Hijrah Masa Kini adalah Meningkatkan Keilmuan, Persatuan dan Perekonomian

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw bersama para sahabat beliau dari Mekkah ke Madinah. Oleh karena itu peristiwa tersebut dijadikan penentuan awal mula kalender hijriah.

Kalender hijriah pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Tahun 1 hijriah ditentukan berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah. Nabi Muhammad Saw hijrah pada 622 masehi lalu.

Habib Luthfi mengingatkan bahwa Rasulullah hijrah bukan karena takut, bukan tuntutan perut, tapi karena wahyu. Hijrahnya Rasulullah bukan karena perlakukan kafir Quraisy. Seandainya tidak ada perlakuan seperti itu, Kanjeng Nabi akan tetap hijrah.

Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) melanjutkan penjelasannya.

“Hijrah di sini bukan ke negara-negara di Semenanjung Arab, kultur yang sudah setapak lebih maju, tapi malah ke Yastrib. Ada apa? Kota tua yang pada 3000 tahun yang lalu sebelum masehi sudah ada yang menghubungkan ekonomi, kemudian dirintis kembali oleh Rasulullah menjadi jalan sutera. Jalan sutera ini menghubungkan ke timur jauh, melalui India hingga masuk ke Indonesia,” ungkapnya.

Dari sini sudah jelas bahwasannya Rasulullah hijrah bukan karena hawa nafsunya semata, tapi semuanya itu atas perintah Allah. Dimana banyak pelajaran yang dapat diambil di balik hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah yang kala itu bernama Yastrib.

Menurut Habib Luthfi, hijrahnya Rasulullah itu membangun jaringan, membangun ekonomi, membangun pendidikan, membangun sarana-sarana ibadah, menjalin persatuan-persatuan yang luar biasa atau ukhuwah, sampai timbul perjanjian deklarasi Madinah dan lain sebagainya.

Pimpinan Forum Sufi Dunia itu mengatakan bahwa ketika Rasulullah hijrah bukan yang penting mengangkat pedang saja. Tapi begitu hijrah diangkatnya pedang oleh kanjeng Nabi, pedang apa? Pedang intelektual, pedang keilmuan, pedang pertanian, pedang ekonomi, itulah yang dibangkitkan Rasulullah.

Di sini banyak pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa hijrah tersebut. Bukannya ketika ada orang mengaku-ngaku hijrah lalu menyalahkan amaliah umat Islam yang lainnya atau hijrahnya dengan kekerasan. Tapi dengan adanya hijrah ini bisa meningkatkan persatuan, perekonomian dan keilmuan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...