Haul Cak Nur ke-14, Haedar Nashir Sampaikan Orasi Budaya

JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan Orasi Budaya dalam peringatan Haul Cak Nur ke-14 yang diadakan Nurcholish Madjid Society (NCMS), Kamis (29/8) malam di Kridangga Ballroom Century Park Hotel Jakarta.

Bertemakan ‘Moralitas Luhur dan Kreativitas Tinggi untuk Indonesia Kita’, Haedar Nashir mengangkat nilai-nilai yang ditinggalkan Cak Nur.

“Aktualisasi ilmu dalam bentuk etika dan intelektualitas yang tinggi itu kita temukan pada Cak Nur. Ilmu menyinari hati, pikiran, jiwa dan sikap, bukan hanya dimensi kognisi yang memperkaya retorika tapi juga masuk ke relung terdalam, menyinari dan memancarkan sinar pencerahan bagi orang lain. Ini teladan yang perlu kita terapkan pada peran dan tempat masing-masing yang mungkin berbeda. Kita juga perlu belajar tidak mudah menghakimi pemikiran orang lain,” papar Haedar.

Menurutnya, dari Cak Nur kita belajar bagaimana menyelesaikan masalah tak hanya menggunakan perspektif tunggal. Pemikiran dan pandangan berbeda justru bisa menjadi solusi. Karena dialog perlu kultur saling berbagi, saling peduli, dan kesediaan berpindah posisi.

“Persoalannya, kita jarang berdialog, merasa paling benar pada perspektifnya sendiri, dan tidak belajar satu sama lain. Saya kira untuk konteks yang lebih luas ini juga perlu dalam membaca Indonesia saat ini,” imbuhnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020 menyampaikan pentingnya di situasi kebangsaan saat ini untuk bersikap terbuka, dewasa, melihat masalah secara utuh serta sedia untuk berdialog dan melihat sesuatu melalui banyak perspektif.

“Cak Nur tidak pernah menghakimi orang dan pihak yang berbeda pemikiran yang boleh jadi perbedaan itu masih dalam koridor keislaman, keindonesiaa, dan kemanusiaan universal,” pungkas Haedar.

Ia juga menekankan pentingnya moralitas dan budi dalam intelektualitas seseorang sehingga tak hanya pintar tapi juga bisa menjadi teladan.

Hadir dalam acara ini keluarga Cak Nur, sejumlah tokoh dan cendekiawan seperti Akbar Tanjung, Komaruddin Hidayat, Ulil Abshar Abdalla, Franz Magnis Suseno, Yudi Latif, Budi Munawar Rachman, dan Siti Ruhaini Dzuhayatin. (eep)

Komentar
Loading...