Hakikat Berpuasa

Ramadhan datang, sudah sepatutnya semua menyambutnya dengan persiapan dan hati yang senang. Salah satu persiapan itu ialah memasang niat yang merupakan kunci sukses atau tidaknya suatu ibadah.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى،

“Sesungguhnya amal ibadah itu ditentukan sesuai niatnya dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkankannya.” (HR. Imam Bukhari).

Hakikat Puasa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “.

Dari Abu Hurairah Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang berpuasa karena iman dan ikhlas akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau (HR. Imam Bukhari).

Berpuasa itu sejatinya untuk taqarrub kepada Allah Swt, mendekatkan diri pada-Nya. Untuk mendekatkan diri ini kata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’ ada syaratnya dan syaratnya itu adalah niat. Hanya dengan niat akan ada kedekatan (qurbah) dengan Allah Swt.

Karena siapa yang mendekatkan diri pada Allah, Allah juga akan dekat padanya. Siapa yang ingat Allah, Allah akan ingat padanya.

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku, Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam nafs-Ku, jika dia mengingat atau menyebutku di satu tempat, aku menyebut-Nya di tempat yang lebih baik darinya.

Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sejengkal, maka aku mendekat padanya sehasta. Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat padanya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, Ku mendatangi dengan berlari.” (HR. Bukhari).

Ganjaran Orang Berpuasa

Siapa yang berpuasa dalam keadaan iman (imanan), yakni meyakini dalam qalbu fardhunya puasa dan berharap pahala dari Allah (ihtisaban) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Ihtisab juga maknanya menurut Al Khitabi ialah ‘azimah yaitu ketetapan hati, kemauan kuat dan tekad yang bulat. Yakni betul betul mengharapkan ganjaran dari Allah sehingga menjaga betul diri senantiasa dalam keadaan baik.

Selain itu ihtisab juga berarti tidak merasa berat, apalagi sampai mengeluhkan panjangnya lama berpuasa. Orang yang ihtisaban ini tidak semata mata berpuasa menunggu waktu berbuka. Sehingga merasakan lamanya waktu puasa.

Orang yang demikian itulah, yang berpuasa karena iman dan ihtisaban yang akan mendapatkan ganjaran ampunan Allah bagi dosa-dosanya yang telah lampau.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...