Connect with us

Tokoh

Halim Ambiya, Ustadnya Anak Jalanan

Halim Ambiya pernah diselamatkan anak punk dalam sebuah kerusuhan di Thailand. Sebagai bentuk terima kasihnya, sang ustad mendirikan Pesantren Tasawuf Underground yang menampung anak punk dan anak jalanan.

Published

on

Halim-Ambiya
Ustad Halim Ambiya di sela-sela pengajian di Pesantren Tasawuf Underground yang ia dirikan sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Saat sebagian orang cenderung menghindari anak jalanan, Halim Ambiya (46 tahun) justru mendekatinya. Mereka diajak membersihkan diri, mengaji Alquran,  dan mengembangkan potensi kreatif masing-masing. Inilah jalan “tasawuf” yang merangkul kelompok masyarakat terpinggirkan.

Afdhalul jihaadi an yujaahidur rajulu nafsahu wa hawaahu.”  Halim Ambiya mengucapkan kalimat ini dengan suara lantang. Dia berdiri  sembari menunjuk tulisan Arab di papan tulis. Dandanannya santai: celana jins biru, kemeja putih lengan panjang, dan peci Afghanistan warna hijau. Jenggot tipis menutupi dagu.

Di hadapan Halim, duduk rapi 20-an pemuda. Penampilan mereka juga santai. Ada yang mengenakan kain batik rapi,  kemeja, peci, atau pakai kaos oblong saja. Sebagian mereka bertato di  beberapa bagian tubuhnya. Ada juga yang berambut gondrong sebahu. Mereka serempak menirukan ucapan Halim berulang-ulang sampai hadis riwayat Ad-Daelami itu nempel di kepala. Untuk mengecek hafalan, satu per satu bergantian melafalkannya. Jika ada salah ucap, Halim langsung memperbaiki.

“Jihad yang paling utama adalah seseorang yang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.” Halim menerangkan arti hadis itu, dan para santri kembali menirukannya bersama-sama.

Halim Ambiya
Ustad Halim Ambiya di sela-sela pengajian di Pesantren Tasawuf Underground yang ia dirikan di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

“Jadi, jihad itu tidak selalu angkat senjata, perang. Menuntut ilmu juga jihad. Jihad paling besar, menawan hawa nafsu, ingin mabuk, ngelem, narkoba,” kata Halim melanjutkan penjelasannya.  Para  santri menyimak dengan muka serius. Beberapa sambil menuliskan catatan di buku.

Begitulah rutinitas komunitas Tasawuf Underground yang didirikan dan dipimpin Halim. “Tasawuf” merujuk pada kegiatan mengaji ajaran Islam dengan menekankan laku spiritual untuk membersihkan jiwa dan pikiran. “Underground” lantaran pendekatannya tidak lazim, terutama merekrut anak jalanan yang terbiasa hidup dan mencari nafkah di jalanan, dan anak punk yang menjadikan jalanan sebagai panggung berekspresi.

Suasana pengajian gayeng dan hangat di lantai dua sebuah  rumah toko (ruko)  di kawasan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020) sore. Ruangan itu  sungguh  hidup dengan interior bernuansa coklat.  Beberapa gebyok (pintu kayu) didirikan di beberapa pojok. Satu bidang dinding dipenuhi potongan-potongan kayu dan ditempeli tulisan besar, “Tasawuf Underground.”

Komunitas itu memang bermarkas di ruko tiga lantai. Sebagian menyebut tempat itu pesantren anak-anak punk. Lantai satu difungsikan untuk usaha  laundry dan warung angkringan yang dijalankan anggota komunitas atau santri. Lantai dua untuk majelis pengajian. Lantai tiga, yang dilengkapi lemari-lemari pakaian, menjadi tempat tinggal anak punk yang  menjadi santri.

Hingga kini, sudah 120-an anak jalanan dan punk bimbingan komunitas ini. Sebagian telah “lulus”: kembali ke keluarga di rumah, mandiri dengan mengembangkan usaha sendiri, atau melanjutkan pendidikan sampai bangku kuliah. “Kami membantu mereka lepas dari jalanan dan menemukan peta jalan pulang,” kata Halim usai pengajian.

Sekarang, saya hidup sehat, tenang, bisa baca Alquran. Dulu, tiap bangun, saya sarapan dengan alkohol, hampir tidak pernah makan nasi

Alih-alih menggunakan istilah taubat, Halim lebih suka menggunakan istilah peta jalan pulang, baik pulang ke keluarga atau pulang ke jalan Tuhan. Ia menunjuk Deny Putranto (32 tahun) yang hadir di pengajian sore itu. Berhasil meninggalkan kehidupan di jalanan beserta semua sisi gelapnya, kini pemuda asal Klaten, Jawa Tengah itu tinggal di ruko tersebut, rutin mengaji, sambil bekerja paruh waktu.

“Sekarang, saya hidup sehat, tenang, bisa baca Alquran. Dulu, tiap bangun, saya sarapan dengan alkohol, hampir tidak pernah makan nasi,” katanya mengenang.

Dari kolong jembatan

Bagaimana asal muasal Tasawuf Underground? Ceritanya begulir seiring perjalanan hidup Halim. Selepas nyantri di Pesantren Gading Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, dia ambil kuliah di Jurusan Akidah dan Filsafat Institut Agama Islam Negeri, sekarang Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta. Pada akhir kuliah, dia juga nyambi bekerja sebagai wartawan. Pemuda itu lantas melanjutkan studi master di Jurusan Sejarah Peradaban Islam, ISTAC-Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Kuala Lumpur, Malaysia.

Halim Ambiya
Suasana pengajian komunitas Tasawuf Underground di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Halim Ambiya, sang penggagas komunitas lantas mendirikan pesantren Tasawuf Underground yang menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Suatu ketika, saat masih tinggal di Malaysia, Halim bepergian dengan naik bus untuk memenuhi undangan diskusi di Bangkok, Thailand. Di tengah jalan, tiba-tiba meletup kerusuhan. Entah bagaimana, segerombolan preman menyerangnya. Untunglah, seorang anak punk menariknya untuk bersembunyi di bengkel. “Sejak saat itu, saya merasa berutang budi pada anak punk,” kenangnya.

Pulang ke Tanah Air, Halim mengajar di UIN Jakarta sambil mengedit sejumlah buku. Dia juga merintis percetakan dan penerbitan, Salima Publika, dengan menyewa kantor di satu ruko di Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Sebagian buku terbitannya bertema tasawuf, kajian spiritualitas Islam.

Beberapa cuplikan kajian tasawuf itu juga diunggah di media sosial.  Ternyata, banyak orang juga menyukainya, terutama kalimat-kalimat hikmah dari tokoh-tokoh sufi seperti Al Ghazali atau Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Halim pun kerap diundang untuk memberi ceramah di berbagai tempat, termasuk di kafe-kafe. Beberapa anak punk turut hadir.

Pengalaman diselamatkan anak jalanan di Bangkok mendorong Halim untuk fokus mendekati kelompok terpinggirkan ini. “Masjid kadang mencari sumbangan di jalan. Tapi, ketika ada anak jalanan masuk masjid, malah dicurigai. Padahal, di antara mereka, ada yang benar-benar ingin bertaubat,” katanya.

Tahun 2017, Halim coba menggelar pengajian di bawah kolong jembatan di depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Dua kali sepekan, Jumat dan Sabtu, kegiatan ini diikuti sejumlah anak jalanan dan punk. Mereka diajari membaca Alquran, dikenalkan cara berwudhu, shalat, dan menyelami hikmah-hikmah tasawuf yang mendorong orang menjadi manusia yang lebih baik.

“Sebelum mengaji, saya ajak anak-anak bersih-bersih dulu, mandi, dikenalkan ‘thaharah’. Baru kemudian kita belajar shalat. Lalu, bercerita hikmah sufi yang ringan-ringan, tapi menyentuh,” paparnya.

Kami  bisa fly tanpa perlu ngelem atau pakai narkoba

Kegiatan itu kian populer. Beberapa anak jalanan mengunjungi rumah Halim demi dapat mengaji Islam lebih serius. Mereka lantas ditampung dan tinggal di kantor penerbitan dan percetakannya di Ciputat Timur. Kegiatannya kemudian lebih bervariasi. Suatu kali, mereka diajak ziarah ke makam wali atau zikir pada malam hari. Kali lain, mereka melantunkan shalawat Nabi dalam nyanyian dan iringan musik pop yang asyik. “Kami  bisa fly tanpa perlu ngelem atau pakai narkoba,” tutur Halim tersenyum.

Dengan nama Tasawuf Underground, komunitas ini juga getol mengunggah kegiatannya di akun-akun media sosial, terutama di Facebook, Youtube, dan Instagram. Masing-masing akun itu diikuti puluhan ribu sampai ratusan ribu warga internet.

Diajak duel

Tak mudah membimbing anak jalanan. Bagaimanapun, mereka terbiasa hidup di jalanan dengan segala kelonggarannya. Belum lagi sebagian akrab dengan alkohol dan zat psikotropika. Tak sedikit mereka yang kecanduan psikotropika dan terikat jaringan peredarannya.

Mengeluarkan mereka dari jalanan berarti berhadapan dengan jaringan yang mengikatnya. Bandar bersama kaki tangannya itu sering mati-matian mempertahankan pelanggan atau anak buahnya.  Halim acap mengadapi masalah macam ini. Dia pernah diintimidasi, didatangi preman, diajak duel, bahkan diancam dengan pedang samurai atau badik.

“Saya tidak meladeni berkelahi. Bisa mati saya. Pakai strategi,” katanya sambil tersenyum. Salah satunya, Halim membangun jaringan dengan kepolisian, dinas sosial, dan lembaga bantuan hukum. Jika ada masalah, jaringan itu memberikan sokongan keamanan dan advokasi hukum termasuk pada anak jalanan.

Salah satu ornamen di Pesantren Tasawuf Underground yang didirikan Halim Ambiya di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pesantren itu menampung puluhan anak punk dan anak jalanan. Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Soal biaya kegiatan, komunitas Tasawuf Underground mendapatkan bantuan dari sana-sini. Ruko di Ciputat, misalnya, dapat ditempati berkat uluran tangan sukarelawan. Bantuan juga berupa tenaga pengajar. Ada saja orang yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, mulai dari mahasiswa, dokter, sampai perwira tentara dan polisi.

Tantangan terberat tentu saja pada proses membimbing anak jalanan yang terbiasa hidup bebas, punya jiwa memberontak, bahkan tehadap orangtuanya. Untuk mengatasi problem ini, perlu pendekatan yang cair dan lembut. Halim pun lebih memposisikan diri sebagai sahabat ketimbang penceramah dengan segudang nasihat.

Pertemuan awal lazimnya banyak dihabiskan dengan ngobrol sambil minum kopi. Setelah merasa nyaman, anak-anak diberi cerita-cerita sederhana yang menggugah. Contohnya, kisah-kisah teladan dari para sufi yang menyiratkan semangat ikhlas, tawakkal, belajar, sabar, atau ridha. Begitu batinnya tersentuh, tumbuh komitmen untuk belajar dan memperbaiki diri.

Mereka umumnya menyukai dzikir karena ritual ini menenangkan. Setelah diperkenalkan makna shalat, sebagian mengaku bisa shalat khusyuk karena menemukan kedamaian. “Nyaris tidak pakai nasihat, saya mengajak anak-anak untuk menjalani hidup yang lebih produktif, lebih sehat. Juga dikasih contoh,” kata Halim.

Anak jalanan itu juga diperkenalkan pada usaha-usaha produktif. Mereka diajak mengelola usaha laundry dan  warung angkringan. Pernah juga mereka diajak menjajal usaha-usaha lain hasil kerja sama dengan pengusaha sablon, desain, atau kedai kopi.

Semangat wirausaha ditumbuhkan agar mereka lebih berdaya secara ekonomi.  Jika sudah mandiri, mereka akan memiliki daya tahan sehingga tidak mudah tergoda kembali ke jalanan.

Halim Ambiya
Usaha angkringan yang dijalankan oleh anak punk yang sempat hidup di jalan di Pesantren Tasawuf Underground di sebuah ruko di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/12/2020). Pihak pesantren berusaha memberdayakan santrinya dengan mengajarkan mereka menjalankan usaha seperti angkringan dan binatu (laundry). Foto: KOMPAS/BUDI SUWARNA

Halim Ambiya

Lahir: Indramayu, 12 Juli 1974

Pendidikan:

  • Pondok Pesantren Gading Kroya, Cilacap, Jawa Tengah
  • S-1 Jurusan Akidah dan Filsafat, IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
  • S-2 Jurusan Sejarah Peradaban Islam, ISTAC-Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Kuala Lumpur.

Aktivitas saat ini:

  • Direktur Salima Publika, Penerbit buku-buku keislaman
  • Pendiri dan Admin Komunitas Tasawuf Underground
  • Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf Underground. Sebuah pesantren yang membina anak-anak Punk dan jalanan di sekitar Jabotabek.

Pengalaman kerja:

  • Wartawan Jawa Pos Group (1998-2000)
  • Freelance Editor (Mizan, Republika, Rakyat Merdeka dan Penerbit Buku Kompas) 20092012
  • Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta 2007-2012
  • Redaktul Pelaksana Majalah Rakyat Merdeka 2009-2010
  • Direktur Salima Publika 2012- sekarang
  • Admin Tasawuf Underground 2012- sekarang
  • Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf Underground 2018- sekarang.

Buku:  Novel “Sor-Baujan ” (diterbikan secara virtual di Wattpad)

[]

Oleh: ILHAM KHOIRI DAN BUDI SUWARNA
Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber : Kompas.id

Tokoh

Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, Siapakah Beliau?

Published

on

Cirebon, JATMAN.OR.ID: Bagi sebagian orang, nomor cantik atau tanggal cantik itu penting, seperti untuk mengadakan acara atau agenda yang dianggap spesial. Termasuk 10 November, tanggal ini dianggap sakral karena momentum hari pahlawan, darah siapa yang tidak mendidih saat menonton, membaca, atau mendengarkan kisah-kisah perjuangan para pendahulu.

Malam ini, masih di 10 November 2020, saya bersama teman-teman berbincang seusai rutinan malam rabu di Jatiseeng Ciledug Cirebon untuk ratiban dan ziarah serta doa bersama untuk para pahlawan Indonesia. Sedikit berbincang dengan Kang Syukron Ma’mun, melanjutkan topik tentang Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, yang malam sebelumnya saya minta informasi untuk kebutuhan berita. Sontak, beliau langsung menyampaikan isi ingatannya.

Habib Ahmad ini tidak disukai penjajah. Sehingga, penjajah selalu mencari alasan dan kesempatan untuk menangkap beliau.
Tetapi, beliau selalu berhasil lolos. Terkadang penjajah bersiap menghadang beliau saat beliau berangkat salat Jumat. Biasanya beliau salat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa Kasepuhan. Ditunggu sampai siang, beliau masih tidak kelihatan. Padahal, beliau salat Jumat seperti biasanya.

Ada lagi. Suatu hari Habib Husein Alatas Pemalang bersama satu temannya sowan ke Habib Ahmad. Waktu ashar datang. Habib Husein matur ke Habib Ahmad, “Bib, saya pinjam sarung. Sama buat teman saya juga.” Habib Ahmad mengambil sarung, tapi cuma satu. Ke teman Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “Sampean jangan salat karena saya.” Ternyata sehari-harinya, teman Habib Husein itu memang tidak salat.

Saat iqomat, Habib Husein langsung wudu. Setelah itu, ternyata Habib Ahmad hampir selesai salatnya. Habib Husein membatin, “Katanya wali, kok salatnyq cepet sekali.” Setelah salam, sambil melihat Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “(Salatnya) balapan dengan setan, Bib.”

Masih tentang beliau. Suatu ketika Maulana Habib Luthfi dan Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya Jagasatru sowan ke Kiai Bajuri Balongan. Dalam perjalanan, Maulana membatin, “Kalau sampai ke Kiai Bajuri, saya mau tanya siapa sulthanul awliya sekarang.”
Sesampainya di rumah Kiai Bajuri, beliau berkata kepada Maulana, “Orang dekat, Yip (Bib). Saudara sendiri. Itu lho Habib Ahmad Arjawinangun, Habib Ahmad bin Ismail.”

Habib Ahmad ini sulthanul awliya, Ayah beliau (Habib Ismail) juga wali quthb. Kakek beliau (Habib Ahmad bin Syekh Kesambi) juga Quthbul Aqthab.

Sebagai penutup pembicaraan, atau mungkin bukan, Kang Syukron pun melepas kalimat, “Sudah ya, jangan banyak-banyak, isi cangkir hanya tinggal ampas kopi, hadir saja di haul Beliau besok.”[Yazid]

Continue Reading

Berita

Sesaat bersama Syaikh Adnan al-Afyuni

Published

on

Syaikh Adnan

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Allah memanggil beliau dengan cepat. Kita semua tersentak dengan kejadian bom mobil yang merenggut jiwa beliau. Syaikh Adnan adalah seorang mufti agung yang tak lelah mengusung ide-ide washatiyah. Kita semua tentu merasa kehilangan.

Syaikh Muhammad Adnan al-Afyuni dilahirkan di Damaskus, Syiria pada 1954. Beliau menyelesaikan program magisternya di Universitas Omdurman Syiria. Beliau adalah seorang ulama yang aktif berdakwah di berbagai negara untuk membawa misi perdamaian dunia, termasuk baru-baru ini mengunjungi Indonesia dengan misi yang sama. Kini menjabat sebagai ketua dewan rekonsiliasi nasional Syiria sekaligus Mufti agung Damaskus. Selain itu beliau juga dipercaya untuk memimpin lembaga kajian Syaikh Kuftaro, Syiria.

Berikut beberapa petik kenangan bersama beliau.

Syaikh Adnan
Syaikh Adnan
Syaikh Adnan
Syaikh Adnan

Foto-foto koleksi Syaroni As-Samfuriy.[Af]

Baca juga: Seruan Shalat Ghaib, Sosok Sufi yang dekat dengan Indonesia

Continue Reading

Nasional

Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Mata Cucunya

Sebelum kewafatan guru kami al-Maghfurlah KH. Mahmad Bin KH. Baidlowi Asro, kami bertiga sowan untuk meminta wejangan dan doa, karena kami akan pulang ke rumah alias boyong.

Published

on

Adab

Kami di ndalem beliau, tepatnya di depan pondok pesantren Tebuireng. Kami duduk mulai dari ba’da Maghrib hingga jam 9 malam, dengan ditemani Bu Nyai. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang notabenya masih kakek beliau. Yang Nasabnya beliau Gus Mahmad, putra dari KH. Baidlowi Asro yang menikah dengan putri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Bu Nyai Aisyah  dari pasangan Kyai Hasyim dengan Bu Nyai Nafiqoh.

Gus Mahmad menjumpai Yai Hasyim lumayan lama, karena ketika wafatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada bulan Ramadhan, beliau sedang menjalani liburan kenaikan dari sifir awal ke sifir tsani di madrasah Salafiyah Syafiyah Tebuireng, dan saat itu madrasah Salafiyah Syafiyah memiliki dua jenjang, sifir awal dan sifir tsani, dan setiap Sifir tersebut ditempuh selama 4 tahun. Jadi masa belajar di Madrasah Tebuireng 8 tahun, dan model madrasah seperti ini masih di terapkan di pondok Ploso kediri. Perkiraan umur Gus Mahmad saat wafatnya kakeknya Yai Hasyim Asy’ari, berumur 15 tahum. Jadi beliau banyak muasyaroh dan tatap muka dengan kakeknya yaitu Kyai Hasyim. Seperti biasa welas asih kakek kepada cucunya luar biasa welasnya. Beliau menceritakan bahwasanya setiap pagi Hadratussyaikh keluar rumah untuk nyambangi putra putrinya, yang rumahnya tersebar di sekeliling pondok. Tak terlewatkan Gus Mahmad yang masih kecil juga ikut di sambangi oleh Hadratussyaikh. Beliau juga bertutur, tak hanya di sambangi saja oleh Hadratussyaikh, tapi juga didoakan dan terkadang disangoni.

Hasyim Asy'ari
al-Maghfurlah KH. Mahmad Bin KH. Baidlowi Asro

Kyai Hasyim bukan hanya seorang kyai yang membaca kitab kuning, tetapi kyai Hasyim itu juga seorang pejuang, mujahid, dan orang kaya yang dermawan. Kyai Hasyim setiap hari selasa meliburkan pengajian di pondoknya, guna mengurus sawah yang berhektar-hektar. Dengan hasil sawah inilah Yai Hasyim bisa berjuang mendirikan pondok, karena berjuang tidak hanya dengan ucapan manis saja tapi harus berani berkorban, dengan kekayaan Yai Hasyim lah beliau berani menentang belanda. Gus Mahmad juga bercerita bahwa Yai Hasyim itu satu satunya orang di diwek yang mempunyai mobil, padahal saat itu bos pabrik gula Cukir belum punya. Hal ini membuktikan bahwa Yai Hasyim sangat lah orang yang diatas cukup. Harga mobil saat itu sangat mahal sekali, tetapi Yai Hasyim mampu untuk membelinya. Yai Hasyim membeli mobil tidak untuk foya-foya dan pamer kekayaan tetapi untuk berjuang. Dengan mobilnya itulah Yai Hasyim bisa bolak-balik Surabaya Jombang dengan mudah, guna untuk memperjuangkan NU, yang saat itu kantor utamanya di Surabaya atau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan sopir Yai Hasyim tak lain adalah putranya sendiri yaitu Gus Wahid, ayahanda dari Gus Dur.

Tetapi Yai Hasyim tidak sombong dengan kekayaannya, tapi Yai Hasyim sangatlah dermawan. Pernah diceritakan dari santri Hadratussyaikh KH. Hasyim, yaitu Allah yarham KH. Mansur Djailani; seperti biasa setiap Ramadhan Yai Hasyim membaca kitab sohihain yakni, sohih bukhori dan muslim. Kedua kitab itulah yang diistiqomahkan Yai Hasyim saat kilatan di bulan Ramadhan, karena dua  kitab tersebut kitab yang paling sohih setelah Al-Qur’an. Pembacaan kedua kitab dimulai dari awal Rajab dan dikhatamankan pada tanggal 29 Ramadhan. Dan pada tanggal itulah Yai Hasyim memberikan sanad kitab Bukhori dan Muslim, yang muttasil sampai muallifnya. Sanadnya ditulis dengan kapur di papan tulis sampai tiga papan tulis, karena pada zaman itu belum ada foto copy, jadinya di tulis di papan tulis. Dengan mepetnya waktu khataman dengan Idul Fitri, ada sebagian santri yang pulang, ada yang tidak pulang bertahan di pondok. Dan menurut Yai Mansur, santri yang ingin pulang tetapi tidak mempunyai ongkos pulang, disangoni Yai Hasyim untuk bekal pulang. Dan santri yang tidak pulang makannya ditanggung Yai Hasyim. Ini menunjukkan sifat kedermawanan dan perhatiannya beliau terhadap santrinya.

Dan ada kisah yang diceritakan Gus Mahmad, bahwa Yai Hasyim sangat peduli dengan tetangga sekitar dalam hal sosial-ekonomi. Seperti yang diceritakn di atas, setiap pagi Yai Hasyim keluar mengunjungi putra putrinya. Dan saat itu ada tetangga pondok berjualan sayur sayuran di depan pondok, sekarang yang ditempati warung nasi Cianjur, tak lain ibu yang berjualan sayur adalah nenek dari pemilik warung Ciganjur. Dan saat Yai Hasyim berjalan-jalan di depan pondok, Yai melihat ada sesuatu yang janggal. Yang biasanya ada yg berjualan di depan pondok tiba-tiba kok tidak berjualan. Yai Hasyim penasaran dengan hal itu, beliau bertanya kepada yang bersangkutan. Dan jawaban dari ibu tersebut; saya tidak berjualan lagi karena modal saya habis. Langsung seketika itu Yai Hasyim memberikan modal untuk meneruskan dagangannya. Dari itu Yai Hasyim sangat memperhatikan ekonomi tetangganya.

Jadi kewibaan Hadratussyaikh itu berasal dari kealimannya beliau, sehingga dijuluki ‘Hadratussyaikh’ yang berarti Maha Guru, dan juga dengan kekayaannya. Gus Mahmad juga bercerita, bahwa Kyai Hasyim juga sering diskusi dengan ayahnya, yaitu KH. Baidlowi Asro, yang notabenya alumni Al Azhar Mesir dan juga menantu beliau.  Yai Hasyim mendatangi ke rumah menantunya untuk diskusi, dan Gus Mahmad sering diperintahkan Ayahnya, ketika berdiskusi dengan Yai Hasyim, untuk mengambil kitab di rak lemari. Dan menantu Yai Hasyim ini juga sering Mbadali Yai Hasyim ketika berhalangan mengajar sebab sakit. KH. Baidlowi juga pernah menjadi pengasuh ke 4 pesantren Tebuireng, hal ini jarang terjadi di lingkungan pesantren, menantu bisa menduduki jabatan pengasuh pesantren, karena biasanya yang menjadi pengasuh itu putra-putranya.

Inilah yang kami dapatkan dari sowan Gus Mahmad. Setelah sowan, sekitar satu bulan setelahnya, tepatnya 22 Mei 2017, Beliau Gus Mahmad dipanggil oleh Allah, setelah subuh. Semoga Allah mencurahkan Rahmat kepada beliau dan mengampuni seluruh dosanya. Lahu Al fatihah. Pesan beliau kepada kami “Ngelanjutin kemanapun sama saja,  yang terpenting adalah kesungguhan dan ketekunan dalam menuntut ilmu.”

Wallahu A’lam. [M. Ilham Zidal Haq/M. Alvin Jauhari (Santri Tebuireng)]

Baca Juga: Habib Luthfi Masuk 50 Muslim Berpengaruh 2021, Posisinya Naik ke Peringkat 32

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending