datang ke rumah Syekh Abdul Qadir. Setelah sampai di depan rumahnya, pimpinan rombongan itu mengatakan bahwa mereka hendak sowan kepada Syekh Abdul Qadir dan menyampaikan terima kasihnya karena sudah ditolong.

al-Sharafaini dan al-Harimi yang menemui rombongan semakin penasaran, sebab selama ini Syekh Abdul Qadir tidak pernah bepergian jauh, sementara rombongan dagang itu merupakan orang-orang yang berasal dari kota yang jauh.

Sebagai bentuk terima kasihnya, rombongan itu memberikan kain sutra, perak dan emas kepada Syekh Abdul Qadir. Bukan hanya itu, yang menjadi petunjuk rombongan itu juga mengembalikan sepasang terompah Syekh Abdul Qadir.

Saat kedua terompah itu diberikan, al-Sharafaini dan al-Harimi pun bertanya, dari mana mereka memperoleh terompah Syekh Abdul Qadir itu?

Ketika mendapatkan pertanyaan dari al-Sharafaini dan al-Harimi, ketua rombongan tersebut langsung bercerita bahwa dua puluh hari yang lalu, mereka telah melakukan perjalanan untuk pergi berdagang. Di tengah perjalanan, mereka tiba-tiba dihadang oleh sekawanan perampok. Para perampok ini menjarah seluruh barang dagangan mereka.

Setelah berhasil menjarah seluruh barang dagangan mereka, para perampok itu segera berkumpul di sebuah lembah untuk membagi hasil jarahannya.

Dalam kondisi yang dipenuhi kesialan itu, salah seorang anggota pedagang mengatakan,

“Andai Syekh Abdul Qadir ada di sini, niscaya kami akan bernazar untuk memberikan sebagian harta jika kami selamat.”

Saat itulah, baru saja menyebut nama Syekh Abdul Qadir, mereka langsung mendengar teriakan keras dari para perampok yang sedang membagi hasil rampasannya di sebuah lembah.

Mereka pun segera menuju ke arah suara teriakan. Para perampok itu nampak ketakutan dan kesakitan. Para rombongan pedagang menduga bahwa kawanan rampok itu sedang diserang oleh para perampok lain. Namun ternyata di lembah tersebut tidak ada orang lain kecuali kawanan perampok yang telah menjarah harta mereka.

Semua gerombolan perampok itu mati kecuali satu yang menjadi pemimpinnya. Maka dengan diliputi ketakutan, pimpinan perampok yang masih hidup memanggil rombongan dagang yang tidak jauh dari lembah,

“Kemarilah, ambil ini seluruh harta kalian lagi, teman-temanku sudah mati semua oleh dua terompah basah ini. Sungguh ini merupakan peristiwa aneh.”

Setelah berkata demikian, pemimpin perampok itu segera lari meninggalkan teman-temanya yang sudah mati dan seluruh harta jarahan mereka serta kedua terompah basah itu.

Sumber: JATMAN, Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Hikmah

Kisah Hasan Al-Bashri Ditolak Saat Melamar Rabiah Al-Adawiyah

Published

on

Hasan Al-Bashri dan Rabiah Al-Adawiyah merupakan tokoh sufi yang sangat terkenal di zamannya. Banyak kisah hidupnya diabadikan dalam hasanah kitab klasik. Hasan Al-Bashri merupakan pembesar para tabi’in dan terkenal dengan sifat zuhudnya. Rabiah Al-Adawiyah adalah seorang wali perempuan yang mashur dengan konsep “hub” (cinta) kepada Allah yang begitu besar. Ada cerita menarik di antara kedua wali Allah ini yang patut disimak.

Suatu ketika, suami Rabiah Al-Adawiyah telah meninggal dunia. Kemudian Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya bertamu ke kediaman Rabiah Al-adawiyah. Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya meminta izin untuk masuk ke dalam rumah dan Rabiah mengizinkannya. Rabiah segera mengambil sebuah satir (kain penutup) dan duduk di belakang satir (yang memisahkan antara tamunya dan Rabiah).

Hasan Al-Bashri dan Para Sahabatnya berkata:” Wahai Rabiah, suamimu telah meninggal dunia, silahkan kamu memilih di antara orang-orang zuhud itu, siapapun yang kamu inginkan.”

Rabiah segera menjawab: “Benar saya senang dan saya memuliakan kalian semua. Tapi, aku akan bertanya siapa yang paling alim di antara kalian, sehingga aku akan menjadi istrinya”.

Mereka menjawab: “Hasan Al-Bashri lah yang paling alim di antara kami”

Rabiah mengajukan penawaran: “Jika kamu dapat menjawab empat permasalah ini, aku akan jadi istrimu”.

Hasan Al-Bashri berkata: “Baik, tanyalah aku, bila aku mampu menjawab, aku akan jawab”

Kemudian Rabiah mengajukan pertanyaannya yang pertama : “Bila aku mati, aku keluar dari alam dunia ini, aku dalam keadaan muslimah atau kafir ?”

Hasan Al-Bashri menjawab: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk.”

Rabiah bertanya lagi untuk yang kedua kalinya: “Bila aku nanti dikuburkan, dan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, apakah aku mampu menjawab atau tidak?”

Lagi-lagi, Hasan al-Bashri menjawab: “ini adalah permasalahan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang ketiga kalinya: “Saat manusia dikumpulkan di padang mahsyar besok di hari kiamat, dan buku catatan amal yang dicatat oleh malaikat hafadzah akan diberikan kepada para pemiliknya. Sebagian dari mereka menerima buku catatan tersebut dengan tangan kanannya (yaitu seorang mukmin yang taat) dan sebagiannya lagi menerima dengan tangan kirinya (yaitu orang-orang kafir). Apakah aku menerima catatan amalku dengan tangan kanan atau kiri?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi dengan jawaban yang sama: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang keempat kalinya: “Suatu saat di hari kiamat, kita dipanggil, sebagian kelompok masuk ke dalam surga, dan sebagiannya lagi masuk ke dalam neraka. Apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi: “Ini juga urusan ghoib (samar) bagi makhluk”.

Kemudian Rabiah bertanya: “Apakah orang yang serius memikirkan empat perkara ini masih membutuhkan suami atau sibuk mencari suami?”

Dari kisah ini Hasan al-Bashri ditolak karena tidak mampu memuaskan pertanyaan dari Rabiah al-Adawiyah. Namun, ada hikmah dibalik kisah ini yakni bagaimana seorang hamba Allah sangat takut dengan akhir hidupnya. Ia merasa sangat takut yang tidak lain karena kejernihan hatinya dari kotoran dan berakarnya ilmu hikmah, yaitu ilmu yang disertai amal.

Kisah ini diambil dari kitab Uqudullujjain Karya Imam Nawawi Al-Jawi

Penulis: Hamzah Alfarisi

Editor: Warto’i

Continue Reading

Hikmah

Berkah Syekh Abdul Qadir Untuk Si Jompo

Published

on

Abu Saleh Nasr mengisahkan, bahwa ada seorang bernama Abdur Razaq yang pergi haji bersama ayahnya. Ketika anak dan ayah ini sampai di tanah suci, mereka berdua menginap di sebuah perkampungan bernama Hullah. Mereka memilih menginap di sebuah rumah orang miskin. Pemilik rumah ini adalah orang tua jompo.

Ketika keduanya masuk, didapatinya Syekh Abdul Qadir sudah berada di dalam rumah itu. Mereka berdua, setelah diizinkan si pemilik rumah, akhirnya tinggal di rumah itu beberapa hari sebelum pelaksanaan haji tiba.

Saat menginap itulah mereka berdua melihat dengan mata kepala sendiri bahwa banyak ulama dan masyayikh yang berdatangan secara rombongan ke rumah tersebut. Bahkan para pejabat di kampung Hullah juga turut datang. Mereka semua menaruh hormat kepada Syekh Abdul Qadir ketika tahu sang Syekh berada disana.

Banyak dari mereka yang meminta kesediaan Syekh Abdul Qadir untuk pindah ke rumah mereka yang terbilang mewah. Namun Syekh Abdul Qadir menolaknya secara halus, sang waliyullah lebih nyaman untuk tinggal di rumah si miskin tersebut.

Karena sang Syekh tidak bersedia pindah, maka para ulama dan kaum elit di Hullah memberikan sebagian harta mereka kepadanya. Di antara mereka ada yang memberikan kambing, emas, perak, kain sutera dan benda-benda berharga lainnya, sehingga terkumpullah harta itu dengan banyak.

Para penduduk kampung dan orang-orang awam juga banyak yang berbondong-bondong menjenguk Syekh Abdul Qadir untuk meminta doa dan berkah darinya. Ketika Syekh Abdul Qadir hendak melanjutkan perjalanan, ia mengatakan bahwa seluruh harta yang terkumpul hasil pemberian kaum elit dan orang kaya di Hullah itu diberikan kepada pemilik rumah yang ia tumpangi.

Karena terinspirasi dari Syekh Abdul Qadir, orang lain yang berkumpul juga memberikan sedekahnya kepada orang tua jompo miskin pemilik rumah. Orang tua itu pun langsung mendapat harta yang luar biasa banyak.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh JATMAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending