Habib Umar Muthohar: Benarkah Amalan Tarekat Itu Berat? (Bagian 2)

Dalam wawancara bersama Plt Mudir Aam JATMAN Habib Umar Muthohar muncul pertanyaan.

Bolehkah mereka yang belum berbaiat tarekat bergabung dengan majelis pengamal tarekat?

Habib Umar mengatakan bahwa tidak ada salahnya hadir di majelis dzikir atau shalawat yang diadakan oleh mursyid thariqah seperti majelis maulid atau manaqib. Bahkan itu lebih baik karena littabarruk (untuk memperoleh keberkahan).

Tetapi memang ada amalan tertentu yang ditunjukkan khusus oleh guru Mursyid bagi mereka yang sudah masuk dalam thariqah. Sehingga orang yang belum bertarekat bisa bergabung dengan majelis-majelis pengamal tarekat yang memang dibuka secara umum.

Plt Mudir Aam JATMAN itu menjelaskan bahwa baiat itu diambil janji, supaya orang tersebut menjalani jalan (tarekat) ini. Menurutnya, dengan berbaiat akan ada dorongan sebagai penguat tekadnya.

“Jika tidak ada baiat mungkin merasa berat sedikit, udah lah gak usah,” kata Habib.

Karena Habib Umar menilai apabila orang sudah berbaiat thariqah atau mengambil janji, betapapun dirasa beratnya akan ada tekad untuk melaksanakannya.

Namun bukan berarti bertarekat itu berat. Ini anggapan yang keliru dan terburu-buru. Dalam tarekat tertentu, memang diakui ada titik-titik atau tingkatan bagi orang tertentu yang amalannya dirasa cukup berat bagi orang awam. Misalnya berdzikir hingga ribuan kali, namun sekali lagi porsi ini diberikan kepada mereka yang dianggap mampu melaksanakannya. Bukan untuk pemula atau yang belum bertarekat.

Manfaat bertarekat secara umum itu seperti apa?

Dengan bertarekat, seseorang akan merasa memiliki guru yang membimbing dan mengawasi secara ruhaniah maupun secara kasat mata (lahiriah).

Hal ini akan membuat kita lebih berhati-hati. Guru inilah yang menggandeng kita untuk sampai kepada kedudukan hamba Allah yang sesungguhnya.

Namun, Habib menegaskan bahwa bukan juga berarti murid diperintah untu mengabdi kepada guru, tidak. Tetapi guru ini melatih, mengajak dan membimbing muridnya dengan dzikir, wirid, serta dengan arahan dan bimbingannya agar murid (salik) menjadi benar-benar hamba-Nya Allah.

Lalu dengan adanya petunjuk guru, murid dilatihkan agar bisa selalu semangat dalam beribadah.

Mindset mereka yang belum bertarekat ialah masuk tarekat itu akan memberatkan. Karena ada amalan yang harus diamalkan dan dalam penilaian orang awam itu dianggap berat?

Menurut Habib Umar, sebetulnya berat itu kan persepsi orang. Dalam tarekat sendiri amalan dzikir itu bukan untuk memberatkan seseorang tapi untuk melatih diri untuk selalu mengingat Allah Swt, di samping hal itu juga tak sesuai dengan karakteristik ajaran Islam.

Karena, kata Habib Umar, amalan wirid dalam tarekat itu pada awalnya ialah untuk membentuk kebiasaan. Sehingga ketika sudah terbiasa semua terasa ringan. Keterbiasaan inilah yang mungkin dianggap orang di luar tarekat adalah hal yang berat.

Beliau mencontohkan, seperti layaknya orang hamil itu secara bertahap tidak langsung besar. Tapi dari pekan ke pekan, bulan ke bulan. Jadi, tidak mungkin amalan tarekat itu untuk menyusahkan atau memberatkan, karena ada tahap dan tingkatannya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...