Hakikat Bersyukur

0

Habib Luthfi ingatkan bahwa lewat makan bisa bertambah ma’rifat kita kepada Allah. Pada jum’at, 7 September 2018, Maulana Habib Luthfi kembali menyampaikan nasehat untuk para murid dan jamaahnya dalam zikir dan pengajian rutin “Jum’at Kliwon” di gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan, Jawa Tengah.

Beliau menyampaikan bahwa ucapan terima kasih itu sangat mudah dalam pengucapan, tapi sejatinya syukur itu dituntut untuk kenal pada Yang memberi kenikmatan. Bersyukur yang pertama itu atas nikmat iman dan islam, bersyukur atas kenikmatan diberi agama oleh Allah melalui utusan Allah sebagai washitah atau perantara mengerti dan mengenal Allah, tidak cukup hanya mengerti. Bila kita sudah kenal kepada yang memberi kenikmatan, maka pasti kita akan menjaga hubungan dengan yang kita kenal, dan akan tumbuh sifat ketakutan kalau putus hubungan dengan yang dikenal yaitu Allah Swt.

“Dengan makan itu untuk menemukan si pemberi kenyang, bukan mencari kenyang.” Demikian ungkap beliau. Sehingga kenikmatan ialah perantara kita untuk mengenal Allah. Maka begitu makan tauhid dan ma’rifatnya akan muncul. Diantaranya dengan berniat “bahwa saya makan ini untuk menjadi nutrisi dan tumbuh menjadi bagian tubuh yang mudah untuk diajak beribadah?” sangat berbeda dengan yang masih awam, bahwa “saya makan itu untuk mencari kenyang” hanya sebatas itu dan dengan kenyang itu berucap alhamdulillah.

Saat makan kita bertafakkur bahwa satu butir nasi kalau sampai jatuh bagaimana, padahal satu butir ini melalui proses yang panjang, mulai dari mencangkul dan membajak tanah, menebar benih, menanam, memanen dan banyak yang ikut andil. Sehingga kalau kita kenal satu butir nasi kita akan begitu menghargai atas pemberian-Nya menjadi rezeki kita. “Maka niatnya saja menjadi ibadah karena sudah berbentuk zikir.” Itu hebatnya orang yang makan dengan tujuan mengenal yang memberi kenyang, maka begitu makan ma’rifatnya timbul.

“Bisa gak ma’rifat kita bertambah saat kita makan?” gugah beliau.

Ingat kalau kita tidak makan diri lemah tak berdaya, maka dimana tempat kesombongan bila sudah demikian. Bisakah kita membagi dan mengurai kandungan dan zat di dalam tubuh masing masing menjadi zat besi, karbohidrat, sel darah merah dsb. “Gak makan lemesnya seperti ini” maka dengan ingat hal tersebut kita semakin ingat akan kelemahan kita, dan “semakin ingat lemahnya kita maka ketergantungannya kepada Allah semakin kuat.” Pungkas beliau menutup tausiyah.

Ditulis ulang oleh: Ust. Saepuloh

Comments
Loading...