Habib Umar Muthohar: Perlukah Istikharah Sebelum Bertarekat? (Bagian 3)

Dalam lanjutan wawancara bersama Plt Mudir Aam JATMAN Habib Umar Muthohar, ada sebuah pertanyaan.

Langkah awal apa yang mesti dilakukan ketika masuk tarekat?

Semua tarekat diawali memasuki pintu taubat. Marhalah (tingkat) pertama perjalanan salik itu adalah taubat. Karena kita menuju Allah yang Maha Suci, maka setidaknya kita memohon ampun dari dosa di masa lalu. Sambil menjaga dan berhati-hati agar tak terjerumus dalam kubangan dosa.

Maka siapakah yang berniat untuk bertarekat, Habib Umar menyarankan agar ia beristikharah. Dengan memohon petunjuk itulah, ia minta ditunjukkan, “aku hendak berjalan melalui jalan tarekat ini, maka tunjukkanlah aku tarekat mana yang pas atau cocok denganku”.

Karena, setiap tarekat itu punya metode yang bisa jadi pas atau tidak untuk si fulan. Tarekat ini cocok untuk si A, tarekat ini pas untuk si B misalnya. Seperti halnya metode belajar bagi mahasiswa yang tidak sama satu sama lain.

Qalbu sebagaimana maknanya bisa turun naik, demikian juga dalam bertarekat. Bagaimana cara mengatasinya?

Habib Umar menilai bahwa ibarat handphone, hampir manusia semua mengalaminya. Namun, perlu dikenali apa penyebabnya. Ada yang men-charge-nya dalam majelis atau dengan cara sowan (menghadap) kepada guru, ada juga yang ziarah ke makam wali, ada juga yang melalui tafakkur melihat alam raya. Ia mengingatkan lowbatt itu akan dialami oleh setiap orang. Maka perlu mencari tahu daya-daya untuk mengisinya kembali.

Foto: Markus Spiske.

Untuk orang yang belum bertarekat jangan sampai takut lowbatt, karena akhirnya tidak memilih bertarekat.

“Sama seperti orang yang beranggapan, saya mau bertarekat, saya mau shalat, saya mau haji nanti kalau sudah suci. Bisa-bisa sebelum suci sudah disucikan, sudah dishalatkan,” paparnya.

Justru dengan bertarekat, orang itu mulai bertaubat dengan bimbingan guru. Berdzikir, menjalankan kewajiban dan menghidupkan sunah Nabi. Itu semua untuk membersihkan diri, karena dengan bertarekat seseorang mendapatkan metode penyucian diri.

Beliau mengingatkan kembali untuk jangan ragu berthariqah.

“Mau thariqah apapun yang penting mu’tabarah (terakreditasi). Tarekat mu’tabarah ini sudah diperiksa hal ihwalnya termasuk syari’at itu ‘beres’. Karena jangan sampai bertarekat tapi amaliah syariatnya terbengkalai. Maka itu ada JATMAN sebagai jam’iyah atau asosiasi pengamal tarekat yang mu’tabarah yang sanad dan ajarannya insya Allah benar,” pungkasnya.

Tarekat ini jalan mulia semua, jika perlu selepas baligh bertarekat. Untuk itu, sekali lagi beliau mengutip Surat Luqman, Ayat 15,

وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Tamat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...