Habib Umar Muthohar: Perlukah Kita Berthariqah? (Bagian 1)

Dalam wawancara bersama warta thariqah, Habib Umar Muthahhar melihat sebagian orang begitu mendengar kata thariqah atau tarekat itu menjadi gamang karena membayangkan wiridan yang banyak sekali, mujahadah, berpuasa. Walau demikian, Habib Umar memang mengkonfirmasi bahwa hal tersebut menjadi bagian dari tarekat.

Tarekat secara sederhana itu berarti jalan. Jalan menuju keridhaan Allah Swt. Jalan supaya mendapatkan rahmat Allah. Jalan yang mengantar kita betul-betul sebagai hamba Allah. Tarekat yang berarti jalan itu bisa bermacam-macam.

Dalam Al Quran, perintah bertarekat itu ada dalam Surat Luqman, Ayat 15,

وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

…ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Ikuti jalan mereka yang kembali pada Allah. Mereka itulah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi teladan bagi umat. Yang dimunculkan oleh Allah perjuangannya, mujahadahnya, karamahnya. Maka muncullah tarekat-tarekat.

Ada tarekat Syadziliyah oleh Syekh Abul Hasan As Syadzily, ada tarekat Qadiriyah oleh Syekh Abdul Qadir Al Jilani, ada tarekat ‘Alawiyah oleh Syekh Al Faqih Muqaddam, Syekh Muhammad bin Ali Ba’alawi. Tarekat itu sederhananya mengikuti jalan orang-orang tersebut di atas.

Tarekat juga, kata Plt Mudir Aam JATMAN ini bisa dimaknai sebagai metode. Bagaimana cara atau metode Syekh Abul Hasan As Syadzily dan Syekh Abdul Qadir Al Jailani menjadi hamba Allah yang ‘sempurna’. Yang dalam pandangan umum sangat istimewa sekali. Mereka inilah yang diikuti sehingga disebut sebagai tarekat atau thariqah.

Habib Umar menilai bahwa bertarekat itu berarti menjalankan ajaran agama sehingga tetap harus berada dalam koridornya.

Lalu, ia juga menyampaikan hal-hal yang membuat orang enggan dan belum bertarekat. Misalnya, ada ungkapan bertarekat harus usia 40 tahun terlebih dahulu. Justru hal tersebut menurut Habib Umar tidak ada dasarnya. Bahkan, menurutnya jika perlu orang mulai bertarekat sejak memasuki usia baligh.

Orang tidak perlu khawatir berlebihan, karena apa-apa yang ada dalam rutinitas tarekat juga biasa ditemukan dalam keseharian. Misalnya membaca wirid ba’da shalat laa ilaha illa Allah dan istighfar, lalu melaksanakan shalat sunnah seperti dhuha, membaca Al Qur’an serta doa. Namun memang dalam tarekat amalan demikian ditekankan untuk dilaksanakan.

Jadi bertarekat bukan berarti mengamalkan sesuatu yang asing dalam agama. Karena tarekat bukan berdiri di luar koridor agama, dan ini yang disalah pahami mengenai tarekat. Kalaupun ada kelompok yang perilakunya keluar dari koridor agama, maka tidak bisa dikatakan sebagai tarekat mu’tabarah.

“Karena tarekat mu’tabarah itu sudah diteliti baik itu ajaran maupun sanad keilmuannya itu sampai kepada Rasulullah Saw,” jelas pengasuh pondok pesantren Al Madinah, Gunungpati, Semarang itu.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...