“Hubbul Wathan Minal Iman” ala Muslim Tiongkok

Masjid Sebagai Sarana Mencintai Tanah Air

Selain sebagai tempat ibadah dan destinasi wisata, masjid-masjid di Tiongkok juga digunakan oleh pemerintah dan ulama-ulama setempat sebagai sarana menanamkan nilai-nilai cinta tanah air.

Kalau anda sering berlibur ke Tiongkok tentu mencari masjid untuk sekedar shalat bukanlah suatu hal yang sulit. Cukup mengetik mosque atau 清真寺 (baca: Qingzhensi) di aplikasi smartphone anda, dengan menggunakan aplikasi Baidu Map, secara otomatis lokasi masjid terdekat akan segera ditemukan. Baidu Map adalah semacam aplikasi pencarian lokasi buatan Tiongkok yang mirip dengan Google Map.

Di Beijing misalnya, anda bisa berkunjung ke masjid Niu jie (牛姐). Sebuah masjid tertua dan terbesar di Beijing yang dibangun tahun 996 M pada masa dinasti Liao. Masjid ini berlokasi di jalan niu jie (jalan sapi) daerah Guanganmen distrik Xicheng. Selain beribadah dan melihat keindahan arsitetktur masjid Niu jie, anda juga dapat mencicipi berbagai makanan halal yang dijual di sepanjang jalan masjid Niu jie. Dinamakan Niu jie karena di wilayah ini menjual makanan halal, terutama daging sapi. Kawasan ini tidak hanya dikunjungi warga Muslim lokal tapi juga ramai dikunjungi oleh wisatawan asing dari berbagai negara.

Sekitar awal April 2018 penulis bersama Perhimpunan Mahasiswa Muslim Changchun (PERMIC) melakukan safari silaturahmi tiga masjid di Kota Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok. Sesuatu yang unik terdapat di pintu masuk masjid Agung Changchun.

Sebuah prasasti besar yang bertuliskan hubbul wathan minal iman dalam bahasa Arab dan dibawahnya tertulis dalam bahasa Mandarin 爱国主义是信仰的一部分 (baca: agiuo shi xinyang de yibufen) yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Tulisan ini mengingatkan penulis tentang hubbul wathan minal iman yang menjadi jargon dan spirit nasionalisme para ulama dan warga Nadhlatul Ulama di Indonesia dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tulisan hubbul wathan minal iman juga terdapat di Masjid Agung Nanchang. Masjid terbesar di Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, yang dibangun dari hasil patungan dana dari warga, pengusaha, dan bantuan pemerintah Kota Nanchang.

Saat kuliah S2 di Nanchang University, Kota Nanchang, penulis pernah berkesempatan menghadiri peresmian Masjid Agung Nanchang. Hadir pada saat peresmian tersebut perwakilan dari pemerintah, Partai Komunis setempat, perwakilan tokoh agama lain, ulama, dan jamaah yang berasal dari daerah setempat maupun warga asing yang tinggal di Kota Nanchang. Setelah acara peresmian penulis mencoba masuk untuk melihat dan mengamati keindahan atsitektur masjid. Jargon hubbul wathan minal iman tertulis di sebuah bingkai yang terpasang di dinding masjid.

Tidak hanya dua masjid tersebut, berdasarkan informasi dari teman-teman mahasiswa Nahdlatul Ulama dari berbagai Kota, mereka juga menemukan tulisan hubbul wathan minal iman di masjid besar di Kota mereka.

Masjid Niujie. (Foto: brilio.net)

Cinta Tanah Air Sesuai Tuntunan Rasulullah

Islam telah diperkenalkan ke Tiongkok lebih dari 1.000 tahun, etnis Muslim Tiongkok selama beberapa generasi, dan mereka telah menjadi bagian dari bangsa Tiongkok yang tidak terpisahkan. Terdapat sepuluh etnis minoritas Muslim di Tiongkok, di antaranya Hui, Uighur, Kazak, Khalkas, Tartar, Uzbek, Tajik, Dongxiang, Salar dan Bonan (Jiayin yang, 2016: 119). Walaupun sebagai mioritas, etnis Muslim Tiongkok mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga dan mencintai tanah air.

Setidaknya ada dua alasan warga Muslim Tiongkok dalam menerapkan rasa cinta tanah air yang penulis catat saat berdiskusi dengan Dongshuang Han, salah satu Ahong (imam masjid) yang juga anggota Asosiasi Muslim Tiongkok di Provinsi Jilin.

Pertama, mencintai tanah air adalah tradisi Islam dan kewajiban seorang Muslim yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Nabi saw tidak hanya rajin menyebarkan agama Islam, tapi juga mengajarkan setiap muslim harus mencintai negerinya. Nabi saw memberikan contoh kepada umat Islam melalui ucapan dan perbuatannya sendiri. Ketika meninggalkan Makkah yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggalnya, Nabi saw berkata: “Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu”.

Kecintaan Rasulullah saw terhadap Madinah juga tidak terelakkan. Madinah juga merupakan tanah air Rasulullah saw. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Makkah. Di Madinah Rasulullah saw berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan lahirnya piagam Madinah.

Kedua, menghormati dan mencontoh perjuangan para leluhur dalam mencinta tanah air. Songshan Hui adalah seorang etnis Hui yang lahir tahun 1888 di Ningxia. Dia merupakan ulama sekaligus seorang nasionalis Tiongkok yang senantiasa mendorong nilai-nilai nasionalisme dan persatuan seluruh masyarakat Tiongkok serta melawan penjajah dan ancaman asing. Dia bahkan memerintahkan seluruh imam di Ningxia untuk mendakwahkan nasionalisme Tiongkok. Shongshan Hu juga menulis doa dengan bahasa Arab dan Mandarin untuk mendoakan pemerintahan dan masyarakat dalam melawan Jepang.

Fuxiang Ma, seorang jenderal Muslim dan anggota partai Kuomintang, adalah seorang nasionalis Tiongkok lainnya, Fuxiang Ma mengajarkan persatuan semua warga Tiongkok. Dia menyatakan bahwa Mongolia dan Tibet adalah bagian dari Republik Rakyat Tiongkok, dan bukan negara-negara independen. Fuxiang Ma percaya bahwa pendidikan modern akan membantu Muslim Hui membangun masyarakat yang lebih baik dan membantu Tiongkok melawan penjajahan asing. Fuxiang Ma juga menerbitkan banyak buku, dan menulis tentang Konfusianisme dan Islam.

Ada juga jenderal Bai Chongxi, panglima perang Guangxi, dan anggota partai Kuomintang, menampilkan dirinya sebagai pelindung Islam di Tiongkok dan seorang cendekiawan Tiongkok yang melepaskan diri dari invasi Jepang di Guangxi, yang mengajarkan nasionalisme Tiongkok dan anti penjajahan.

Masjid Niujie.

Peran Aktif Muslim Tiongkok

Peran warga Muslim Tiongkok dalam menjaga nasionalisme dan cinta tanah air tidak bisa diragukan lagi. Bentuk rasa cinta tanah air mereka wujudkan dalam kesungguhan mereka ikut aktif dalam membangun negara di berbagai bidang. Di bidang ekonomi misalnya, banyak warga Muslim Tiongkok yang menjadi pengusaha restoran halal ataupun mendirikan pabrik-pabrik pengolahan daging halal.

Lanzhaou Lamian (兰州拉面) adalah nama restoran halal yang sangat menjamur di Tiongkok. Biasanya restoran ini dikelola oleh pengusaha Muslim Hui yang pelayannya identik dengan peci putih. Bahkan pengusaha-pengusaha Muslim membentuk Asosiasi Pengusaha Lanzhou Lamian yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi umat Muslim Tiongkok. Asosiasi ini juga sering aktif menjadi donatur utama pembangunan masjid-masjd di Tiongkok.

Di Kota Changchun terdapat pabrik pengolahan daging sapi halal terbesar di Tiongkok. Pabrik yang bernama Haoyue ini menghasilkan berbagai macam produk daging olahan semacam bakso, sosis, naget, ataupun daging mentah kemasan yang didistribusikan ke seluruh penjuru Tiongkok. Banyak etnis Muslim yang menjadi pekerja di tersebut, sehingga di samping bangunan pabrik dibangun masjid Haoyue, sebuah masjid megah yang digunakan para pekerja untuk menunaikan ibadah shalat.

Di bidang pendidikan agama, para ulama di Tiongkok medidik warga Muslim untuk selalu mengedepankan tradisi-tradisi Islam yang memiliki semangat untuk menghormati orang ataupun etnis Tiongkok yang lain. Mereka juga melarang warga Muslim terlibat dalam separatisme. Setiap etnis harus bersatu dan bersahabat, harus hidup dan bekerja dalam kedamaian dan kepuasan.

Kesimpulan: Pentingnya Mencintai Tanah Air

Tulisan hubbul wathan minal iman yang terdapat di setiap masjid besar di Tiongkok adalah bukti keseriusan ulama Tiongkok untuk memberikan pemahaman akan pentingnya mencintai tanah air. Bagi mereka, menjaga tanah air tidak hanya menjaga tanah kelahirannya akan tetapi ikut juga menjaga agamanya. Karena hanya dengan tanah air yang damai warga Muslim Tiongkok bisa menjalankan ibadah dengan tenang dan khusuk. Mereka juga akan efektif membangun bangsa dan negara jika negara aman dan tentram tidak ada konflik ataupun peperangan.

Dengan mencintai tanah air, tentunya warga Muslim Tiongkok akan semakin peduli pada negara dan berupaya terus untuk semakin memajukannya. Ketika semua warga negara menunjukkan cinta dan kepeduliannya secara nyata, tidak bisa dibendung lagi, negara Tiongkok
akan menjadi negara yang besar.

Oleh: Nurwidianto (Ketua PCINU Tiongkok) dalam buku ‘Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok’

Komentar
Loading...