Halalbihalal DMI: Kembali kepada Prinsip Islam Washatiyah

0

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin menjadi pembicara kunci (Keynote Speaker) dalam acara Milad ke-47 Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl. Jend. Sudirman Kav. 86, Karet Tengsin, Jakarta Pusat (17/7).

Sebelumnya Ketua PBNU, KH. Abdul Manan Abdul Ghani menyampaikan bahwa Masjid mesti menjadi tempat menyebarkan ajaran Islam yang washatiyah dan rahmatan lil’alamin karena masjid tempat merajut perdamaian.

“Selamat Milad kepada DMI,” ucap Wakil Presiden RI terpilih 2019-2024 mengawali paparannya dalam acara bertajuk Halalbihalal dan Seminar Sehari.

Kiai Ma’ruf menuturkan bahwa Minal Aidin artinya kembali. Kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Kullu mauludin yuladu alal fitrah. Cicit Syaikh Nawawi Al Jawi tersebut melanjutkan bahwa sebagai bangsa kita kembali kepada jatidiri bangsa. Sedangkan sebagai umat Islam, kembali kepada keislaman yang rahmatan lil’alamin. Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin.

Islam washatiyah Islam moderat tambah Kiai Ma’ruf, ialah cara berfikir dan gerakan yang tawasshutiyan. Dalam arti tidak tekstualis dan tidak liberal. Sebab syariah ada yang Manshushah dan Ijtihadiyah, bahkan sebagian besar syariah itu ijtihad. Alasannya karena manshus itu terbatas dan kasus terus berkembang. Sedangkan penafsiran terhadap nushus juga tidak boleh melampaui batasan-batasan (hudud).

Lebih lanjut, bahwa Islam rahmatan lil’alamin itu tidak rigid, tidak galak, tidak tasyaddud tapi tidak juga tasahul atau senantiasa mencari yang mudah-mudah saja (tatabbu’urrukhsah).

“Sebenarnya mudah itu boleh istilahnya at taisir, tetapi tidak boleh al mubalaghah fittaisir (berlebihan dalam mencari kemudahan),” imbuhnya.

Islam rahmatan lil’alamin juga dinamis tidak statis sehingga perlu ada inovasi dan terobosan-terobosan. Gerakan-gerakan yang washatiyah juga menurutnya berpegang pada ishlahiyah (reformatif), tasamuh (toleransi), manhajiyah (metodologis), tathawwuriyah (dinamis).

“Gerakannya juga washatiyah Ishlahiyan, Layyinan (lemah lembut) la fadzzan wala ghalizan (tidak bersikap kasar dan berhati keras), tathawwuiyyah yakni dengan sukarela bukan paksaan bukan teror dan intimidasi. Tasamuh, toleran tidak ego dan tidak fanatik,” sambung Kiai Ma’ruf.

Selanjutnya, Islam kita adalah yang bisa menerima kehadiran NKRI. “Indonesia berkita kita bukan satu kita,” singkatnya.

Karena kita majemuk maka landasannya adalah Pancasila sebagai titik temu, kalimatun sawa, ittifaqat. Inilah negara kesepakatan. Kiai Ma’ruf menyebut Indonesia sebagai darul mitsaq. Islam Kaaffah ma’al mitsaq.

Ulama asal Banten tersebut juga mengajak melestarikan peninggalan ulama yang telah membangun 3 ukhuwah, ukhwah islamiyah, ukhwah wathaniyah, dan ukhwah insaniyah.

“Islam yang membangun mawaddah dan rahmah. Mari kita kembali kepada mabda prinsip ciri-ciri Islam washatiyah,” pungkas beliau. (eep)

Comments
Loading...