Ibnu Sina

“Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, yang ada adalah belum ada upaya optimal untuk menemukannya.”

Penyakit atau virus baru akan terus bermunculan sepanjang sejarah peradaban manusia, meskipun sebetulnya tidak ada yang benar-benar baru, yang ada adalah perkembangan atau mutasi dari virus atau penyakit yang telah ada sebelumnya.

Butuh orang-orang seperti Ibnu Sina, atau di Barat dikenal dengan nama Avicenna, yang punya keseriusan dan totalitas di dunia medis untuk menemukan penyembuh atau obat/vaksin agar penyakit dan virus baru tidak menyebabkan punahnya peradaban manusia karena wabah penyakit.

Ibnu Sina dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran. Di masanya, ia dikenal sebagai pelopor ilmu kedokteran eksperimental, hal ini berkat sederet penemuan penting di dunia kedokteran, salah satunya tentang tuberculosis (TBC).

Ibnu Sina juga merupakan dokter pertama yang mendiagnosa penyakit meningitis, bagian mata, dan katup jantung, serta temuannya saraf yang terhubung dengan nyeri otot.

Buku Avicenna’s Medicine. Foto: Amazon.com

Mahakaryanya hingga kini masih menjadi rujukan dan bahan penelitian bagi pegiat di dunia kedokteran. Yaitu, buku ensiklopedia filsafat “Kitab al-Shifa” (Buku Penyembuhan) dan “The Canon of Medicine.”

Dua buku ini menjadi warisan penting bagi dunia kedokteran di Timur maupun Barat. Bahkan buku “The Canon of Medicine” atau dalam bahasa Arabnya “Al-Qanun fi Tibb” dianggap sebagai buku kedokteran eksperimental paling penting dalam sejarah, dan menjadi “kitab suci” dunia pengobatan Islam dan Eropa hingga abad ke-17.

Buku tersebut dipakai oleh para dosen kedokteran di Barat untuk memperkenalkan prinsip-prinsip dasar sains. Di antara isinya tentang teori dan praktik kedokteran seperti ilmu anatomi, ginekologi, dan pediatri. Ia juga orang yang pertama kali melakukan uji klinis dan mengenalkan farmakologi klinis.

Ibnu Sina sudah menulis mengenai penyakit yang sekarang populer semacam kanker, tumor, diabetes dan efek placebo sampai mengenai bedah tumor. Meski temuan ini pada awalnya sempat ditolak oleh dunia kedokteran Barat, tapi pada akhirnya sebagian bisa diterima, terutama setelah ditemukannya mikroskop.

Di bidang psikologi, jauh sebelum Sigmund Freud, Ibnu Sina sudah menemukan dasar-dasar psikologi modern. Ia mempelopori psikofisiologi, psikosomatik, dan neuropsikiatri, dan temuannya tersebut dituliskan dalam jurnal. Sejumlah penyakit yang dibahas dalam jurnal di antaranya tentang halusinasi, insomnia, mania, demensia, dan vertigo.

Dituding sebagai ateis

Ibnu Sina lahir pada 375 H/984 M di Afshana, tidak jauh dari Bukhara. Ayahnya Abdullah bin Al Hasan adalah pegawai pemerintahan. Jabatan tersebut memberi kemudahan tersendiri bagi proses belajar sang anak.

Foto: idntimes.com

Ketika itu, ayahnya mendatangkan guru Alquran dan bahasa setiap hari, sehingga di usia 10 tahun Ibnu Sina sudah mampun menghapal Alquran dan mahir gramatikal Arab.

Meski karyanya diakui dunia Barat, ia justru dianggap oleh kalangan muslim sebagai ateis karena menganut Mu’tazilah. Aliran yang menjadi fondasi bagi lahirnya filsafat Islam dengan tokoh-tokoh seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.

Mu’tazilah kurang diterima sebagian penganut Sunni lantaran beranggapan bahwa akal manusia lebih baik ketimbang tradisi. Mereka cenderung menafsirkan ayat-ayat Alquran secara lebih bebas ketimbang kebanyakan muslim lainnya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...