Habib Puang Makka, Mursyid ke-12 Tarekat Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary

0

Al-Habib Syaikh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka (selanjutnya disebut Habib Puang Makka), lahir di Makassar, 14 September 1960. Adalah mursyid ke-12 Tarekat Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary pelanjut mursyid ke-11 mendiang ayahnya Allahu yarham al-Habib KHS Jamaluddin Assegaf Puang Ramma yang wafat Jum’at 15 Sya’ban 1427 H/8 September 2006 M.

Sebelum wafat, Habib Puang Ramma memang telah membaiat tarekat anak-anaknya dan mengukuhkan mereka serta beberapa murid pilihannya menjadi khalifah sebagai bakal mursyid untuk melanjutkan tarekat yang diwarisinya. Khusus anak bungsunya, Habib Puang Makka dibaiat dan diberi jazah tarekat tahun 1980.

Lima tahun setelah baiat, yakni sejak 1985, Puang Makka mengembara ke Pulau Jawa untuk memperdalam ilmu tarekat dan mengasah kesufiannya atas rekomendasi mendiang ayahnya. Guru sekaligus ulama tarekat sebagai tempat belajar dalam pengembaraannya itu, adalah Habib Husein al-Habsy di Probolinggo, Kraksaan. Kemudian mendapat rekomendasi untuk memperdalam lagi ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan. Juga kepada Habib Husen Assegaf di Gresik, dan KH. Mujni di Purwokerto.

Selain yang telah disebutkan di atas, beberapa ulama lainnya di Jawa yang dijadikan tempat tabarruk dan dari ulama itu Habib Puang Makka memperoleh ijazah tarekat, adalah KH. Mufid Mas’ud di Pandanaran, KH. Lutfi Hakim di Meranggen Demak, KH. Dimyati di Tasik, K.H. Latifi Bedawi di Kodong Legi Malang, KH. Abd. Karim di Porodadi, KH. Abd. Majid di Probolinggo.

Sambil tabarrukan dan menerima ijazah tarekat dari beberapa ulama seperti yang disebutkan, Puang Makka juga nyantri di Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya Selatan Kebun Jeruk, yang diasuh KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Sambil nyantri, Habib Puang Makka intens mengikuti pengajian tasawuf pada Prof. Dr. Buya Hamka dan Dr. KH. Idham Khalid di Jakarta.

Selanjutnya selama dua tahun, 1987-1989, Puang Makka kembali memperdalam ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan, dan pada tahun 1989-1992 karena aktif sebagai salah satu unsur Ketua Dewan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor (DPP GP Ansor), maka Habib Puang Makka pindah ke Jakarta, namun dalam setiap waktu luangnya mengunjungi sang guru di Pekalongan Jawa Tengah.

Habib Puang Makka kemudian kembali ke Makassar pada pertengahan tahun 1993 dan memperdalam ilmu tasawufnya di hadapan abahnya, mendiang Allahu yarham Habib Puang Ramma, juga kepada dua ulama tarekat, yakni Habib Thahir Assegaf dan KH. Muhammad Nur Nashirur Sunnah.

Tibalah saatnya Habib Puang Makka dibaiat menjadi khalifah pada tahun 2002, dan sejak itu Habib Puang Makka mendapat amanah untuk membaiat jamaah di Parangloe Gowa mewakili ayahnya, Habib Puang Ramma. Sebagai khalifah, Habib Puang Makka senantiasa mendampingi ayahnya dalam berbagai kegiatan tarekat dan kegiatan lainnya terutama dalam berdakwah dan mengisi pengajian atau halaqah lainnya. Tahun 2005, atau setahun sebelum wafatnya mendiang sang ayah, Allahu yarham Habib Puang Ramma membaiat anaknya, Habib Puang Makka menjadi mursyid Tarekat Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassariy.

Sejak menjadi mursyid, Habib Puang Makka mewakafkan waktunya, full time melayani jamaah, bahkan seringkali dikunjungi oleh banyak kalangan, tidak terkecuali pejabat, pengusaha dan politisi yang datang meminta restu sekaligus doa keberkahan. Sehingga jam istirahatnya sangat sedikit karena hampir setiap malamnya hanya tidur dua jam. Sebagai Mursyid, Habib Puang Makka sesaat setelah melayani jamaah dan tetamunya, ia kembali disibukan beribadah dan mengamalkan kewajiban zikir tarekat di tengah malam sembari menunggu masuknya waktu subuh.

Sebagai mursyid yang memiliki insting kuat, hati yang bersih dan dengan melalui istikharahnya, maka Habib Puang Makka mengadakan perubahan positif di internal Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary, yakni dengan menjadikan tarekat ini pada amaliah neo sufisme sehingga berinisiatif menghimpun jamaah dan simpatisannya dalam wadah Jam’iyah sebagai ormas Islam yang selain konsen pada amalan tarekat juga fokus pada amaliah sosial dan kemasyarakatan. Melalui Jam’iyah, atau lebih lengkapnya adalah Jam’iyah Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary yang didirikan sejak tahun 2006, menjadikan jamaah lebih dekat mursyidnya, jamaah tidak mengkultuskan mursyid tetapi tetap menghargai dan menghormatinya.

Di Jam’iyah, secara rutin dilaksanakan dialog, diskusi, kajian dan pengajian pendalaman tasawuf yang tidak saja terbatas bagi jamaahnya, tetapi terbuka untuk secara umum untuk seluruh masyarakat. Dalam waktu-waktu tertentu, Habib Puang Makka membawa jamaahnya ke luar kota, misalnya di Kepulauan Pangkep dan pengunungan Parangloe Gowa untuk berkhalwat dan mengadakan suluk.

Selain kesibukannya di Makassar, Puang Makka sampai saat ini masih sering ke Jawa dalam rangka tabarruk kepada gurunya, Maulana Habib Muhammad Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Aam Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Multabarah al-Nahdliyyah (JATMAN), yang juga sebagai tokoh sufi al-‘alamiy, ulama sufi internasional. Dari sang guru inilah Habib Puang Makka dibaiat Tarekat Syadziliyah dan dari sang gurunya itu, Habib Puang Makka diijazahkan surban seukuran 6 meter, demikian pula atas rekomendasi sang guru, Habib Puang Makka diberi amanah sebagai Rais Sadis Idarah Aliyah JATMAN.

Posisi Habib Puang Makka, baik sebagai mursyid maupun sebagai pengurus pusat JATMAN, memiliki jaringan yang luas. Di Makassar beliau juga aktif menjalin silaturahim dengan sesama tokoh/mursyid tarekat Khalwatiyah yang lain, Syaikh Sayyid Sirajuddin Assegaf Puang Liwang, Syaikh Sayyid Hasanuddin Assegaf Puang Tunru, Syaikh Sayyid Muhammad Rijal Assegaf Puang Awing.

Demikian pula, Habib Puang Makka menjalin hubungan erat dengan mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman, Syaikh Puang Rukka dan Syaikh Dr. H. Ruslan Wahab. Hal yang sama dilakukan semasa hidupnya mursyid Tarekat Syadziliyah, Allahu yarham Syaikh Mustamin Arsyad.

Intens juga silaturahim dengan pewaris Tarekat Qadiriyah, Syaikh Ilham Shaleh dan pelanjut tarekat Qadiriyah sepeninggal Allahu yarham AGH. KH. Sahabuddin, Syaikh Syibli Sahabuddin. Sebagaimana halnya Habib Puang Makka menjalin hubungan silaturahim dengan penuh keakraban dengan murid dan pelanjut tarekat Hakikatul al-Muhammadiyah, Allahu yarham AGH Harisah AS, yakni Dr. AGH KH. Baharuddin HS yang sekaligus sebagai Ketua MUI Makassar dan Wakil Rais JATMAN Sulawesi Selatan.

Bahkan tokoh tarekat dari luar negeri, seperti Syaikh Imam Adam Philander, cucu Syaikh Yusuf di Cap Town Afrika Selatan pernah datang khusus ke Habib Puang Makka untuk bersilaturahim membicarakan tentang pengembangan jamaah Khalwatiyah Syaikh Yusuf di sana. Dalam momen itulah Habib Puang Makka memperkenalkan sekaligus mengembangkan Jam’iyah di berbagai daerah, sehingga jamaahnya tersebar bukan saja di Sulawesi tetapi melebar sampai ke pelosok Pulau Jawa dan Kalimantan serta selainnya.

Jamaah Habib Puang Makka yang terhimpun dalam Jam’iyah Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassariy sesuai pengalaman masing-masing, merasakan ketenangan lahiriyah, kepuasan batin dikarenakan tausiahnya yang sejuk, dan fokus pada suluk ihsan secara istiqamah, konsen pada nilai-nilai zuhud, qana’ah serta maqam tasawuf lainnya yang lebih tinggi untuk sampai ke ma’rifat sembari lebih memaksimalkan ibadah sunat untuk kesempurnaan ibadah wajib.

Lebih dari itu, Habib Puang Makka dalam mengijazahkan wirid, doa, dan amalan lainnya kepada jamaah, terutama untuk ijazah talqin zikir dan baiat, selalu diawali dengan salat istikharah dan tafakkur. Sehingga terasa keberkahan apa saja yang diijazahkannya itu sebagai bekal hidup dunia akhirat. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa jamaah yang telah berbaiat darinya, senantiasa dinaunginya, melayani keperluannya dengan baik, memberikan solusi jika jamaah tersebut menghadapi problematika.

Pada intinya, Habib Puang Makka sebagai mursyid, lebih mengutamakan hubungan secara lahiriah dan batiniyah dengan jamaahnya, menghilangkan skat-skat hijab jarak dengan jama’ahnya sehingga antara mursyid dan jamaah melekat, tidak terpisahkan bagaikan dua sisi mata uang yang menyatu. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Oleh: Dr. Kiai Mahmud Suyuti (Ketua MATAN Sulsel)

Comments
Loading...