Hijrah, On Going Process

0

Hijrah secara harfiah berarti pindah. Hijrah menjadi populer karena dipilih sebagai nama penanggalan dalam duni Islam. Asal-usul hijrah diambil dari momentum perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yastrib (yang kemudian diubah menjadi Madinah).

Dipilihnya peristiwa hijrah sebagai momentum penanggalan Islam karena beberapa pertimbangan, antara lain: pertama, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah ke Madinah; kedua, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah menuju kondisi yang lebih baik; ketiga, dan ini yang utama, dalam al-Qur’an sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah, misalnya ditegaskan dalam surat an-Nisa ayat 100 berikut:

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Mengampun lagi maha Penyayang.” (QS an-Nisa [4]: 100).

Tanggal 1 Muharram 1 Hijiriyah bertepatan dengan tanggal 16 Juli tahun 622 masehi. Penetapan tahun baru hijiriyah ini dilakukan berdasarkan keputusan Khalifah Umar r.a, yang ditandai dengan keluarnya Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar kepada seluruh penduduk Kota Aelia (Yerusalem)Yang baru saja dibebaskan oleh laskar Islam dari penjajahan Romawi pada tahun 17 H (638M).

Konsep hijrah Nabi (hijrah al-Rasul) tidak identik dengan perjalanan “eksodus” yang mengisyaratkan kekalahan dan kepasrahan. Hijrah dalam Islam tidak semata-mata berkonotasi mobilitas dan transformasi fisik dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hijrah juga bisa berkonotasi non-fisik, yaitu bertransformasi dari keadaan buruk menuju keadaan yang lebih baik, atau dari zona tidak aman dan tidak nyaman ke zona yang lebih aman dan lebih nyaman.

Spirit dan semangat hijrah Nabi sesungguhnya lebih tepat diartikan dalam pengertian terakhir. Hal ini bisa dipahami dari hadis Nabi melalui riwayat Saleh ibn Basyir ibn Fudaik. Hadis tersebut menceritakan suatu ketika Fudaik mendatangi Nabi mendatangi Nabi dan mengatakan, “Ya Rasulullah, mereka mengira bahwa mereka yang tidak hijrah akan celaka”. Nabi menjawab, “Wahai Fudaik, dirikanlah shalat, keluarkanlah zakat, jauhi kejahatan, dan tinggallah bersama kaummu sesuka hatimu. Dengan cara demikinan sesungguhnya engakau telah berhijrah.”

Semangat hijrah sesungguhnya ialah penciptaan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan fungsi dan kapasitas kita sebagai hamba (‘abid) dan sebagai khalifah di bumi (khalifah fi al-ardi). Jika di suatu tempat kita tidak bisa atau sulit mewujudkan kedua fungsi dan peran yang diamanahkan Tuhan itu, maka di situ ada tantangan untuk hijrah.

Hijrahnya Nabi dan sejumlah sahabatnya ke Madinah bukan berarti pengecut, pergi ke Madinah meninggalkan umatnya di Mekah untuk mencari selamat. Hijrah bisa dimaknai mundur selangkah untuk mencapai kemenangan. Kenyataannya, di Madinah Nabi berhasil membangun konsolidasi umat yang pada saatnya kembali merebut kota Mekah (Fathu Makkah) dengan sangat mencengangkan. Bagaimana mungkin revolusi besar terjadi tanpa setetes darah, itulah Fathu Makkah.

Penanggalan Islam dipilih konteks hijrah Nabi, bukan milad sekaligus tahun kemangkatan Nabi, bukan pula momentum turunnya al-Qur’an yang sekaligus pelantikannya sebagai Nabi dan Rasul. Ini membawa hikmah lebih besar bahwa konsep dan spirit hijrah sarat berisi pesan kemanusiaan.

Bila di suatu tempat kemerdekaan beriman dan berekspresi sulit berkembang, maka dimungkinkan untuk hijrah. Namun tidak mesti harus hijrah fisik bisa berada tetap di tempat namun suasana batin dan jalan pikiran yang harus berubah. Bagaimana mentransformasikan diri dari suatu kondisi yang tidak kondusif, mengembangkan ekspresi keberimanan kita lalu hijrah ke dalam kondisi lain yang lebih kondusif untuk hal tersebut.

Dengan demikian, hijrah harus dianggap sebagai sesuatu yang berlangsung secara terus menrus (on-going process) untuk sampai ke taraf yang lebih ideal sebagai hamba dan sebagai khalifah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu waijb memberikan pertolongan terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS al-Anfal [8]: 72)

Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Comments
Loading...