Habib Umar Muthohar: Bertarekat Harus Baik kepada Semuanya

Dalam acara Silaturahmi Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) Indonesia yang digelar secara online pada Ahad 28/6, Habib Umar Muthohar menyampaikan bahwa bertarekat itu harus baik kepada semua.

Menurutnya, orang saleh itu ukurannya, memiliki hubungan baik kepada Allah, juga kepada sesama makhluk Allah, bahkan terhadap hewan sekalipun.

Habib Muthohar lalu menggambarkannya dengan sebuah kisah tentang sikap baik seorang waliullah bernama Syekh Yaqut Al-Arsy, ulama sufi yang wafat di Iskandaria, Mesir.

Suatu hari datang kepadanya seekor burung kecil meminta pertolongan. Burung tersebut menceritakan kepada Syekh, bahwa ia memiliki sarang di sebuah masjid di Kairo. Sarang tersebut kerap diganggu oleh salah satu pengurus masjid.

Mendengar keluhan itu, Syekh Yaqut segera menghentikan aktivitas zikirnya. Lalu ia pun bergegas menuju Kairo. Padahal jarak Iskandaria-Kairo jika ditempuh dengan mobil saja memakan waktu sekitar tiga jam. Sementara waktu itu belum ada mobil.

Di Kairo, Syekh menemui pengurus masjid dimaksud dan segera memeriksa keberadaan sarang burung itu. Ia pun meminta kepada pengurus masjid agar tidak lagi mengganggu kehidupan burung yang bersarang di tempat itu.

“Jadi, salat fardu, salat sunah, puasa boleh hebat, tapi dalam kehidupan masyarakat juga harus baik,” pesan Habib Muthohar pada acara bertajuk “Jalan Cinta para Salik” itu.

Oleh sebab itu menurutnya, seorang salik tidak boleh melihat orang yang bermakisat dengan mata kebencian, tapi harus dengan mata cinta.

Sementara itu, Habib Syaikh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau biasa dipanggil Habib Puang Makka yang turut menjadi pemicara, menyampaikan bahwa anak-anak muda yang masuk ke dunia tarekat harus terus mengasah pengetahuan batin, akal dan hatinya untuk berada pada ahwal (keadaan) mahabbah kepada Allah.

Menurut Habib Puang Makka, saat ini diskusi, perbincangan soal tarekat atau sufistik mulai semarak di kalangan anak muda. Hanya saja, sebagian mereka ada yang maunya instan. Misalnya, bertarekat tanpa guru atau mursyid.

“Saya cendurung husnuzan melihat fenomena ini. Biarkan saja, nanti perlahan-lahan kita perbaiki pemahamannya. Inilah tugas besar kita, agar bisa dengan bijak menyentuh mereka dengan hati,” kata Habib Puang Makka.

Namun, Habib Puang Makka mengingatkan kepada anak-anak muda, bahwa tidak ada jalan untuk bertarekat secara instan, apalagi bertarekat tanpa guru atau mursyid.

Tarekat untuk Anak Muda

Habib Umar Muthohar mencoba meluruskan anggapan bahwa bertarekat itu seolah-olah hanya untuk kalangan orang tua. Padahal, sejak mukallaf atau usia baligh seseorang seharusnya menempuh jalan tarekat.

Allah berfirman, “Waattabi’ sabiila man anaaba ilayya …”

“…. dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku…,” QS: Luqman: 15)

Artinya, mengikuti tarekat (thariqah) adalah mengikuti jejak atau tuntunan Rasulullah Saw. Karena itu, anak muda harus mengikuti jalan thariqah.

Rasulullah Saw pun demikian, sejak usia muda beliau sudah dipercaya oleh masyarakat Quraisy sebagai orang yang amanah, makanya beliau dijuluki al-Amin.

“Menjalani kemudaan (masa muda) yang baik, itu artinya berthariqah,” tegasnya.

Namun memang, butuh kedewasaan dan kematangan ketika memilih bertarekat dalam arti tarekat mu’tabarah seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, dan lain-lain.

Komentar
Loading...