Connect with us

Tokoh

Halim Ambiya, Ustadnya Anak Jalanan

Halim Ambiya pernah diselamatkan anak punk dalam sebuah kerusuhan di Thailand. Sebagai bentuk terima kasihnya, sang ustad mendirikan Pesantren Tasawuf Underground yang menampung anak punk dan anak jalanan.

Published

on

Halim-Ambiya
Ustad Halim Ambiya di sela-sela pengajian di Pesantren Tasawuf Underground yang ia dirikan sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Saat sebagian orang cenderung menghindari anak jalanan, Halim Ambiya (46 tahun) justru mendekatinya. Mereka diajak membersihkan diri, mengaji Alquran,  dan mengembangkan potensi kreatif masing-masing. Inilah jalan “tasawuf” yang merangkul kelompok masyarakat terpinggirkan.

Afdhalul jihaadi an yujaahidur rajulu nafsahu wa hawaahu.”  Halim Ambiya mengucapkan kalimat ini dengan suara lantang. Dia berdiri  sembari menunjuk tulisan Arab di papan tulis. Dandanannya santai: celana jins biru, kemeja putih lengan panjang, dan peci Afghanistan warna hijau. Jenggot tipis menutupi dagu.

Di hadapan Halim, duduk rapi 20-an pemuda. Penampilan mereka juga santai. Ada yang mengenakan kain batik rapi,  kemeja, peci, atau pakai kaos oblong saja. Sebagian mereka bertato di  beberapa bagian tubuhnya. Ada juga yang berambut gondrong sebahu. Mereka serempak menirukan ucapan Halim berulang-ulang sampai hadis riwayat Ad-Daelami itu nempel di kepala. Untuk mengecek hafalan, satu per satu bergantian melafalkannya. Jika ada salah ucap, Halim langsung memperbaiki.

“Jihad yang paling utama adalah seseorang yang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.” Halim menerangkan arti hadis itu, dan para santri kembali menirukannya bersama-sama.

Halim Ambiya
Ustad Halim Ambiya di sela-sela pengajian di Pesantren Tasawuf Underground yang ia dirikan di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

“Jadi, jihad itu tidak selalu angkat senjata, perang. Menuntut ilmu juga jihad. Jihad paling besar, menawan hawa nafsu, ingin mabuk, ngelem, narkoba,” kata Halim melanjutkan penjelasannya.  Para  santri menyimak dengan muka serius. Beberapa sambil menuliskan catatan di buku.

Begitulah rutinitas komunitas Tasawuf Underground yang didirikan dan dipimpin Halim. “Tasawuf” merujuk pada kegiatan mengaji ajaran Islam dengan menekankan laku spiritual untuk membersihkan jiwa dan pikiran. “Underground” lantaran pendekatannya tidak lazim, terutama merekrut anak jalanan yang terbiasa hidup dan mencari nafkah di jalanan, dan anak punk yang menjadikan jalanan sebagai panggung berekspresi.

Suasana pengajian gayeng dan hangat di lantai dua sebuah  rumah toko (ruko)  di kawasan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020) sore. Ruangan itu  sungguh  hidup dengan interior bernuansa coklat.  Beberapa gebyok (pintu kayu) didirikan di beberapa pojok. Satu bidang dinding dipenuhi potongan-potongan kayu dan ditempeli tulisan besar, “Tasawuf Underground.”

Komunitas itu memang bermarkas di ruko tiga lantai. Sebagian menyebut tempat itu pesantren anak-anak punk. Lantai satu difungsikan untuk usaha  laundry dan warung angkringan yang dijalankan anggota komunitas atau santri. Lantai dua untuk majelis pengajian. Lantai tiga, yang dilengkapi lemari-lemari pakaian, menjadi tempat tinggal anak punk yang  menjadi santri.

Hingga kini, sudah 120-an anak jalanan dan punk bimbingan komunitas ini. Sebagian telah “lulus”: kembali ke keluarga di rumah, mandiri dengan mengembangkan usaha sendiri, atau melanjutkan pendidikan sampai bangku kuliah. “Kami membantu mereka lepas dari jalanan dan menemukan peta jalan pulang,” kata Halim usai pengajian.

Sekarang, saya hidup sehat, tenang, bisa baca Alquran. Dulu, tiap bangun, saya sarapan dengan alkohol, hampir tidak pernah makan nasi

Alih-alih menggunakan istilah taubat, Halim lebih suka menggunakan istilah peta jalan pulang, baik pulang ke keluarga atau pulang ke jalan Tuhan. Ia menunjuk Deny Putranto (32 tahun) yang hadir di pengajian sore itu. Berhasil meninggalkan kehidupan di jalanan beserta semua sisi gelapnya, kini pemuda asal Klaten, Jawa Tengah itu tinggal di ruko tersebut, rutin mengaji, sambil bekerja paruh waktu.

“Sekarang, saya hidup sehat, tenang, bisa baca Alquran. Dulu, tiap bangun, saya sarapan dengan alkohol, hampir tidak pernah makan nasi,” katanya mengenang.

Dari kolong jembatan

Bagaimana asal muasal Tasawuf Underground? Ceritanya begulir seiring perjalanan hidup Halim. Selepas nyantri di Pesantren Gading Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, dia ambil kuliah di Jurusan Akidah dan Filsafat Institut Agama Islam Negeri, sekarang Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta. Pada akhir kuliah, dia juga nyambi bekerja sebagai wartawan. Pemuda itu lantas melanjutkan studi master di Jurusan Sejarah Peradaban Islam, ISTAC-Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Kuala Lumpur, Malaysia.

Halim Ambiya
Suasana pengajian komunitas Tasawuf Underground di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Halim Ambiya, sang penggagas komunitas lantas mendirikan pesantren Tasawuf Underground yang menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Suatu ketika, saat masih tinggal di Malaysia, Halim bepergian dengan naik bus untuk memenuhi undangan diskusi di Bangkok, Thailand. Di tengah jalan, tiba-tiba meletup kerusuhan. Entah bagaimana, segerombolan preman menyerangnya. Untunglah, seorang anak punk menariknya untuk bersembunyi di bengkel. “Sejak saat itu, saya merasa berutang budi pada anak punk,” kenangnya.

Pulang ke Tanah Air, Halim mengajar di UIN Jakarta sambil mengedit sejumlah buku. Dia juga merintis percetakan dan penerbitan, Salima Publika, dengan menyewa kantor di satu ruko di Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Sebagian buku terbitannya bertema tasawuf, kajian spiritualitas Islam.

Beberapa cuplikan kajian tasawuf itu juga diunggah di media sosial.  Ternyata, banyak orang juga menyukainya, terutama kalimat-kalimat hikmah dari tokoh-tokoh sufi seperti Al Ghazali atau Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Halim pun kerap diundang untuk memberi ceramah di berbagai tempat, termasuk di kafe-kafe. Beberapa anak punk turut hadir.

Pengalaman diselamatkan anak jalanan di Bangkok mendorong Halim untuk fokus mendekati kelompok terpinggirkan ini. “Masjid kadang mencari sumbangan di jalan. Tapi, ketika ada anak jalanan masuk masjid, malah dicurigai. Padahal, di antara mereka, ada yang benar-benar ingin bertaubat,” katanya.

Tahun 2017, Halim coba menggelar pengajian di bawah kolong jembatan di depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Dua kali sepekan, Jumat dan Sabtu, kegiatan ini diikuti sejumlah anak jalanan dan punk. Mereka diajari membaca Alquran, dikenalkan cara berwudhu, shalat, dan menyelami hikmah-hikmah tasawuf yang mendorong orang menjadi manusia yang lebih baik.

“Sebelum mengaji, saya ajak anak-anak bersih-bersih dulu, mandi, dikenalkan ‘thaharah’. Baru kemudian kita belajar shalat. Lalu, bercerita hikmah sufi yang ringan-ringan, tapi menyentuh,” paparnya.

Kami  bisa fly tanpa perlu ngelem atau pakai narkoba

Kegiatan itu kian populer. Beberapa anak jalanan mengunjungi rumah Halim demi dapat mengaji Islam lebih serius. Mereka lantas ditampung dan tinggal di kantor penerbitan dan percetakannya di Ciputat Timur. Kegiatannya kemudian lebih bervariasi. Suatu kali, mereka diajak ziarah ke makam wali atau zikir pada malam hari. Kali lain, mereka melantunkan shalawat Nabi dalam nyanyian dan iringan musik pop yang asyik. “Kami  bisa fly tanpa perlu ngelem atau pakai narkoba,” tutur Halim tersenyum.

Dengan nama Tasawuf Underground, komunitas ini juga getol mengunggah kegiatannya di akun-akun media sosial, terutama di Facebook, Youtube, dan Instagram. Masing-masing akun itu diikuti puluhan ribu sampai ratusan ribu warga internet.

Diajak duel

Tak mudah membimbing anak jalanan. Bagaimanapun, mereka terbiasa hidup di jalanan dengan segala kelonggarannya. Belum lagi sebagian akrab dengan alkohol dan zat psikotropika. Tak sedikit mereka yang kecanduan psikotropika dan terikat jaringan peredarannya.

Mengeluarkan mereka dari jalanan berarti berhadapan dengan jaringan yang mengikatnya. Bandar bersama kaki tangannya itu sering mati-matian mempertahankan pelanggan atau anak buahnya.  Halim acap mengadapi masalah macam ini. Dia pernah diintimidasi, didatangi preman, diajak duel, bahkan diancam dengan pedang samurai atau badik.

“Saya tidak meladeni berkelahi. Bisa mati saya. Pakai strategi,” katanya sambil tersenyum. Salah satunya, Halim membangun jaringan dengan kepolisian, dinas sosial, dan lembaga bantuan hukum. Jika ada masalah, jaringan itu memberikan sokongan keamanan dan advokasi hukum termasuk pada anak jalanan.

Salah satu ornamen di Pesantren Tasawuf Underground yang didirikan Halim Ambiya di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Soal biaya kegiatan, komunitas Tasawuf Underground mendapatkan bantuan dari sana-sini. Ruko di Ciputat, misalnya, dapat ditempati berkat uluran tangan sukarelawan. Bantuan juga berupa tenaga pengajar. Ada saja orang yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, mulai dari mahasiswa, dokter, sampai perwira tentara dan polisi.

Tantangan terberat tentu saja pada proses membimbing anak jalanan yang terbiasa hidup bebas, punya jiwa memberontak, bahkan tehadap orangtuanya. Untuk mengatasi problem ini, perlu pendekatan yang cair dan lembut. Halim pun lebih memposisikan diri sebagai sahabat ketimbang penceramah dengan segudang nasihat.

Pertemuan awal lazimnya banyak dihabiskan dengan ngobrol sambil minum kopi. Setelah merasa nyaman, anak-anak diberi cerita-cerita sederhana yang menggugah. Contohnya, kisah-kisah teladan dari para sufi yang menyiratkan semangat ikhlas, tawakkal, belajar, sabar, atau ridha. Begitu batinnya tersentuh, tumbuh komitmen untuk belajar dan memperbaiki diri.

Mereka umumnya menyukai dzikir karena ritual ini menenangkan. Setelah diperkenalkan makna shalat, sebagian mengaku bisa shalat khusyuk karena menemukan kedamaian. “Nyaris tidak pakai nasihat, saya mengajak anak-anak untuk menjalani hidup yang lebih produktif, lebih sehat. Juga dikasih contoh,” kata Halim.

Anak jalanan itu juga diperkenalkan pada usaha-usaha produktif. Mereka diajak mengelola usaha laundry dan  warung angkringan. Pernah juga mereka diajak menjajal usaha-usaha lain hasil kerja sama dengan pengusaha sablon, desain, atau kedai kopi.

Semangat wirausaha ditumbuhkan agar mereka lebih berdaya secara ekonomi.  Jika sudah mandiri, mereka akan memiliki daya tahan sehingga tidak mudah tergoda kembali ke jalanan.

Halim Ambiya
Usaha angkringan yang dijalankan oleh anak punk yang sempat hidup di jalan di Pesantren Tasawuf Underground di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pihak pesantren berusaha memberdayakan santrinya dengan mengajarkan mereka menjalankan usaha seperti angkringan dan binatu (laundry). Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Halim Ambiya

Lahir: Indramayu, 12 Juli 1974

Pendidikan:

  • Pondok Pesantren Gading Kroya, Cilacap, Jawa Tengah
  • S-1 Jurusan Akidah dan Filsafat, IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
  • S-2 Jurusan Sejarah Peradaban Islam, ISTAC-Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Kuala Lumpur.

Aktivitas saat ini:

  • Direktur Salima Publika, Penerbit buku-buku keislaman
  • Pendiri dan Admin Komunitas Tasawuf Underground
  • Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf Underground. Sebuah pesantren yang membina anak-anak Punk dan jalanan di sekitar Jabotabek.

Pengalaman kerja:

  • Wartawan Jawa Pos Group (1998-2000)
  • Freelance Editor (Mizan, Republika, Rakyat Merdeka dan Penerbit Buku Kompas) 20092012
  • Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta 2007-2012
  • Redaktul Pelaksana Majalah Rakyat Merdeka 2009-2010
  • Direktur Salima Publika 2012- sekarang
  • Admin Tasawuf Underground 2012- sekarang
  • Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf Underground 2018- sekarang.

Buku:  Novel “Sor-Baujan ” (diterbikan secara virtual di Wattpad)

[]

Oleh: ILHAM KHOIRI DAN BUDI SUWARNA
Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber : Kompas.id

Mursyid

Mengenal Anre Gurutta (AG) Prof. Dr. K. H. Muhammad Nur

Published

on

By

Mengenal Anre Gurutta (AG) Prof. Dr. K. H. Muhammad Nur

Sumber foto: Anwar Paraga

Anre gurutta wafat pada tanggal 29 Juni 2011, bertepatan isra’ mi’raj 27 Rajab 1432 H. Sosok keulamaan AGH Muhammad Nur telah banyak mewarnai tradisi keilmuan kaum pesantren perkotaan melalui Ma`had Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah (MDIA) yang didirikannya.

AGH Muhammad Nur dilahirkan 7 Desember 1932 di desa Langkean Kab. Maros, tercatat sebagai tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan (NU SULSEL) yang sepanjang hayatnya berkiprah pada dunia pendidikan dan dakwah, serta pernah menjadi anggota DPR Provinsi. Sebelum rihlah ilmiyah ke tanah suci, Anre Gurutta belajar kepada ulama di daerahnya, kemudia ditahun 1947 sampai 1958 memilih mukim di Mekkah untuk menuntut ilmu pada sejumlah ulama hingga menerima sanad hadis yang bersambung langsung dengan Nabi.

Proses pendidikannya di Mekkah dimulai dengan menghafal Al Quran hingga 30 juz di Madrasah Ulumul Qur’an, Mekkah diselesaikan tahun 1375 Hijriah. Kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Fakhriyah Usmaniyah dan Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah tahun 1958 dengan memperoleh gelar Asy-Syekh Fadhil dan mendapat sertifikat untuk mengajar di almamaternya, Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah, Mekkah.

Keilmuannya sangat menonjol di bidang hadis, meski keilmuannya di bidang lainpun sangat dikuasainya seperti tafsir, fikih, tauhid, ushul fiqhi hingga tasawuf. Dalam bidang hadis berhasil memperoleh sanad hadis yang bersambung hingga rasulullah.

Ijazah silsilah hadis diperoleh dari sejumlah ulama Mekkah, tempatnya mengaji mendalami hadis di antaranya melalui; Asy-Syekh Hasan Al-Yamani, Asy-Syekh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutuby, Asy-Syekh Alwi Abbas Al-Maliky, Asy-Syekh Ali Al-Maghriby Al-Maliky, Asy-Syekh Hasan Al-Masyath dan As-Syekh Alimuddin Muhammad Yasin Al-Fadany. Dari jalur ijazah silsilah ini kemudian diberi gelar Al-Allamah Al-Jalil KH. Muhammad Nur Al-Bugisy.

Basis keilmuannya di bidang hadis, juga mengantarkannya mendapatkan gelar bergensi sebagai pakar ilmu hadis yang diperoleh setelah menyelesaikan pendidikan di Mekkah. Gelar keilmuan yang diperolehnya adalah Al-Allamah Nashirusunnah yang berarti pembela sunnah nabi yang mendapat pengakuan sejumlah ulama, pemberian gelar tersebut menguatkan bahwa AGH. Muhammad Nur seorang ulama besar yang kapasitas keilmuannya diakui sejumlah ulama Mekkah.

Sejak pulang dari Mekkah dan bermukim di Makassar, AGH Muhammad Nur kemudian berkiprah di bidang pendidikan agama dengan merintis pengajian kitab kuning sejak akhir tahun 1950-an. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang berhasil dirintisnya dan melahirkan sejumlah ulama dan cendekiawan muslim, yakni Yayasan Pendidikan Taqwa yang menaungi Pesantren MDIA Taqwa hingga akhir hayatnya.

Selain itu, Allahu yarham memperoleh ijazah sebagai mursyid tarekat Al-Muhammadiyah dari Syeikh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutuby, sehingga sesampainya di Makassar juga membaiat tarekat Al-Muhammadiyah, sehingga jamaah tarekat yang pernah dibaiat oleh Allahu yarham hingga sampai daerah Kalimantan dan lainnya.

Baca juga: Haul Prof. Dr. K. H. Muhammad Nur Ke-10

Beberapa tokoh besar, ulama, cendekiawan pernah mengecap ilmunya. Sebut di antaranya, Prof Dr Alwi Shihab, MA (mantan menteri luar negeri RI), Prof. Dr. Sayyid Aqiel Al-Mahdaly (Rektor Universitas Kedah Malaysia), Prof Dr Nasaruddin Umar MA, (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), Prof Dr. Muhammadiyah Amin MA. (Rektor STAIN Gorontalo), dan lain-lain.

Sejumlah murid lainnya telah berkiprah di berbagai tempat yang tentunya masih menjaga tradisi keilmuan Gurutta. Bahkan salah seorang muridnya memberi gelar guru besar (professor) dan Doktor dianugerahkan tahun 2010 oleh rektor Universitas Insani Kedah Malaysia, Prof Dr Sayyid Aqiel al-Mahdaly yang juga muridnya dari MDIA Taqwa Makassar. Pemberian gelar DR. honoris causa (HC) tersebut merupakan penghargaan keilmuannya sekaligus penghormatan sang murid terhadap gurunya.

Dalam sambutan HAUL ke-10, Dr.Sayyid Muhammad Bin Muhammad Aqiel Al-Mahdaly Lc. MA. menyampaikan:

“Tidak di pungkiri lagi AG. hingga akhir hayat Beliau semangat dalam menyebarkan Ilmu kepada orang lain, maka atas dasar semangat inilah Beliau di karuniakan dari Universitas A-Azhar Assyarif melalui Univerisitas Insaniah Kedah Darul Aman Malaysia gelaran Professor dan Dr. kehormat, (sebelum Beliau wafat) yang mana gelaran ilmiah ini di tanda tangani oleh Ulama-Ulama Azhar, di antaranya Prof. Dr. Dato Dr. Sayyid Muhammad Aqiel Bin Ali Al-Mahdaly, yang merupakan Rektor Universitas Insaniah ketika itu, dan perlu di ketahui bahwa Universitas Insaniah ini adalah cabang dari Universitas Al-Azhar Assyarif di rantau Asia.”

Ulama kharismatik lulusan haramain mewariskan keilmuannya melalui pesantren yang dibinanya. Menelusuri jaringan keilmuan ulama di SULSEL melalui pesantren sangat penting membangun kesadaran keagamaan masyarakat. Hal lebih penting, justru karena masing-masing ulama besar di SULSEL memiliki pokok-pokok ajaran yang sama, mengusung ajaran Ahlussunnah waljam’ah sehingga hampir tidak terjadi benturan pemikiran.

Sementara AGH Muhammad Nur masih sempat berguru di Mekkah pada sejumlah ulama besar yang juga gurunya AGH Muhammad As’ad (Pendiri Pondok Pesantren As’adiyah), termasuk Syeikh K. H. Maimun Zubair di jawa. Syeikh Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki ketika berkunjung ke Makassar sangat dekat dan akrab dengan Allahu yarham, Allahu yarham memperkenalkan identitas Sayyid Muhammad Alwi kepada Habaib di Makassar, tanggal 13 Maret 1983 di kediaman Habib Abu Bakar Hasan Al-Aththas. Ulama besar K. H. Sahal Mahfudz ketika Muktamar NU di Makassar, pernah menginap semalam dirumah Allahu yarham, dan ulama dari luar negara pernah datang mengunjungi beliau untuk mengambil sanad ijazah hadis dan sanad barzanji.

Menelusuri hubungan keilmuan ulama-ulama SULSEL akan mempertemukan sanad-sanad ulama nusantara, hubungan guru murid yang berkesinambungan dengan pokok ajaran ASWAJA. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap pemahaman dan pengalaman keagamaan masyarakat di SULSEL, masyarakat Indonesia pada umumnya. [Hardianto]

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Tokoh

Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, Siapakah Beliau?

Published

on

Cirebon, JATMAN.OR.ID: Bagi sebagian orang, nomor cantik atau tanggal cantik itu penting, seperti untuk mengadakan acara atau agenda yang dianggap spesial. Termasuk 10 November, tanggal ini dianggap sakral karena momentum hari pahlawan, darah siapa yang tidak mendidih saat menonton, membaca, atau mendengarkan kisah-kisah perjuangan para pendahulu.

Malam ini, masih di 10 November 2020, saya bersama teman-teman berbincang seusai rutinan malam rabu di Jatiseeng Ciledug Cirebon untuk ratiban dan ziarah serta doa bersama untuk para pahlawan Indonesia. Sedikit berbincang dengan Kang Syukron Ma’mun, melanjutkan topik tentang Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, yang malam sebelumnya saya minta informasi untuk kebutuhan berita. Sontak, beliau langsung menyampaikan isi ingatannya.

Habib Ahmad ini tidak disukai penjajah. Sehingga, penjajah selalu mencari alasan dan kesempatan untuk menangkap beliau.
Tetapi, beliau selalu berhasil lolos. Terkadang penjajah bersiap menghadang beliau saat beliau berangkat salat Jumat. Biasanya beliau salat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa Kasepuhan. Ditunggu sampai siang, beliau masih tidak kelihatan. Padahal, beliau salat Jumat seperti biasanya.

Ada lagi. Suatu hari Habib Husein Alatas Pemalang bersama satu temannya sowan ke Habib Ahmad. Waktu ashar datang. Habib Husein matur ke Habib Ahmad, “Bib, saya pinjam sarung. Sama buat teman saya juga.” Habib Ahmad mengambil sarung, tapi cuma satu. Ke teman Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “Sampean jangan salat karena saya.” Ternyata sehari-harinya, teman Habib Husein itu memang tidak salat.

Saat iqomat, Habib Husein langsung wudu. Setelah itu, ternyata Habib Ahmad hampir selesai salatnya. Habib Husein membatin, “Katanya wali, kok salatnyq cepet sekali.” Setelah salam, sambil melihat Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “(Salatnya) balapan dengan setan, Bib.”

Masih tentang beliau. Suatu ketika Maulana Habib Luthfi dan Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya Jagasatru sowan ke Kiai Bajuri Balongan. Dalam perjalanan, Maulana membatin, “Kalau sampai ke Kiai Bajuri, saya mau tanya siapa sulthanul awliya sekarang.”
Sesampainya di rumah Kiai Bajuri, beliau berkata kepada Maulana, “Orang dekat, Yip (Bib). Saudara sendiri. Itu lho Habib Ahmad Arjawinangun, Habib Ahmad bin Ismail.”

Habib Ahmad ini sulthanul awliya, Ayah beliau (Habib Ismail) juga wali quthb. Kakek beliau (Habib Ahmad bin Syekh Kesambi) juga Quthbul Aqthab.

Sebagai penutup pembicaraan, atau mungkin bukan, Kang Syukron pun melepas kalimat, “Sudah ya, jangan banyak-banyak, isi cangkir hanya tinggal ampas kopi, hadir saja di haul Beliau besok.”[Yazid]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending